‘Abasa 33 – 42

PERISTIWA DI HARI KIAMAT

Setelah diperingatkan bagaimana jalannya jaminan makan yang diberikan Allah karena tercurahnya air hujan yang menyuburkan bumi lalu menimbulkan tumbuh-tumbuhan yang diperlukan buat hidup, pada akhirnya Allah memberikan peringatan bahwa hidup itu berbatas adanya. Hidup dibatasi oleh mati. Dan sesudah mati ada lagi hidup yang kekal.

“Maka (ingatlah) apabila datang suara yang sangat keras itu.” (ayat 33).

Di dalam ayat ini disebut Ash-Shakhkhah! Yang berarti suara yang sangat keras. Saking kerasnya akan pecahlah anak telinga bila suara itu terdengar. Ini adalah salah satu dari nama-nama hari kiamat yang tersebut dalam Al-Qur’an. Ada disebut Al-Haqqah, atau Al-Qari’ah yang artinya hampir sama: suara sangat keras, suara pekik yang menyeramkan bulu roma, atau kegoncangan yang tiada terpemanai dahsyatnya, yang masing-masing kelak akan bertemu dalam Suratnya sendiri-sendiri.

Demikian hebatnya hari itu, sehingga: “(Yaitu) pada hari yang setiap orang lari dari saudaranya.” (ayat 24). “Dan dari ibunya dan dari ayahnya.” (ayat 35). “Dan dari isterinya dan anak-anaknya.” (ayat 36). Di dalam ketiga ayat ini didahulukan menyebut saudara yang seibu-sebapa atau seibu saja atau sebapa saja, sebagai orang terdekat. Dan lebih dekat lagi dari itu ialah ibu dan ayah. Tetapi isteri adalah orang yang lebih dekat lagi, teman hidup setiap hari bilamana orang telah dikawinkan oleh ayah-bundanya dan telah menegakkan rumahtangga sendiri. Kemudian itu, anak kandung lebih dekat lagi daripada isteri, lebih dekat dari ayah dan bunda dan lebih dekat lagi dari saudara kandung. Sebab anak adalah penyambung turunan diri, laksana darah daging sendiri. Maka bila tiba haru perhitungan di hari kiamat itu segala saudara, ibu dan ayah, isteri dan anak itu tidak teringat lagi. Bagaimanapun kasih dan rapat kita dengan mereka, namun di hari perhitungan itu kita tidak akan mengingat mereka lagi, betapa pun karibnya. Sebab masing-masing kita telah menghadapi masalahnya sendiri-sendiri. Itulah yang dengan tepat dikatakan dalam ayat yang selanjutnya: “Bagi setiap orang dari mereka itu, di hari itu, ada satu perkara yang dihadapinya.” (ayat 37).

Bagaimana orang akan mengingat anaknya dan isterinya, ayahnya atau ibunya, saudara kandung atau tirinya, kalau dia sendiri pada di waktu itu sedang terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya dengan berdusta? Dan saudara, ayah dan ibu, dan isteri dan anak-anaknya itu pun terlibat pula dalam soal mereka sendiri-sendiri.

Orang lainkah yang akan terkenang, padahal masalah yang dihadapi demikikan beratnya dan keputusan belum jelas?

“Beberapa wajah di hari itu berseri-seri.” (ayat 38). “Tertawa-tawa, bersukacita.” (ayat 39).

Mengapa wajah mereka berseri-seri? Mengapa mereka tertawa-tawa bersukacita? Tentu saja kegembiraan itu timbul setelah mendapat keputusan yang baik dari Hakim Yang Maha Tinggi, Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena timbangan amal lebih berat kepada kebajikan; maka syurgalah tempat yang ditentukan untuknya. Baru di sana kelak akan bertemu dengan saudara, ayahbunda, isteri dan anak kalau memang sama-sama ada amal kebajikan.

“Dan beberapa wajah di hari itu, padanya ada kemuraman.” (ayat 40). “Ditekan oleh kegelapan.” (ayat 41).

Mengapa wajah jadi muram dan kegelapan menekan sehingga tak ada cahaya harapan sama sekali?

“Mereka itu ialah orang-orang kafir.” (pangkal ayat 42). Tidak mau menerima kebenaran, bahkan menolaknya. “Yang durhaka.” (ujung ayat 42). Maka begitulah nasib orang yang kafir dan durhaka, muram suram karena telah salah menempuh jalan sejak semula.