Al A’laa 1 – 5


Ucapkan kesucian bagi nama Allah, Tuhan sarwa sekalian alam, itulah yang disebut tasbih. Dia diungkapkan di dalam salah satu dzikir, yaitu Subhanallah!

Langit dan bumi pun mengucapkan kesucian bagi Allah. Dan itu dapat kita rasakan apabila sebagai insan kita tegak dengan sadar ke tengah-tengah alam yang di keliling kita ini. Siapa menjadikan ini semua dan siapa yang mengatur.

Disebutkan di ujung ayat salah satu sifat Tuhan, yaitu Al-A’laa. Artinya Yang Maha Tinggi, tinggi sekali, puncak yang di atas sekali dan tidak ada yang di atasnya lagi.

Ucapan tasbih itu adalah pupuk bagi Tauhid yang telah kita tanam dalam jiwa kita. Allah itu suci daripada apa yang dikatakan oleh setengah manusia. Mereka pun memuji Allah tetapi tidak bertasbih kepada Allah. Sebab Allah itu dikatakannya beranak. Ada yang mengatakan Allah itu beranak laki-laki seorang, yaitu anaknya yang tunggal. Itulah Isa Almasih anak Maryam dan bertiga dia menjadi Tuhan. Yang seorang lagi ialah Ruhul-Qudus atau Roh Suci. Padahal itu adalah Malaikat Jibril, bukan Tuhan. Bagi mereka Allah itu tidak Maha Tinggi sendiri-Nya, karena ada yang duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan dia, yaitu Almasih dan Ruhul-Qudus itu.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa Allah itu beranak. Tetapi anaknya perempuan belaka. Itulah Al-Laata, ‘Uzza dan Manaata yang besar. Ada pula yang mengatakan bahwa sekalian malaikat itu adalah anak Allah. Dan ada pula yang mengatakan bahwa banyak yang lain yang bersekutu dengan Allah itu. Sebab dia tidak berkuasa, tidak berupaya mengatur alam ini dengan sendiri.

Selalulah kita hendaknya bertasbih, mengucapkan kesucian bagi nama Allah, Yang Maha Tinggi itu. Sampai seketika ayat pertama ini diturunkan, Nabi kita bersabda:

“Jadikanlah dia dalam sujud kamu”

Dan seketika turun ayat 95 dan 96, Surat 56 (Al-Waqi’ah) yang berbunyi:

“Sesungguhnya ini, adalah dia sebenar-benar yakin. Maka ucapkanlah kesucian atas nama Tuhan engkau Yang Maha Agung.”

Maka bersabdalah Rasulullah SAW:

“Jadikanlah dia dalam ruku’mu”

Demikianlah asal mula bacaan ruku’ dan sujud yang berbunyi demikian:

“Amat Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi” (Waktu sujud) dan Yang Maha Agung (di waktu ruku’), lalu ditambahi dengan wa bi hamdihi :

“Dan disertai puji-pujian bagi-Nya.”

Itu pun adalah pelaksanaan daripada ayat 48 dan 49 dari Surat 52, Ath-Thuur:

“Dan ucapkanlah kesucian dengan memuji kepada Tuhan engkau seketika engkau berdiri sembahyang; dan daripada malam, maka ucapkan jualah kesucian untuk-Nya, dan seketika bintang-bintang mulai pudar cahayanya.” (Subuh).

Mengapa maka kita ucapkan kesucian bagi Tuhan kita?

Karena Dialah: “Yang telah menciptakan.” (pangkal ayat 2).

Khalaqa: berarti telah menciptakan daripada tidak ada kepada ada. Dan yang sanggup berbuat demikian hanyalah Allah sahaja. Setinggi-tinggi kekuatan kita makhluk ini hanyalah sehingga Ja’ala, yaitu menukar dari barang yang telah ada kepada bentuk lain. Misalnya kayu di hutan kita jadikan kursi, buat alas kursi kita ambil rotan yang tumbuh di hutan. Namun bahan asli adalah dari Allah sebagai ciptaan-Nya. Maka segala perbuatan manusia di dalam alam ini tidaklah ada cipta, yang ada hanyalah mempergunakan bahan yang telah ada buat merobah bentuk. Dan merobah bentuk itu pun sangat terbatas sekali. Kita tidak sanggup merobah bentuk darah jadi mani, mani jadi manusia! Sebab itu disamping Khalaqa, Tuhan Allah pun Ja’ala.

“Lalu membentuk dengan seimbang.” (ujung ayat 2).

