Al A’laa 6 – 13

“Akan Kami jadikan engkau membaca.” (pangkal ayat 6). Artinya diutus Allah Malaikat Jibril, selain dari membawakan wahyu, ditugaskan lagi kepadanya mengajarkan membacanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Maka engkau tidaklah akan lupa.” (ujung ayat 6). Artinya bahwa setelah diajarkan itu lekatlah selalu dalam ingatan beliau, sehingga beliau tidak lupa lagi mana ayat-ayat yang telah turun itu.

Az-Zamakhsyari menulis dalam tafsirnya: “Inilah satu berita gembira dari Allah kepada Rasul-Nya, SAW yang menunjukkan mu’jizat yang tinggi. Datang Jibril membacakan kepadanya, sampai dia ingat betul dan membacanya pula, sedang dia sendiri adalah ummi, tidak pandai menulis dan tidak pandai membaca; dia pun hapal dan tidak lupa lagi.”

Malahan seketika ayat mula-mula turun dilakuinya terus-terang bahwa dia tidak pandai membaca.

“Kecuali apa yang dikehendaki Allah.” (pangkal ayat 7). Artinya, bahwa dengan kehendak Allah jua, tidaklah mustahil kalau kadang-kadang ada yang terlupa baginya. Dan kelupaan yang kadang-kadang itu, sebab beliau manusia, mesti ada padanya. Yang tidak pernah lupa sama-sekali hanya Allah sahaja. Nabi SAW pun bersabda:

“Tidak lain aku ini hanyalah manusia seperti kamu jua. Aku pun lupa sebagaimana kamu lupa. Maka bilamana aku kelupaan, peringatilah aku.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Disebut di pangkal ayat ini “kecuali apa yang dikehendaki Allah,” untuk menjelaskan bahwa meskipun pada umumnya tidaklah ayat-ayat itu akan terlupa oleh beliau, namun ingatan beliau tidak jugalah sebagai ingatan Allah. Tetapi kalau telah diingatkan yang lupa sedikit itu, beliau ingat kembali semuanya dan beliau teruskan lagi membacanya. Dan itu bukanlah satu aib. “Sesungguhnya Dia mengetahui yang nyata dan apa yang tersembunyi.” (ujung ayat 7).

Artinya: sesungguhnya hanya Dia saja, Allah, yang serba tahu. Dia tahu barang yang nyata, Dia ingat semuanya, sebab Dia yang empunya. Dia yang menguasai. Dan yang tersembunyi dari penglihatan mata, baik karena terlindung oleh sesuatu, atau tidak akan dapat dilihat buat selama-lamanya oleh kita manusia, meskipun dia barang yang sedekat-dekatnya kepada kita, umpama otak benak kita sendiri, mata dan jantung kita sendiri, atau punggung kita, namun bagi Allah semuanya itu diketahui-Nya. Tentu saja Rasul yang mana pun Nabi yang mana pun tidak mencapai martabat Tuhan sebab mereka semuanya adalah Hamba Tuhan, bukan bersekutu dengan Tuhan.

Sungguhpun demikian, pada ayat yang seterusnya, Allah memberikan janji dan jaminan bagi Rasul-Nya:

“Dan akan Kami mudahkan engkau kepada jalan yang mudah.” (ayat 8).

Artinya jalan yang akan engkau tempuh ini tidak sukar dan agama ini pun tidaklah sukar. Perintah yang terkandung di dalamnya tidaklah akan berat dipikul oleh ummat manusia, asal mereka percaya; iman. Meskipun akan ada rintangan, namun rintangan itu kelak akan menambah yakinnya engkau akan kebenaran yang engkau bawa itu.

Maka segala perintah yang diperintahkan Tuhan mudah dikerjakan, sebab tidak ada perintah Allah yang tak dapat dipikul oleh manusia. Tidak kuat sembahyang berdiri karena sakit, boleh dikerjakan dengan duduk. Tak kuat duduk boleh dikerjakan dengan tidur. Tak ada air wudhu’, boleh diganti dengan tayammum. Demikian juga perintah-perintah yang lain. Bahkan naik haji hanya sekali saja yang wajib bagi barangsiapa yang sanggup ke sana dengan perongkosan dan kesihatan. Belum lengkap kesanggupan itu, belum wajib ke Makkah.

Demikian juga larangan. Segala yang berbahaya bagi diri, bagi agama, bagi keturunan, bagi hartabenda dan bagi keamanan bersama dilarang oleh Tuhan, agar hidupmu peribadi atau hidupmu dalam masyarakat tetap dalam perseimbangan yang baik.

