Al Alaq 15 – 19

Ini adalah ancaman!

“Sungguh! Jika dia tidak mau juga berhenti.” (pangkal ayat 15). Dari menghalangi Utusan Allah menyampaikan seruannya, dan tidak mau juga berhenti mengejek dan menghina: “Sesungguhnya akan Kami sentakkan ubun-ubunnya.” (ujung ayat 15).

“Ubun-ubun yang dusta, yang penuh kesalahan.” (ayat 16). Ditarik ubun-ubunnya artinya ialah karena kepala dari orang itu sudah kosong dari kebenaran. Isinya hanya dusta dan bohong, kesalahan dan nafsu jahat. Artinya dia pasti akan mendapat hukuman yang kejam dari Tuhan.

“Biarkan dia panggil kawan-kawan segolongannya.” (ayat 17). Berapa orang konconya, berapa orang yang berdiri di belakang menjadi penyokongnya, suruh mereka berkumpul semuanya dengan maksud hendak melawan Allah!

“Akan Kami panggil (pula) Zabaniyah.” (ayat 18). Zabaniyah adalah nama malaikat-malaikat yang menjadi penjaga dalam neraka. Rupanya kejam dan gagah perkasa dan menakutkan, laksana algojo dalam permisalan dunia ini, yang tidak merasa kasihan apabila dia diperintahkan menjatuhkan hukuman gantung kepada yang bersalah. Maka Zabaniyah-zabaniyah itu dengan kegagahan dan keseraman rupanya, tidaklah akan sebanding dengan manusia yang sombong, melampaui batas dan tidak tahu diri itu.

“Sungguh! Jangan engkau ikut dia.” (pangkal ayat 19). Jangan engkau perdulikan dia, jangan engkau takut dan bimbang. Teruskan tugasmu! “Tetapi sujudlah dan berhampir dirilah.” (ujung ayat 19).

Bertambahlah besar halangan dan sikap kasar, mendustakan dan berpaling yang mereka lakukan terhadap dirimu, bertambah tekun perkuat ibadat kepada Allah, sujud, sembahyang dengan khusyu’. Setiap waktu hendaklah engkau mendekatkan dirimu kepada Allah. Hanya itulah jalan satu-satunya untuk mengatasi musuh-musuh Tuhan ini.

Apabila kita lihat dan perhatikan sejak dari ayat yang keenam, nampaklah betapa Tuhan membesarkan semangat Rasul-Nya dan memperteguh hatinya SAW di dalam menghadapi musuh. Keyakinan bahwa diri sendiri adalah di pihak yang benar, itulah pangkal kemenangan yang tidak akan dapat diatasi oleh musuh.

Dan penutup penting sekali, yaitu hendaklah selalu sujud, selalu mendekati Tuhan, selalu ingat kepada Tuhan. Sebab rasa dekat kepada Tuhanlah sumber kekuatan peribadi yang tidak akan pernah dapat dipatahkan.

***

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul-Bari: “Ancaman keras sampai ubun-ubun akan ditarik terhadap Abu Jahal yang begitu kerasnya, ialah karena ancamannya yang sangat kasar akan menginjak-injak kuduk Nabi, kalau dia melihat Nabi sembahyang. Padahal Uqbah bin Abu Mu’ith pun pernah menyungkup Rasul SAW dengan kulit unta basah, sedang dia sembahyang.”

Dan Nabi pun tidak pernah gentar menerima ancaman itu. Sampai beliau berkata: “Kalau dia berani mencoba mendekati aku sembahyang, dia akan ditarik dan dihancurkan oleh malaikat!” Dan beliau terus sembahyang. Sebab meskipun perintah sembahyang lima waktu belum ada pada waktu itu, yang teruntuk bagi Ummat, namun Nabi SAW telah diajar oleh Jibril mengerjakan sembahyang pada waktu-waktu tertentu, lebih-lebih sembahyang malam.

Imam Asy-Syafi’i menganjurkan, apabila kita membaca (tilawat) Al-Qur’an, sesampai di akhir surat ini, was jud waq-tarib, supaya kita lakukan sujud tilawat.

Guruku Ahmad Sutan Mansur memberi ingat kami waktu menafsirkan Surat ini bahwa cara membacanya pun lain dari yang lain. Membacanya tidak boleh gontai dan hendaklah bersemangat. Sebagaimana beliau pun tidak suka kalau orang membaca iqamat mengajak sembahyang dengan suara lemah-gemulai! “Sebab iqamat adalah komando,” kata beliau.