Membentuk dengan seimbang inilah satu “arsitectur” dari Allah Yang Maha Tinggi sekali. Itu boleh kita perhatikan kepada padai atau gandum yang tumbuh di sawah. Kalau menurut ilmu ukur, adalah satu hal yang sangat sulit batang padi yang halus itu dapat berdiri dengan megahnya mendukung buah padi yang mulai masak. Di sana pasti terdapat suatu perseimbangan, yang menyebabkan dia tidak rebah. Rebahnya hanya kalau anging sangat keras dan deras.

Maka pada diri manusia pun terlihat perseimbangan itu. Dari kening permulaan tumbuh rambut sampai bibir adalah sejengkal, dan sejengkal itu adalah ukuran dari tumit sampai ke pangkal empu jari kaki. Pas dari pinggul sebelah muka sampai ke lutut, panjangnya ialah sehasta. Oleh sebab itu dapat diketahui berapa tinggi seseorang dengan hanya melihat jejak kakinya. Maka badan manusia itu adalah sawwaa: artinya diperseimbangkan oleh Tuhan. Perseimbangan itu akan kita lihat pada alam sekeliling kita, sejak dari mikrokosmos (alam kecil) sampai kepada makrokosmos (alam besar); sejak dari molokul sangat kecil sampai kepada cakrawala yang besar.

“Dan yang telah mengatur.” (pangkal ayat 3). Kita artikan mengatur kalimat qaddara. Fill mudhari’nya ialah yuqaddiru dan mashdarnya ialah taqdiiran. Dia telah menjadi rukun (tiang) Iman kita yang keenam. Kita wajib percaya bahwa samasekali ini diatur oleh Allah. Mustahil setelah alam Dia jadikan, lalu ditinggalkannya kalau tidak teratur.

Selain daripada takdir Allah pada alam semesta, kita pun mempercayai pula takdir Allah pada masing-masing diri peribadi kita. Kita ini hidup tidaklah dapat melepaskan diri daripada rangka takdir itu. Dan ada takdir yang dapat kita kaji, kita analisa dan ada takdir yang tersembunyi dari pengetahuan kita.

Misalnya tidak bisa kita menyangka ketika kita turun dari rumah akan ada bahaya. Lalu kita menyeberangi suatu sungai. Tiba-tiba sedang kita di tengah-tengah sungai itu datang air bah, kita pun hanyut, karena takdir Allah ada air bah. Tetapi kita ditakdirkan sampai di tepi seberang dengan selamat, karena kita pandai berenang dan mengetahui jika air bah jangan menyongsong, tetapi turuti derasnya air dan ansur kemudikan diri ke tepi. Semuanya itu takdir.

“Lalu Dia memberi petunjuk.” (ujung ayat 3). Maka tidaklah kita dibiarkan berjalan saja di muka ini dengan hanya semata-mata anugerah perseimbangan dan peraturan Ilahi atas alam. Di samping itu diri kita sendiri pun diberi petunjuk. Petunjuk itu diberikan dari dua jurusan. Pertama dari jurusan bakat persediaan dalam diri; itulah akal. Kedua ialah petunjuk yang dikirimkan dengan perantaran para Nabi dan para Rasul.

“Dan yang telah mengeluarkan rumput-rumput pengembalaan.” (ayat 4). Dengan ayat ini diisyaratkan kepada kita bahwa untuk persediaan hidup kita manusia ini, selalulah ada pertalian dengan makhluk lain, yaitu binatang ternak. Terutama di Tanah Arab tempat mula ayat ini diturunkan. Kehidupan Badwi yang berpindah-pindah adalah sambil menghalau untanya, kambing ternaknya, termasuk juga sapi. Yang mereka cari ialah tanah yang subur yang di sana tumbuh rumput untuk menggembalakan ternak mereka itu. Asal makanan ternak itu subur terjamin, hidup mereka pun makmur. Segala yang dicita-citakan dapat dicari.

“Lalu kemudiannya menjadikannya kering kehitaman.” (ayat 5). Artinya bahwa pergantian musim pun mempengaruhi tumbuh dan suburnya rumput-rumput di tanah penggembalaan itu. Dan kalau rumput di satu tempat telah kering kehitaman, mereka pun akan mencari padang rumput yang lain, dan selalu ada. Sampai mereka pun menetaplah membuat negeri.

Dapatlah disimpulkan bahwasanya ayat 1 adalah anjuran ataupun perintah kepada ummat yang beriman, di bawah pimpinan Rasul SAW supaya selalu mengucapkan puji suci kepada Allah. Bersihkan anggapan kepada Allah daripada kepercayaan yang karut-marut, mempersekutukan Allah dan berkata atas Allah dengan tidak ada ilmu. Sedang 4 ayat selanjutnya adalah membuktikan kekuasaan Allah itu, yang tiada bersekutu yang lain dengan Dia dalam segala perbuatan-Nya.

Tafsir ayat Al A'laa Lainnya: