‘Abasa 1 – 10


ITAB YANG MERUPAKAN CINTA

Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas: “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Dia masuk ke dalam majlis dengan tangan meraba-raba. Sejenak sedang Rasulullah terhenti bicara orang buta itu memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut.

Setelah selesai semuanya itu dan beliau akan mulai kembali kepada ahlinya turunlah ayat ini: “Dia bermuka masam dan berpaling.”

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah SAW akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum beliau menunjukkan muka yang jernih berseri kepadanya dan kadang-kadang beliau katakan: “Hai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku.”

Ibnu Katsir pun meriwayatkan bahwa bukan saja Ibnu jarir dan Ibnu Abi Hatim yang membawakan riwayat ini, bahkan ada pula riwayat dari Urwah bin Zubair, Mujahid, Abu Malik dan Qatadah, dan Adh-Dhaahak dan Ibnu Zaid dan lain-lain; bahwa yang bermuka masam itu memang Rasulullah SAW sendiri dan orang buta itu memang Ibnu Ummi Maktum.

Ibnu Ummi Maktum itu pun adalah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal. Satu-satunya orang buta yang turut hijrah dengan Nabi ke Madinah. Satu-satunya orang buta yang dua tiga kali diangkat Rasulullah SAW menjadi wakilnya jadi Imam di Madinah kalau beliau bepergian. Ibu dari Ibnu Ummi Maktum itu adalah saudara kandung dari ibu yang melahirkan Siti Khadijah, isteri Rasulullah SAW. Dan setelah di Madinah, beliau pun menjadi salah seorang tukang azan yang diangkat Rasulullah Saw di samping Bilal.

“Dia bermuka masam dan berpaling.” (ayat 1). “Lantaran datang kepadanya orang buta itu.” (ayat 2).

“Padahal adakah yang memberitahumu boleh jadi dia akan jadi orang yang suci.” (ayat 3).

Dalam ketiga ayat ini ahli-ahli bahasa yang mendalami isi Al-Qur’an merasakan benar-benar betapa mulia dan tinggi susun bahasa wahyu itu dan Allah terhadap Rasul-Nya. Beliau disadarkan dengan halus supaya jangan sampai bermuka masam kepada orang yang datang bertanya; hendaklah bermuka manis terus, sehingga orang-orang yang tengah terdidik itu merasa bahwa dirinya dihargai. Pada ayat 1 dan 2 kita melihat bahwa kepada Rasulullah tidaklah dipakai bahasa berhadapan, misalnya: “Mengapa engkau bermuka masam, mentang-mentang yang datang itu orang buta?”

Dan tidak pula bersifat larangan: “Jangan engkau bermuka masam dan berpaling.” Karena dengan susunan kata larangan, teguran itu menjadi lebih keras. Tidak layak dilakukan kepada orang yang Allah sendiri menghormatinya!

Tidak! Allah tidak memakai perkataan yang demikian susunnya kepada Rasul-Nya. Melainkan dibahasakannya Rasul-Nya sebagai orang ketiga menurut ilmu pemakaian bahasa. Allah tidak mengatakan engkau melainkan dia. Dengan membahasakannya sebagai orang ketiga, ucapan itu menjadi lebih halus. Apatah lagi dalam hal ini Rasulullah tidaklah membuat suatu kesalahan yang disengaja atau yang mencolok mata.

Apatah lagi Ibnu Ummi Maktum anak saudara perempuan beliau, bukan orang lain bahkan terhitung anak beliau juga.

Di ayat 3 barulah Allah menghadapkan firman-Nya terhadap Rasul sebagai orang kedua dengan ucapan engkau atau kamu: “Padahal, adakah yang memberitahumu, boleh jadi dia akan jadi orang yang suci?” Kita ini pun, walaupun terhadap orang kedua susunannya pun halus. Memang belum ada orang yang memberitahu lebih dahulu bahwa Ibnu Ummi Maktum itu di belakang hari akan menjadi orang yang sangat penting, yang benar telah dapat mensucikan dirinya. Allah pun di dalam ayat ini memakai bahasa halus memberitahukan bahwa Ibnu Ummi Maktum itu kelak akan jadi orang yang suci, dengan membayangkan dalam kata halus bahwa terdahulu belum ada agaknya orang yang mengatakan itu kepada Nabi SAW.

Apakah perbuatan Nabi SAW bermuka masam itu satu kesalahan yang besar, atau satu dosa?

Tidak! Ini adalah satu ijtihad dan menurut ijtihad beliau orang-orang penting pemuka Quraisy itu hendaklah diseru kepada Islam dengan sungguh-sungguh. Kalau orang-orang semacam Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam dan Abbas bin Abdul Muthalib masuk Islam, berpuluh di belakang mereka yang akan mengikut. Payah-payah sedikit menghadapi mereka tidak mengapa. Masuknya Ibnu Ummi Maktum ke dalam majlis itu beliau rasa agak mengganggu yang sedang asyik mengadakan da’wah. Sedang Ibnu Ummi Maktum itu orang yang sudah Islam juga.

