Al A’laa 14 – 19

“Sungguh, beroleh kemenanganlah siapa yang mensucikan.” (ayat 14). Artinya, menanglah di dalam perjuangan hidup ini barangsiapa yang selalu mensucikan atau memberishkan dirinya daripada maksiat dan dosa, baik dosa kepada Allah dengan mempersekutukan Allah dengan yang lain, atau dosa kepada sesama manusia dengan menganiaya atau merampok hak orang lain, atau kepada diri sendiri memendam rasa dendam dan dengki kepada sesamanya manusia. Maka kalau seseorang dapat berusaha mengendalikan dirinya, akan terlepaslah dia daripada kekotoran. Terutama kekotoran jiwa.

“Dan yang ingat akan nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (ayat 15). Usaha mensucikan diri sebagai tersebut di ayat 14 itu, tidaklah akan berhasil kalau tidak selalu mengingat Tuhan. Melakukan zikir, selalu ingat kepada Allah adalah kendali yang sebaik-baiknya atas diri. Karena kita menanamkan rasa dalam diri bahwa Tuhan selalu ada dekat kita dan ingat kepada Allah itu disertai pula dengan mengerjakan sembahyang lima waktu, termasuk di dalamnya doa dan munajat, yaitu menyeru kepada Tuhan selalu, memohonkan bimbingan-Nya. Dan sembahyang itu sendiri pun adalah termasuk zikir juga. Di dalam Surat 8, An-Anfal ayat 2 dijelaskan faedah zikir bagi orang yang beriman: yaitu bahwa hatinya akan bertambah lembut dan patuh kepada Tuhan. Di dalam Surat 20, Thaha, disuruh mendirikan sembahyang agar selalu ingat (zikir) kepada Allah.

“Akan tetapi kamu lebih mementingkan hidup di dunia.” (ayat 16).

Akan tetapi sayang sekali, ada di antara kamu yang tidak memperdulikan seruan Tuhan agar mensucikan diri, mengingat Allah dan melakukan sembahyang. Masih ada di antara kamu yang lebih mementingkan hidup di dunia ini saja, tidak mengingat lanjutan hidup di hari akhirat. Sudah sendang tenteram saja hatinya di negeri dunia yang hanya tempat singgah sebentar ini: “Dan Akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (ayat 17).

Tidak mereka sadari bahwa perjalanan hidup ini masih ada lanjutan, yaitu hari akhirat. Padahal untuk mencapai kebahagiaan di akhirat itu, di dunia inilah ditentukan. Dengan mengerjakan amal yang shalih, dengan menanamkan jasa yang baik, dengan memupuk budi yang luhur. Maka apa yang ditanam di dunia ini, di akhiratlah masa mengetamnya. Di situlah kelak nikmat yang tidak putus-putus.

“Sesungguhnya” (pangkal ayat 18). Yaitu nasihat-nasihat dan peringatan yang telah dimulai pada ayat 14 tadi, bahwa yang menang dalam hidup ialah orang yang selalu berusaha mensucikan atau membersihkan jiwa, bukanlah dia semata-mata pengajaran yang timbul sejak Nabi Muhammad SAW dan bukan wahyu dalam Al-Qur’an saja. Ajaran ini: “Telah ada di dalam shuhuf yang dulu-dulu.” (ujung ayat 18).

Sebagaimana telah kita ketahui, wahyu yang diturunkan kepada Nabi-nabi itu ada saja catatannya. Catatan ini dinamai shuhuf, kertas yang digulung, lalu dikembangkan ketika membacanya. Maka macam-macamlah shuhuf itu. Yang lebih tebal dinamai Kitab atau Zabur dan yang terpecah-pecah dinamai shuhuf. Al-Qur’an sendiri setelah dikumpul jadi satu Surat-surat yang 114, ada yang panjang dan ada yang amat pendek, dinamailah dia mushaf.

Tersebutlah di dalam ayat ini bahwa pengajaran ini bukanlah pengajaran sekarang saja. Dia telah tua. Dia telah tersebut juga dalam shuhuf yang dulu-dulu. Terutama: “(Yaitu) Shuhuf Ibrahim dan Musa.” (ayat 19).

Samalah kiranya ajaran yang diberikan kepada ummat manusia ini dari zaman ke zaman. Supaya kiranya manusia berusaha selalu membersihkan dari dosa, atau menyadari diri agar jangan sampai bergelimang dosa. Karena telah pun tersebut dalam Surat 26, Asy-Syu’ara’, ayat 88 dan 89, bahwa pada hari itu kelak tidaklah bermanfaat harta yang disimpan dan tidak pula anak-anak dan keturunan. Kecuali barangsiapa yang datang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih.

KELEBIHAN SURAT INI

Menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh Muslim dari Nu’man bin Basyir, adalah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW mengambil Surat Sabbihisma Rabbikal A’laa dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghaasyiyah untuk bacaan sembahyang Jum’at dan pada dua hari raya. Dan kadang-kadang berkumpul dalam satu hari, Jum’at dan Hari Raya; beliau baca jua kedua Surat ini di kedua sembahyang itu.

Menurut riwayat Aisyah pula, beliau SAW membaca Surat ini dalam sembahyang witir di rakaat pertama, Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruuna di rakaat kedua dan Qul Huwallaahu Ahad dan dua Qul A’uudzu di rakaat ketiga (terakhir).

Tafsir ayat Al A'laa Lainnya: