Al Balad 11 – 16

Pada ayat 10 telah diterangkan bahwa di muka kita ada dua jalan terentang, yaitu jalan kebajikan dan jalan kecelakaan. Sedang keduanya itu sama saja sukarnya. Maka dalam ayat 11 ini diterangkanlah malang dan dangkalnya berfikir orang yang kurang iman; “Tetapi tidak ditempuhnya jalan mendaki yang sukar.” (ayat 11). Dilihatnya di muka ada kesukaran, (‘aqabah), sebab itu dijauhinya. Dia takut dan cemas melihat kesukaran itu. Padahal jalan kepada kebajikan, walaupun ada kesukarannya, namun bila ditempuh, selamatlah jiwa sendiri dan selamatlah masyarakat dan mendapatlah ridha dari Tuhan.

“Tahukah engkau, apakah jalan mendaki yang sukar itu?” (ayat 12). “(Ialah) melepaskan belenggu perbudakan.” (ayat 13).

Perbudakan dalam bahasa Arab disebut Raqabatin. Asal katanya berarti kuduk atau leher. Seorang yang telah jatuh ke dalam perbudakan samalah keadaannya dengan orang yang telah terbelenggu lehernya. Dia tidak bebas lagi. Lehernya telah dibelenggu oleh kekuasaan tuannya atas dirinya. Maka mendapat pahala besarlah orang yang sudi membeli budak-budak untuk memerdekakannya. Inilah yang disebut “tahriru raqabatin”; memerdekakan budak!

Memerdekakan budak itu adalah salah satu dari yang disebut ‘aqabah, jalan mendaki yang sukar menempuhnya, sebab mesti keluar uang. Dibelanjakan harta sendiri buat membeli orang. Harga manusia yang sudah menjadi “barang dagangan” itu kadang-kadang mahal. Dan kalau sudah dibeli, dia sudah menjadi kepunyaan yang empunya; boleh disuruhnya, boleh dicegahnya, bahkan lebih lagi rendahnya dari khadam atau orang gajian. Dan kalau budak itu perempuan, kalau cantik boleh dipakai, disetubuhi dengan tidak usah dibayar maharnya, asal dimaklumkan saja bahwa dia telah dijadikan gundik dan anak yang lagir dari hubungan dengan budak itu diakui sah oleh agama menjadi anak dari yang memperbudak ibunya itu. Dan tidak ada batas misalnya mesti berempat; seratus orang pun boleh kalau sanggup. Dan kalau dia telah beranak, dia tidak boleh dijual lagi.

Maka dikatakanlah dalam ayat ini bahwa memerdekakan budak yang telah dibeli itu adalah “jalan mendaki yang sukar.” Kalau dia dimerdekakan, niscaya dia sudah duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan tuannya, dan uang untuk pembelinya tadi hilang habis saja. Rugi pada benda, tetapi tinggi pada pahala dan penghargaan di sisi Allah. Itulah “Jalan mendaki.”

“Atau memberi makan pada hari kelaparan.” (ayat 14). Memberi orang makan, membagi-bagikan beras atau gandum atau apa saja makanan mengenyang yang lain di musim paceklik, di musim rusak hasil bumi. Kalau ada orang kaya yang sanggup berbuat begini, memanglah dia telah melalui jalan mendaki yang sukar. Sebab tidak akan ada balasan dari orang-orag lapar yang ditolong itu lain dari “ucapan terimakasih.”

Di dalam Surat 76, Al-Insan ayat 8 dan 9 dipujikan orang ini oleh Allah setinggi-tingginya: “Mereka memberi makanan, dalam keadaan dia pun sangat memerlukannya, kepada orang miskin, dan anak yatim dan orang yang tengah tertawan. Kami beri makan kamu ini, lain tidak, hanyalah karena mengharap wajah Allah semata-mata; tidaklah kami menghendaki daripada kamu suatu balasan pun, dan tidak pula terimakasih.”

Yang diberi makan itu ialah; “Anak yatim yang ada hubungan qirabat.” (ayat 15).

Dalam ayat ini Allah menyebut anak yatim yang pantas ditolong itu; disebutkan bahwa yang utama ditolong ialah anak yatim yang ada hubungan qirabat. Ditekankan qirabat, supaya orang merasa bahwa mengasuh dan memelihara anak yati itu adalah kewajiban. Ini pun adalah “jalan mendaki yang sukar”, karena anak yatim itu adalah beban baru yang tadinya tidak disangka-sangka.

Taruklah anak perempuan kita sendiri yang telah bersuami dan telah beranak-anak. Tiba-tiba suami anak kita itu, tegasnya menantu kita itu mati. Syukur kalau menantu kita itu meninggalkan harta yang banyak, sehingga kita hanya tinggal mengasuh dan mengawasi. Bagaimana kalau miskin? Ke mana anak isterinya itu akan pulang? Siapa orang lain yang akan memikul beban itu kalau bukan kita sebagai neneknya? Demikian juga kematian saudara kandung kita. Anaknya mau tidak mau adalah tanggungan kita. Beban tersandang ke bahu. Tidak ada jalan buat nafsi-nafsi, kalau hendak beragama.

“Atau orang miskin yang telah tertanah.” (ayat 16).

Matrabah saya artikan tertanah; telah melarat, sehingga kadang-kadang rumah pun telah berlantai tanah. Di Minangkabau orang yang sudah sangat melarat itu memang disebutkan juga telah “tertanah” tak dapat bangkit lagi. Maka datanglah hari paceklik, semua orang kelaparan, harga makanan sangat naik, pertanian tak menjadi, banyak orang melarat. Maka tibalah seorang hartawan-dermawan membeli beras itu banyak-banyak lalu membagikannya dengan segala kerendahan hati, tidak memperdulikan “jalan mendaki yang sukar” karena uang kekayaannya akan berkurang lantaran itu. Sebab dia telah memupuk Imannya sendiri. Sebab kalau tidak ‘aqabah yang baik itu yang ditempuhnya, tentu jalan kepada kecelakaan jiwa karena bakhil. Dalam keadaan bakhil itu dia pun mati. Maka harta yang disembunyikannya itu habis porak-poranda dibagi orang yang tinggal atau dipertipukan orang.