‘Abasa 17 – 23

INSAN YANG MELUPAKAN ASALNYA

“Celakalah Insan!” (pangkal ayat 17). Satu ungkapan sesalan dari Tuhan kepada manusia: “Alangkah sangat kufurnya.” (ujung ayat 17). Adakah patut manusia itu masih juga kufur kepada Tuhan. Masih juga tidak mau menerima kebenaran yang dibawa Rasul. Insan masih saja menyombong: “Daripada apa dia menjadikannya?” (ayat 18). Daripada apa Allah menjadikan atau menciptakan manusia? “Dari nuthfah Dia telah menjadikannya.” (pangkal ayat 19). Nuthfah ialah segumpalan air yang telah menjadi kental, gabungan yang keluar dari shulbi ayah dengan yang keluar dari taraib ibu. Dari itu asal mula manusia dijadikan: “Dan Dia mengaturnya.” (ujung ayat 19).

Dari sanalah asal kejadian itu, yakni dipertemukan air bapak dengan air ibu, bertemu di dalam rahim ibu, lalu berpadu jadi satu, menjadi satu nuthfah, yang berarti segumpal air. Setelah 40 hari pula sesudah itu dia pun menjelma menjadi segumpal daging.

Hal yang demikian diperingatkan kepada manusia untuk difikirkannya bahwa kekufuran tidaklah patut, tidaklah pantas. Di ayat pertama dari Surat 76, Al-Insan (Manusia) pun telah diperingatkan bahwa jika direnungkan benar-benar, tidaklah ada arti manusia itu bilamana dibandingkan dengan alam lain sekelilingnya. (Ingat lagi ayat 27 dari Surat An-Nazi’at (79) yang baru lalu). Maka tidaklah patut manusia kufur.

Tidaklah patut manusia ingkar dari kebesaran Tuhan, kalau manusia mengingat betapa di waktu dahulu dia terkurung di dalam rahim ibu yang sempit itu dan dipelihara menurut belas kasihan Allah di tempat itu.

“Kemudian Dia mudahkan jalan keluarnya.” (ayat 20). Dimudahkan jalan keluar buat hidup dan datang ke dunia. Dimudahkan pintu keluar dari rahim itu sampai terlancar dan terluncur keluar. Dimudahkan terus persediaan buat hidup dengan adanya air susu yang disediakan pada ibu di waktu kecil. Dibimbing dengan cinta kasih sampai mudah tegak sendiri di dalam hidup melalui masa kecil, masa dewasa, masa mencari jodoh teman hidup, masa jadi ayah, masa jadi nenek atau datuk: “Kemudian Dia matikan dia.” (pangkal ayat 21). Karena akhir daripada hidup itu pastilah mati. Mustahil ada hidup yang tidak diujung mati, kecuali bagi Pencipta hidup itu sendiri. “Dan Dia suruh kuburkan.” (ujung ayat 21). Tidak dibiarkan tercampak saja tergolek di muka bumi dengan tidak berkubur. Melainkan selekasnya seputus nyawa, segera diperintahkan Allah kepada manusia yang hidup supaya segera dikuburkan. “Kemudian, apabila dikehendaki-Nya, akan Dia bangkitkan dia.” (ayat 22).

Disebut di pangkal ayat apabila Dia kehendaki, insan itu pun akan dibangkitkan kembali. Mengapa apabila Dia kehendaki? Karena dengan memakai kata-kata apabila (idza) Dia kehendaki, maklumlah kita karena yang demikian itu bergantung kepada kata-kata mataa? Artinya: “Bilakah masa akan dibangkitkan itu?”

Dibangkitkan sudah pasti, tetapi masa apabila akan dibangkitkan, hanya Allah yang Maha Tahu. Itu adalah terserah mutlak kepada kekuasaan Allah.

“Belum! Sekali-kali belumlah dia menunaikan apa yang Dia perintahkan kepadanya.” (ayat 23).

Artinya menurut keterangan Ibnu Jarir dalam tafsirnya: “Belumlah manusia itu menunaikan tugas dan kewajiban yang diperintahkan Tuhan ke atas dirinya sebagaimana mestinya. Masih banyak perintah Allah yang mereka lalaikan. Masih banyak mereka memperturutkan kehendak hawa nafsu.”

Terlalu sangat banyak nikmat yang dianugerahkan Allah kepada Insan dan masih terlalu banyak perintah Ilahi yang dilalaikan oleh manusia. Jika manusia merasa bahwa dia telah bekerja dengan baik, belumlah seimbang, belumlah dengan sepatutnya jua dan belumlah sewajarnya Insan mengingat Tuhannya. Artinya masih sangat lalai manusia dari mengingat Tuhan.

Sesuailah intisari ayat ini dengan apa yang pernah dikatakan oleh seorang Shufi yang besar, yaitu Muhammad Abu Madyan: “Janganlah engkau mengharapkan dengan amalan yang engkau kerjakan, engkau akan mendapat ganjaran dari Allah. Kurnia Allah kepadamu kelak hanyalah belas kasihan saja. Tidak sepadan kecilnya amalanmu dengan besar ganjaran Allah.”