“Padahal, adakah yang memberitahumu, boleh jadi dia akan jadi orang yang suci?” (ayat 3). “Atau dia akan ingat, lalu memberi manfaat kepada ingatnya itu? (ayat 4).

Dengan kedua ayat ini Rasulullah SAW diberi ingat oleh Allah bahwa Ibnu Ummi Maktum itu lebih besar harapan akan berkembang lagi menjadi seorang yang suci, seorang yang bersih hatinya, walaupun dia buta. Karena meskipun mata buta, kalau jiwa bersih, kebutaan tidaklah akan menghambat kemajuan iman seseorang.

Bayangan yang sehalus itu dari Allah terhadap seorang yang cacat pada jasmani dalam keadaan buta, tetapi dapat lebih maju dalam iman, adalah satu pujian bagi Ibnu Ummi Maktum pada khususnya dan sekalian orang buta pada umumnya. Dan orang pun melihat sejarah gemilang Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga tersebut di dalam sebuah riwayat dari Qatadah, yang diterimanya dari Anas bin Malik, bahwa di zaman pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khatab, Anas melihat dengan matanya sendiri Ibnu Ummi Maktum turut dalam peperangan hebat di Qadisiyah, ketika penaklukan negeri Persia, di bawah pimpinan Sa’ad bin Abu Waqqash.

“Adapun (terhadap) orang yang merasa diri cukup.” (ayat 5). Yaitu orang yang merasa dirinya sudah pintar, tidak perlu diajari lagi, atau yang merasa dirinya kaya sehingga merasa rendah kalau menerima ajaran dari orang yang dianggapnya miskin, atau merasa dirinya sedang berkuasa sehingga marah kalau mendengar kritik dari rakyat yang dipandangnya rendah: “Maka engkau menghadapkan (perhatian) kepadanya.” (ayat 6).

Itulah suatu ijtihad yang salah, meskipun maksud baik! Orang-orang yang merasa dirinya telah cukup itu memandang enteng segala nasihat. Pekerjaan besar, revolusi-revolusi besar, perjuangan-perjuangan yang hebat tidaklah dimulai oleh orang-orang yang merasa cukup. Biasanya orang yang seperti demikian datangnya ialah kemudian sekali, setelah melihat pekerjaan orang telah berhasil.

“Padahal, apalah rugimu kalau dia tidak mau suci.” (ayat 7). Padahal sebaliknyalah yang akan terjadi, sebab dengan menunggu-nunggu orang-orang seperti itu tempoh akan banyak terbuang. Karena mereka masuk ke dalam perjuangan lebih dahulu akan memperkajikan, berapa keuntungan benda yang akan didapatnya. Di dalam ayat ini Tuhan telah membayangkan, bahwa engkau tidaklah akan rugi kalau orang itu tidak mau menempuh jalan kesucian. Yang akan rugi hanya mereka sendiri, karena masih bertahan dalam penyembahan kepada berhala.

“Dan adapun orang yang datang kepadamu berjalan cepat.” (ayat 8). Kadang-kadang datang dari tempat yang jauh-jauh, sengaja hanya hendak mengetahui hakikat ajaran agama, atau berjalan kaki karena miskin tidak mempunyai kendaraan sendiri: “Dan dia pun dalam rasa takut.” (ayat 9). Yaitu rasa takut kepada Allah, khasyyah! Karena iman mulai tumbuh: “Maka engkau terhadapnya berlengah-lengah.” (ayat 10).

Sejak teguran ini Rasulullah SAW merobah taktiknya yang lama. Lebih-lebih terhadap orang-orang baru yang datang dari kampung-kampung yang jauh, yang disebut orang Awali, atau orang Badwi atau orang yang disebut A’rab. Malahan sesampai di Madinah pernah si orang kampung yang belum tahu peradaban itu memancarkan kencingnya di dalam masjid, sehingga sahabat-sahabat Rasulullah SAW marah kepada orang itu. Lalu dengan lemah-lembutnya Rasulullah bersabda: “Jangan dia dimarahi, cari saja air, siram baik-baik.”

Maka datanglah satu ukhuwah Islamiah dan satu penghormatan yang baik di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah SAW itu, karena teguran halus yang rupanya sudah disengaja Tuhan itu.

Al-Qasyani menulis dalam tafsirnya: “Adalah Nabi SAW itu di dalam haribaan didikan Tuhannya, karena dia adalah kekasih Tuhan. Tiap-tiap timbul dari dirinya suatu sifat yang akan dapat menutupi cahaya kebenaran (Nurul Haqq), datanglah teguran halus Tuhan. Tepatlah apa yang beliau sendiri pernah mengatakan:

“Aku telah dididik oleh Tuhanku sendiri, maka sangatlah baiknya didikan itu.”

Sehingga budi akhlak beliau telah diteladannya dari budi akhlak Tuhan sendiri.

Tambahan kita: Dan cara Allah memberikan teguran itu, demikian halusnya kepada Nabi yang dicintai-Nya, pun adalah suatu adab yang hendaklah kita teladan pula.