“Maka beri peringatanlah.” (pangkal ayat 9).

Memberi peringatan adalah kewajiban yang ditugaskan kepada diri Nabi SAW. Tetapi hendaklah ditilik ruang dan waktu, mungkin dan patutnya, supaya peringatan itu berhasil. Berilah peringatan: “Jika memberi manfaat peringatan itu.” (ujung ayat 9).

Dengan ayat 9 ini bertemulah suatu kewajiban menyelidiki bagaimana agar peringatan itu ada manfaatnya. Jangan sebagai menumpah ke atas pasir saja, hilang tak berbekas.

Di dalam Surat 51, Adz-Dzariat ayat 55 tersebut:

“Beri peringatanlah, karena sesungguhnya peringatan itu ada manfaatnya bagi orang-orang yang beriman.”

Maka tidaklah memberi manfaat misalnya berpidato agama dan menyuruh manusia zuhud membenci dunia dalam gedung parlemen. Atau berpidato lucu-lucuan di rumah orang kematian. Berpidato bersedih hati di perayaan perkawinan. Pidato membenci harta pada rakyat yang miskin. Dan lain-lain sebagainya.

Maka bukanlah memberi manfaat peringatan yang dilarang dalam ayat 9 ini, melainkan yang dilarang ialah pidato yang tidak ada manfaatnya, karena tidak tahu waktu dan tempatnya.

“Akan beringat-ingatlah orang yang takut.” (ayat 10). Yaitu bahwa bagi orang yang telah tertanam di dalam dirinya rasa khasyyah, takut kepada Allah, peringatan itu akan besarlah faedahnya. Sekepal akan dibumikannya, setitik akan dilautkannya, dipegangnya erat, di buhulnya mati.

Dan sebaliknya bagi yang tidak takut kepada Tuhan:

“Dan akan menjauhlah daripadanya orang yang celaka.” (ayat 11). Siapakah orang celaka itu?

Yaitu orang: “Yang menyala-nyalakan api yang besar.” (ayat 12). Artinya bahwa di dalam hidupnya ini tidak ada usahanya hendak mendekati syurga, dengan takut kepada Tuhan, dengan Iman dan Amal yang shalih. Telinganya ditutupnya daripada mendengarkan peringatan yang benar. Dia asyik memperturutkan hawa nafsunya. Sebab itu maka sejak kini dia telah mulai menyalakan api neraka yang besar buat membakar dirinya sendiri. Bertambah dia membikin dosa, bertambah dia menyalakan api. Dia tidak mau melaksanakan perintah Ilahi yang telah menciptakannya, yang telah membuat perseimbangan dalam dirinya, yang telah mengatur hidupnya dan memberikan petunjuk kepadanya. Dia tutup telinganya daripada mendengarkan itu semuanya, lalu yang dikerjakannya ialah apa yang dilarang. Merusak peribadi sendiri dengan memakan dan meminum yang haram, tidak sembahyang, tidak puasa, tidak berzakat. Tidak berniat menolong sesamanya manusia yang melarat dan dosa-dosa lain, sehingga putus tali hubungan batinnya dengan Tuhan dan dengan manusia dengan dirinya sendiri.

Dinyalakannya api neraka itu dari sekarang. Dan ke sanalah dia akan pergi kelak di akhirat. Karena jalan yang ditujunya memang ke sana sejak semula hidup.

“Maka tidaklah mereka akan mati di dalamnya dan tidak pula akan hidup.” (ayat 13).

Meranalah dia di dalam neraka itu. Tidak akan mati, sebab mati hanya sekali saja, yaitu ketika hari perpindahan daripada Alam Fana, Dunia kepada Alam Khulud Akhirat. Padahal di dunia ini banyaklah orang yang mati terlepas dari sengsara karena sakit telah sampai di puncak. Terlalu sakit orang pun mati. Terlalu panas, mati. Terlalu dingin, mati. Terlalu susah, mati. Malahan ada orang yang ingin saja lekas mati, karena derita itu rasanya tidak terpikul lagi.

Dalam neraka itu tidaklah akan dapat terlepas dari sengsara azab dengan mati. Karena mati tidak ada di sana. Dan tidak pula dapat hidup. Karena hidup berarti di akhirat itu ialah di dalam syurga Jannatun Na’im dengan segala nikmat yang telah disediakan Allah bagi hamba-Nya.

Maka adalah satu pepatah Melayu terkenal yang dapat sedikit menggambarkan penderitaan di neraka itu: “hidup segan, mati tak mau.”

Tafsir ayat Al A'laa Lainnya: