Al Alaq 9 – 14

Sebab turunnya ayat lanjutan dari 9 sampai 14 ini ialah bahwa setelah datang ayat-ayat memerintahkan Rasulullah SAW menyampaikan da’wah dan seruannya kepada penduduk Makkah, banyaklah orang yang benci dan marah. Di antaranya ialah orang-orang yang sifatnya telah dikatakan kepada ayat 6 sampai 8 tadi, yang merasa dirinya berkecukupan dan hidupnya melanggar dan melampaui batas. Seorang di antara mereka yang sangat terkemuka ialah Abu Jahal. Dia benci benar kepada Rasul, sebab beliau menyerukan menghentikan menyembah berhala, dan supaya orang hanya menyembah kepada Allah Yang Esa. Dan Nabi SAW dengan tidak perduli kepada siapa pun, pergi sembahyang di Ka’bah menyembah Allah menurut keyakinannya dan cara yang telah dipimpinkan Tuhan kepadanya.

Menurut sebuah Hadis dari Ibnu Abbas yang dirawikan oleh Bukhara dan Muslim, setelah Abu Jahal mendengar dari kawan-kawannya bahwa Muhammad telah pernah sembahyang seperti itu di Ka’bah, sangat murkanya, sampai dia berkata: “Kalau saya lihat Muhammad itu sembahyang di dekat Ka’bah, akan saya injak-injak kuduknya.”

Seketika ancaman Abu Jahal itu disampaikan orang kepada beliau SAW, beliau berkata: “Kalau dia berani, malaikatlah yang akan menariknya.”

Maksud susunan ayat-ayat ini ialah: “Adakah engkau perhatikan.” (pangkal ayat 9). Atau adakah teringat olehmu, ya Muhammad Rasul Allah, “Orang yang melarang?” (ujung ayat 9). Atau menghambat dan menghalang-halangi dan mengancam kepada: “Seorang hamba.” (pangkal ayat 10). Seorang hamba Allah, yaitu Muhammad SAW. — Dalam ayat ini dan terdapat juga dalam ayat-ayat yang lain, beliau disebutkan seorang hamba Allah sebagai kata penghormatan dan jaminan perlindungan yang diberikan kepadanya: “Apabila dia sembahyang.” (ujung ayat 10).

Adakah engkau perhatikan keadaan orang itu? Yaitu orang yang mencoba hendak menghalangi seorang hamba yang dicintai Allah akan mengerjakan sembahyang karena cinta dan tunduknya kepada Tuhan yang mengutusnya jadi Rasul? Bagaimanalah pongah dan sombongnya orang yang mencegahnya sembahyang itu? Sehingga mana benarkah kekuatan yang ada padanya, sehingga dia sampai hati berbuat demikian?

“Adakah engkau perhatikan, jika dia ada atas petunjuk?” (ayat 11). Coba engkau perhatikan dan renungkan, siapakah yang akan menang di antara kedua orang itu? Orang yang menghalangi orang sembahyang, dengan orang yang memperhambakan dirinya kepada Allah itu? Apatah lagi jika jelas nyata bahwa orang yang memperhambakan diri ini. Dan telah diakui Allah pula bahwa orang itu HAMBANYA? Berjalan di atas jalan yang benar, yang mendapat hudan, mendapat petunjuk dan bimbingan dari Tuhan? ”Atau dia menyuruh kepada bertakwa?” (ayat 12).

Dapatkah orang yang sombong pongah, merasa diri cukup dan kaya itu, dapat mengalahkan hamba Allah yang sembahyang, bertindak menurut tuntunan Tuhan, menyeru dan menyuruh manusia supaya bertakwa kepada Allah? Sebandingkah di antara keduanya itu? Cobalah perhatikan!

“Adakah engkau perhatikan jika dia mendustakan dan berpaling?” (ayat 13). Abu Jahal juga! Dia dustakan seruan yang dibawa Nabi. Dan bila diajak bicara dari hati ke hati dia berpaling membuang muka. Tak mau mendengar sama sekali.

Cobalah perhatikan, alangkah jauh bedanya di antara kedua peribadi ini. Mungkin dengan sikap sombong dan gagah perkasa si Abu Jahal yang merasa dirinya tinggi dan kaya itu orang akan takut dan mundur, kalau orang yang diancam itu tidak berpendirian, tidak menghambakan diri kepada Allah, tidak kalau yang dihadapinya itu Muhammad SAW, Rasul Allah, Nabi penutup dari sekalian Nabi, maksud si Abu Jahal, atau setiap orang yang berperangai seperti perangai Abu Jahal, tidaklah akan berhasil. Sebab kuncinya telah diperingatkan kepada Muhammad SAW, yaitu ayat selanjutnya:

“Tidakkah dia tahu bahwa Allah Melihat?” (ayat 14).

Dalam hati kecilnya tentu ada pengetahuan bahwa Allah melihat perbuatannya yang salah itu, menghalangi hamba Allah sembahyang, bahkan menghambat segala langkah Rasul membawa petunjuk dan seruan kebenaran. Tetapi hawa nafsu, kesombongan dan sikap melampaui batas karena merasa diri sanggup, cukup dan kaya, menyebabkan kesadaran kekuasaan Allah itu jadi hilang atau terpendam.

Inilah gambaran nyata yang disambungkan pada Surat Al-‘Alaq tentang hambat rintangan yang diterima Rasul SAW seketika beliau memulai melakukan tugasnya menyampaikan da’wah.