‘Abasa 24 – 32

REZEKI MANUSIA

Pada ayat 18 sampai ayat 22 manusia diberi ingat bahwa mereka dijadikan dari air nuthfah, lalu ditakdir dan dijangkakan, ditentukan takaran hidup, sesudah itu mati. Dan jika datang masanya, jika Tuhan menghendaki, mereka pun dibangkitkan kembali daripada alam kubur itu.

Hal itu telah mereka dengar beritanya; sekarang manusia disuruh melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana pertalian hidupnya dengan bumi tempat dia berdiam ini: “Maka cobalah memandang manusia kepada makanannya.” (ayat 24). Perhatikanlah dari mana datangnya makanan itu dan bagaimana tingkat-tingkat pertumbuhannya sehingga makanan itu telah ada saja dalam piring terhidang di hadapannya. Asal mulanya ialah: “Sesungguhnya telah Kami curahkan air securah-curahnya.” (ayat 25).

Asal mulanya ialah bahwa bumi itu kering, maka turunlah hujan. Hujan lebat sekali yang turun laksana dicurahkan dari langit. Maka bumi yang laksana telah mati itu hidup kembali. “Kemudian Kami lunakkan bumi seluluk-luluknya.” (ayat 26). Bumi yang tadinya kering dan keras sehingga tidak ada yang dapat tumbuh, dengan turunnya hujan maka lunaklah tanah tadi, menjadi luluk, menjadi lumpur. Di atas tanah yang telah lunak jadi lumpur atau luluk itulah kelak sesuatu akan dapat ditanamkan: “Maka Kami tumbuhkan padanya benih-benih makanan.” (ayat 27).

Pada negeri-negeri yang makanan pokoknya ialah padi, tafsir ayat ini sangat lekas dapat difahamkan. Memang sawah itu dilulukkan lebih dahulu baru dapat ditanami benih. Yaitu benih padi, benih gandum, benih kacang dan jagung: “Dan anggur dan sayur-sayuran.” (ayat 28).

Dengan mensejajarkan anggur sebagai buah-buahan yang dapat dimakan langsung dengan sayur-sayuran lain yang sangat diperlukan vitamin dan kalorinya bagi manusia, nampaklah bahwa keduanya itu sama pentingnya sebagai zat makanan. “Dan buah zaitun dan korma.” (ayat 29). Zaitun selain dapat dimakan, dapat pula diambil minyaknya. “Dan kebun-kebun yang subur.” (ayat 30). Dengan menyebutkan kebun-kebun yang subur maka tercakuplah di dalamnya buah-buahan yang lain yang sejak zaman dahulu telah diperkebunkan orang sebagai diceritakan di dalam Surat 34, Saba’ ayat 15, sehingga kesuburan tanah menimbulkan syukur kepada Tuhan, dan kesyukuran, menyebabkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yang makmur dan Tuhan yang memberi ampun).

“Dan buah-buahan dan rumput-rumputan.” (ayat 31). “Akan bekal bagi kamu dan bagi ternak-ternak kamu.” (ayat 32). Artinya berpuluh macam buah-buahan segar yang dapat dimakan oleh manusia; sejak dari delima, anggur, epal, berjenis pisang, berjenis mangga dan berbagai buah-buahan yang hanya tumbuh di daerah beriklim dingin dan yang tumbuh di daerah beriklim panas; sebagai pepaya, nenas, rambutan, durian, duku dan langsat dan buah sawo dan lain-lain dan berbagai macam rumput-rumputan pula untuk makanan binatang ternak yang dipelihara oleh manusia tadi.

Pokok pangkal semuanya itu ialah dari air hujan yang dicurahkan Allah dengan lebatnya dari langit sampai tanah jadi luluk, membawa apa yang dinamai bunga tanah.

Maka kalau kita simpulkan di antara kedua peringatan itu, pertama tentang asal usul kejadian manusia dari nuthfah sampai dapat hidup di atas permukaan bumi ini. Kedua setelah hidup di bumi jaminan untuk melanjutkan hidup itu pun selalu tersedia selama langit masih terkembang dan lautan masih berombak bergelombang, dan air laut itu akan menguap ke udara menjadi awan, menjadi mega dan mengumpul hujan, lalu hujan, selama itu pula jaminan Allah masih ada atas kehidupan ini.

Setelah demikian halnya mengapalah manusia akan lupa juga kepada Tuhannya? Mengapa juga manusia akan lupa dari mana dia, siapa menjamin hidupnya di sini dan ke mana dia akan pergi?