Al Balad 5 – 10

Sebagai telah dikatakan di atas tadi, manusia pun berpayah-payah menghabiskan usianya pada perkara yang tidak berfaedah. Bahkan orang musyrikin Quraisy pun berpayah-payah menghabiskan tenaga dan harta menghambat dan menghalangi segala seruan Nabi Muhammad SAW. Maka datanglah ayat selanjutnya; “Apakah dia menyangka bahwa tidak seorang pun yang berkuasa atas dirinya?” (ayat 5). Apakah disangkanya bahwa Tuhan tidak melihat dan memperhatikannya? Apakah dia menyangka bahwa Tuhan akan membiarkan saja dia berleluasa berbuat sesuka hati?

“Dia mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang bertumpuk.” (ayat 6). Ayat ini menyatakan bagaimana orang yang telah bersusah-payah menghabiskan tenaga dan hartabendanya untuk perkara yang tidak berfaedah, membanggakan kepada orang sudah berapa hartanya habis. Sebagaimana membangganya si tukang judi sekian ribu dia menang atau sekian ribu dia kalah. Sebagaimana membangganya orang-orang yang mubazzir membuang harta karena menunjukkan dia orang kaya, bahwa sekian juta telah habis untuk berfoya-foya. Ataupun orang yang pada lahirnya berbuat baik, seka berderma dan membantu orang lain, padahal cuma semata-mata untuk mereklamekan dirinya. Sebagaimana tersebut di dalam sebuah Hadis yang dirawikan daripada Abu Hurairah, bahwa di hari kiamat kelak semua orang akan ditanyai: “Apa yang engkau perbuat dengan hartamu yang banyak itu?” Orang itu menjawab: “Aku belanjakan untuk kebajikan dan aku zakatkan!” Lalu datanglah sambutan: “Engkau bohong! Padahal engkau mengeluarkan harta itu hanya semata-mata supaya engkau dipuji orang lain dan dikatakan bahwa engkau seorang yang dermawan.” Lalu dilemparkanlah orang itu ke dalam neraka.”

“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang yang melihatnya?” (ayat 7).

Apakah mereka menyangka bahwa perbuatannya, membuang-buang harta pada yang tidak berfaedah, atau mengeluarkan harta menolong orang lain, hanya semata-mata ingin disanjung dipuji, bahwa semuanya itu tidak ada orang yang tahu? Apakah dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu tidak lepas dari tilikan Allah Ta’ala?

Di samping itu: “Bukanlah telah Kami jadikan baginya dua mata?” (ayat 8). “Dan lidah dan dua bibir?” (ayat 9).

Diberi Tuhan dua mata buat melihat jauh; jangan hanya merumbu-rubu dalam semak dan rimba kehidupan ini, dengan tidak tentu arah. Diberi lidah dan dua buah bibir, bibir sebelah atas dan sebelah bawah. Gunanya ialah untuk bercakap yang baik, untuk bertanya kepada yang pandai, karena kalau malu bertanya sesat di jalan.

Berkata Sayid Al-Murtadha: “Dengan ayat-ayat ini Allah memperingatkan betapa besar nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya. Dengan dua mata untuk melihat, satu lidah untuk bercakap dan membolak-balikkan makanan dalam mulut. Dua bibir adalah bertalian dengan lidah. Bibir menghambat lidah itu sendiri ketika akan bercakap yang tidak berketentuan. Apabila agak lain rasanya, kedua bibir dapat dikatupkan saja. Dan makanan yang sedang dikunyah-kunyah dengan gigi, dihambat keluar oleh kedua bibir sehingga tidak berhamburan keluar.

“Dan telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan.” (ayat 10). An-Najdain artinya ilah dua jalan yang mendaki. Dua mata menghadap kemuka. Di muka terentang dua jalan yang mendaki; menandakan bahwa dua jalan yang terentang itu mesti ditempuh dengan perjuangan dan mengeluarkan tenaga juga. Kesatu ialah jalan kebajikan. Kedua ialah jalan yang buruk. Pilihlah dengan akal budi yang telah dianugerahkan Tuhan dan bimbingan Taufiq hidayat Ilahi jalan yang baik dan jauhi jalan yang membawa celaka.