Adh Dhuhaa 1 – 5


“Demi waktu dhuha.” (ayat 1). Di ayat pertama ini Tuhan bersumpah, tegasnya memerintahkan kita memperhatikan waktu dhuha. Waktu dhuha ialah sejak pagi setelah matahari terbit, sampai naik sampai menjelang tengahari. Di dalam bahasa Melayu lama disebut “sepenggalah matahari naik.” Apabila matahari telah sampai di pertengahan langit, yang disebut “tengah-hari”, waktu dhuha tidak ada lagi.

Terdapat Hadis-hadis yang shahih menganjurkan kita sembahyang sunnat sekurangnya 2 rakaat, atau 4 rakaat, atau sampai 8 rakaat; dua rakaat satu salam pada waktu dhuha itu.

Waktu dhuha diambil persumpahan oleh Tuhan untuk menarik perhatian kita kepadanya. Mungkin oleh karena di waktu yang demikian kita sedang lincah, kekuatan dan kesegaran masih ada berkat tidur yang nyenyak pada malamnya. Maka di waktu Dhuha itulah kesempatan yang baik untuk berusaha di muka bumi Allah, sepanjang yang dianjurkan oleh Allah sendiri. (Lihat Surat 67, Al-Mulk; 15).

“Demi malam, apabila dia sudah sunyi-senyap.” (ayat 2). Sumpah peringatan atas malam apabila sudah sunyi senyap ialah memperingatkan betapa penting manusia istirahat mengambil kekuatan baru di malam hari untuk berjuang hidup lagi pada besok harinya. Dan kelak apabila telah masuk dua pertiga malam, kira-kira sekitar pukul 3 hari akan siang di daerah Khatul-Istiwa ini, dianjurkan pulalah kita melakukan sembahyang tahajjud dan ditutup dengan witir, sekurangnya 8 rakaat dan lebihnya berapa kita sanggup. Sehabis sembahyang kita duduk memohon ampun kepada Ilahi atau membawa Al-Qur’an sampai waktu Subuh datang.

Sesudah Tuhan mengambil sumpah dengan waktu dhuha dan larut malam itu, barulah Tuhan menuju apa yang Dia maksudkan dengan sumpah tersebut:

“Tidaklah Tuhanmu membuangmu, dan tidaklah Dia marah.” (ayat 3). Artinya secara harfiyah “tidaklah Tuhanmu mengucapkan selamat tinggal kepadamu” sehingga engkau merasa kesepian sebab Jibril tidak akan datang lagi. Dan tidaklah Tuhan marah sehingga engkau tidak diperdulikan lagi.

Menurut tafsir Ibnu Jarir, pernah beberapa lamanya terhenti turunnya wahyu, sehingga belum ada lagi sambungan Al-Qur’an yang akan disampaikan oleh beliau SAW kepada manusia, sehingga merasa sepilah Nabi SAW. Dan hal ini diketahui oleh kaum musyrikin, sampai mereka berkata: “Muhammad sudah diucapi selamat tinggal oleh Tuhannya dan telah dimarahi.” Yang mengatakan demikian ialah isteri Abu Lahab. Lantaran itu datanglah ayat ini; bahwasanya persangkaan kaum musyrikin itu tidaklah benar, Tuhan tidak pernah meninggalkan Nabi-Nya dan tidak pernah marah kepadanya. Dia selalu didampingi oleh Tuhannya.

“Dan sesungguhnya kesudahan itu, lebih baik bagimu daripada permulaan.” (ayat 4).

Janganlah berdukacita jika kadang-kadang terlambat datang wahyu itu kepadamu. Menurut tafsiran dari Al-Qasimi: “Yang diujung pekerjaanmu ini akan lebih baik dari permulaannya.” Artinya jika di permulaan ini kelihatan agak sendat jalannya, banyak tantangan dan perlawanan, namun akhir kelaknya engkau akan mendapat hasil yang gilang-gemilang.

Dengan ayat ini diberikanlah kepada Rasul SAW dan kepada orang yang menyambung usaha Rasul suatu tuntunan hidup, agar merasa besar hati dan besar harapan melihat zaman depan. Meskipun perjuangan itu dimulai dengan serba kesusahan, namun pada akhirnya kelak akan didapat hasil yang baik. Dan ini bertemu dalam sejarah kebangkitan Islam.

Asal pekerjaan telah dimulai, akhir pekerjaan niscaya akan mendapati yang lebih baik daripada yang permulaan. Yang pokok ialah keteguhan niat dan azam disertai sabar dan tabah hati.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberi kepadamu, sehingga engkau ridha.” (ayat 5). Ayat ini pun berisi janji harapan yang disampaikan Tuhan sebagai bujukan kepada utusan-Nya yang dikasihi-Nya. Bahwa banyaklah kurnia dan anugerah yang akan diberikan kepadanya kelak, sambil jalan dari permulaan menuju kesudahan itu, terutama anugerah ketinggian gensi dan martabat, kesempurnaan jiwa dan kebesaran peribadi, ilmu dunia dan akhirat, pengetahuan tentang ummat-ummat yang dahulu, kemenangan menghadapi musuh-musuh, ketinggian agama dan pernaklukan beberapa negeri; baik yang terjadi di zaman beliau sendiri atau di zaman khalifah-khalifah beliau, dan akan tersebarlah agama ini ke seluruh dunia, ke Timur dan ke Barat, yang semuanya itu akan mendatangkan ridha, atau senang bahagia dalam hati Nabi Muhammad SAW.

Itulah rentetan bujukan dan obat penawar hati bagi Nabi SAW seketika agak terlambat wahyu bersambung datang. Suatu peringatan bahwa perjalanan ini masih jauh dan kemenangan terakhir akan ada pada beliau.

Tafsir ayat Adh Dhuhaa Lainnya: