Al Buruuj 17 – 22

TENTARA – TENTARA

“Adakah sudah datang kepada engkau berita tentara-tentara?” (ayat 17). “Fir’aun dan Tsamud?” (ayat 18).

Ayat-ayat ini berupa pertanyaan. Kita pun sudah tahu bahwa dahulu dari Surat Al-Buruuj ini sudah banyak ayat menerangkan tentang Fir’aun dan Tsamud, dan setelah ini akan datang lagi ayat yang lain. Lantaran itu ayat dimulai dengan pertanyaan adalah semata untuk mengingatkan kejadian itu. Kita pun tahu bahwasanya yang dimaksud dengan tentara ialah kekuatan tersusun, atau organisasi yang teratur. Bukan saja Fir’aun dan Tsamud, bahkan yang lain pun demikian juga halnya. Dengan secara tentara yang teratur mereka mencoba menantang Nabi-nabi dan Rasul-Rasul Allah. Ada Fir’aun, ada Tsamud, ada ‘Aad, ada penduduk Sadum dan Gamurrah dan ada Madyan dan Ash-habul Aikah dan lain-lain. Dengan tentara teratur, secara perlambang ataupun secara kenyataan mereka semua mencoba menantang kebenaran yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah.

“Bahkan orang-orang yang kafir itu dalam keadaan mendustakan.” (ayat 19).

Dimulai dengan kata Bal, yang berarti bahkan! Untuk menjelaskan bahwasanya orang-orang yang kafir itu selama-lamanya akan tetap mendustakan, baik di zaman Fir’aun atau di zaman Tsamud, ataupun di zaman Muhammad Saw. Dengan susunan seakan-akan teratur mereka menantang dan mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul.

Tetapi apakah mereka berhasil? Baik mereka di zaman lampau atau di zaman ini, ataupun di zaman nanti? Sehingga manakah batas kekuatan mereka? Adakah yang batil akan menang menantang yang hak?

“Padahal Allah dari belakang mereka, selalu mengepung.” (ayat 20). Tegasnya, bagaimanapun gagah perkasa mereka sebagai Fir’aun dan Tsamud itu bahkan walaupun mereka menyusun kekuatan sebagai tentara, namun mereka sadari atau tidak sebenarnya sejak mereka memulai langkah, Allah telah mengepung mereka dari kiri-kanan, muka-belakang, atas dan bawah.

Satu di antara alat pengepung kepunyaan Allah itu ialah maut! Adakah pada mereka kekuatan buat menantang maut? Yang kedua ialah oleh karena yang mereka pertahankan itu ialah hal yang batil, misalnya menyembah berhala, taqlid kepada nenek-moyang, atau kedudukan dan kemegahan dalam masyarakat, maka tidaklah semuanya itu akan tahan bila beradu dengan yang hak. Apabila berlawanan iman dengan kufur, pastilah kufur jua yang akan kalah. Mereka dikepung Tuhan dari segala penjuru.

Yang penting dalam hal ini ialah keteguhan hati para pejuang yang menuruti jejak Rasul mempertahankan dan memperjuangkan Kebenaran itu. Dan intisari Kebenaran yang hendak diperjuangkan itu sudah termaktub di dalam Al-Qur’an.

“Bahkan, dia adalah Al-Qur’an yang tinggi mulia.” (ayat 21). Sebab kata-kata yang termaktub di dalamnya adalah sabda Ilahi. Sebab itu sucilah sifatnya. Mengatasi undang-undang dan percikan permenungan manusia: “Di dalam LUH yang terpelihara.” (ayat 22).

Luh yang terpelihara, atau Luh Mahfuzh. Di sanalah kata asli atau original Al-Qur’an itu tersimpan. Qaul itu sendiri qadim sifatnya, kekal selama ada alam semesta. Karena Kebenaran itu tidaklah dapat dingaruhi oleh ruang dan waktu. Asal arti kata LUH ialah batu picak tipis, laksana batu tulis anak sekolah atau batu lain yang di sana dapat dipahatkan satu tulisan. Apakah sifat LUH MAHFUZH yang dalam ayat ini sebagai batu tulis pula? Itu pun tak usah mengganggu fikiran kita. Jangan bertengkar lagi Mu’tazilah Moden dengan Ahlus-Sunnah Moden. Yang terang ialah bahwa kebenaran itu tetap terlukis dan terpahat di dalam Alam Cakrawala ini. Dan Al-Qur’an sendiri sebagai wahyu Ilahi tidaklah pernah berobah; terpelihara dia daripada tahrif, yaitu diobah-obah titik atau barisnya atau kalimatnya oleh tangan manusia, sehingga bisa pula berobah artinya, sebagaimana yang telah berlaku pada kitab-kitab Nabi-nabi yang terdahulu.

Oleh karena telah demikian terjaminnya kesucian Al-Qur’an, tidaklah akan dapat meruntuhkannya usaha dari orang-orang yang kafir itu. Malahan merekalah yang selalu dalam terkepung oleh kebesaran Allah.

Tafsir ayat Al Buruuj Lainnya: