‘Abasa 11 – 16

PERINGATAN!

“Tidak begitu!” (pangkal ayat 11). Artinya janganlah kamu salah sangka, atau salah tafsir, sehingga kamu menyangka atau menafsirkan bahwa ayat-ayat yang turun ini hanya semata-mata satu teguran karena Nabi bermuka masam seketika Ibnu Ummi Maktum datang. Soalnya bukan itu! “Sesungguhnya dia itu,” yaitu ayat-ayat yang diturunkan Tuhan itu, “adalah peringatan.” (ujung ayat 11).

Artinya, bahwasanya ayat-ayat yang turun dari langit, yang kemudiannya tersusun menjadi Surat-surat dan semua Surat-surat itu terkumpul menjadi Al-Qur’anul Karim, semuanya adalah peringatan ummat manusia dan jin, tidak pandang martabat dan pangkat, kaya dan miskin; semuanya hendaklah menerima peringatan itu.

“Maka barangsiapa yang mau, ingatlah dia kepadanya.” (ayat 12). Baik yang mau itu orang merdeka seperti Abu Bakar, atau hamba sahaya sebagai Bilal, atau orang kaya sebagai Abu Sufyan, atau orang miskin dari desa, sebagai Abu Zar; namun martabat mereka di sisi Allah adalah sama. Yaitu sama diterima jika beriman, sama disiksa jika mendurhaka.

“(Dia) adalah di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” (ayat 13). Artinya, sudah lama sebelum ayat-ayat Al-Qur’an itu diturunkan ke dunia ini kepada Nabi Akhir Zaman Muhammad SAW dia telah tertulis terlebih dahulu di dalam shuhuf yang di dalam tafsir ini kita artikan kitab-kitab. Shuhuf adalah kata banyak dari shahifah. Di dalam sebuah hadis yang dinyatakan bahwa keseratus empat belas Surat itu telah tertulis lengkap dan tertahan di langit pertama, dan diturunkan ke dunia dengan teratur dalam masa 23 tahun. Dia terletak di waktu itu di tempat yang mulia, dan tidak seorang pun dapat menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang suci-suci. Sebab itu dikatakan seterusnya: “Yang ditinggikan, yang disucikan.” (ayat 14). Yang ditinggikan, yaitu ditinggikan kehormatannya, tidak sama dengan sembarang kitab. Yang disucikan dan dibersihkan daripada tambahan dan kekurangan, disuci-bersihkan pula daripada tambahan kata manusia, khusus Kalam Allah semata-mata. “Di tangan utusan-utusan.” (ayat 15).

Kalimat Safarah kita artikan di sini dengan utusan-utusan, sebab dia adalah kata banyak dari Safiir, yang pokok artinya ialah Utusan Terhormat, Utusan Istimewa. Oleh sebab itu maka Utusan sebuah negara ke negara lain, yang disebut dalam bahasa asing Ambasador, di dalam bahasa Arab modern pun disebut Safiir. Dalam bahasa Indonesia kita sebut Duta, atau Duta Besar Istimewa. Maka bahasa yang paling tinggi pulalah yang layak kita berikan kepada malaikat-malaikat pembantu Jibril: “Yang mulia-mulia, yang berbakti.” (ayat 16). Menyampaikan ayat-ayat sabda Tuhan itu kepada manusia “Mushthafa”, Pilihan Tuhan itu.

Demikianlah sucinya Al-Qur’an.