Al Fajr 1 – 5


Ayat yang pertama adalah Allah menyuruh perhatikan fajar. Yaitu cahaya matahari yang mulai membayang di sebelah Timur, kira-kira satu jam lagi lebih kurang sebelum matahari itu sendiri terbit. Di waktu itulah kita diwajibkan Tuhan mengerjakan sembahyang Subuh, dan habis pula waktu Subuh itu apabila matahari telah terbit. “Demi fajar.” (ayat 1).

Saat fajar menyingsing itulah waktu yang amat penting bagi manusia, karena setelah selesai beribadat kepada Tuhan dengan sembahyang Subuh, mulailah mereka bergerak menghadapi hari yang mulai siang buat mencari rezeki di muka bumi Allah. Di saat itu pula Allah memberikan modal, sehari semalam penuh untuk hari yang baru, agar diisi dengan ibadat kepada Allah dan amal yang shalih. Janganlah hendaknya hari itu pergi dengan percuma tidak berisi. Karena masa yang telah lampau tidak dapat diulang lagi.

“Demi malam yang sepuluh.” (ayat 2).

Menurut suatu riwayat daripada Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud dengan malam yang sepuluh ialah sejak satu haribulan Dzul Hijjah sampai 10 hari bulannya. Karena sejak tanggal 1 itu adalah persiapan buat mengerjakan haji. Hari kedelapan ialah tarwiyah, persiapan berangkat ke Arafah. Hari kesembilan ialah hari wuquf, yaitu berhenti di padang Arafah, yang menjadi pusat inti dari amalan haji itu. Dan setelah selesai wuquf, turun lagi ke Mina, dengan singgah dulu ke Muzdalifah berhenti sebentar memilih batu buat melontar Jumrah di Mina itu. Selesai melontar Jumratul-‘Aqabah di pagi hari kesepuluh di Mina itu, dinamailah hari kesepuluh itu Yaumun-Nahry hari menyembelih kurban. Dengan demikian pekerjaan haji yang penting telah selesai dikerjakan. Sehingga pada hari itu juga dapat diselesaikan sekaligus Thawaf Ifadhah dan Sa’I, sehingga selesai seluruh rukun dan syarat dan wajib haji sehari itu juga.

Pendapat Ibnu Abbas ini dikuatkan oleh sebuah Hadis:

“Daripada Ibnu Abbas, bersabda Nabi SAW: “Tidak ada hari-hari beramal yang shalih yang lebih disukai oleh Allah padanya, melebihi hari ini yaitu 10 Dzul Hijjah.”

Tetapi ada juga tafsiran tentang “Malam yang sepuluh” itu. Ibnu Jarir menerangkan dalam tafsirnya ialah 10 haribulan Muharram. Dan sebuah tafsir lagi dari Ar-Razi, ialah 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan, karena Nabi SAW lebih tekun beribadat di malam 10 yang terakhir dari Ramadhan itu, di seluruh malamnya beliau lebih banyak bangun dan dibangunkannya pula kaum keluarganya.

Dan ada pula riwayat yang mengatakan “Malam yang sepuluh” ialah lima malam di awal bulan dan lima malam di akhir bulan karena di malam-malam begitu lebih banyak gelap malamnya dari terangnya, karena bulan masih kecil.

Tafsir-tafsir ini boleh dipakai dan dikenal semua; karena rahasia yang sebenarnya adalah pada Yang Empunya Firman sendiri; Allah.

“Demi genap, demi ganjil.” (ayat 3).

Segala perhitungan terdiri daripada genap dan ganjil. Yang ganjil dicukupkan oleh yang genap. Mujahid mengatakan: “Segala makhluk yang dijadikan Allah ini adalah genap; Ada darat ada laut. Ada jin ada manusia. Ada matahari ada bulan. Ada kufur ada iman. Ada bahagia ada sengsara. Ada petunjuk ada kesesatan. Ada malam dan ada siang.

Tafsiran dari Mujahid ini dapatlah diperluas lagi; Ada bumi ada langit. Ada permulaan ada kesudahan. Ada lahir ada batin. Ada laki-laki dan ada perempuan.

Adapun yang tetap ganjil atau tunggal tak ada pasangannya ialah yang Maha Esa, berdiri sendirinya, yang tiada bersekutu dengan yang lain, yaitu Allah Tuhan kita; – Qul Huwallaahu Ahad! – Katakanlah; Allah itu Esa!

Ibnu Jarir menjelaskan lagi dalam tafsirnya, bahwa Allah telah mengambil seumpah dengan yang genap dan yang ganjil. Namun Allah sendiri tidaklah menentukan yang mana genap itu dan yang mana ganjil itu. Sebab itu bolehlah kita merenungkan sendiri.

Dan boleh juga kita jadikan peringatan Allah tentang genap dan ganjil ini merenungkan betapa pentingnya hisab, atau hitungan; sejak dari hitungan biasa sampai kepada mathematik atau wijskunde tertinggi yang selalu menjadi turutan dari yang ganjil dan yang genap, dan dengan ilmu hitung yang tinggi itu sampailah kita kepada kesimpulan, bahwa hanya ganjil juga permulaan hitungan, baik dipandang dari segi ilmu hitung, ataupun dari segi ilmu ukur. Dan pada SATU juga penutupnya. Dari Satu dimulai dengan SATU disudahi.

“Demi malam apabila dia telah berjalan.” (ayat 4). Atau telah berlalu. Samasekali bertali dan bersambung. Mulanya fajar menyingsing, kemudian matahari pun terbit dan hari pun siang. Akhirnya matahari tenggelam dan malam pun tiba. Bartambah lama bertambah larut malam. Akhirnya dia pun berlalu atau berjalan. Berputarlah roda kehidupan kita dalam putaran bumi mengelilingi matahari atau matahari menerangi cakrawala atas kehendak Tuhan.

Kemudian datanglah ayat 5 menjadi patri dari alam yang telah dijadikan sumpah peringatan oleh Tuhan itu:.

“Adakah pada yang demikian itu suatu sumpah bagi yang berakal?”. (ayat 5).

Di dalam ayat ini tersebut hijr, yang diartikan dengan akal. Sebab arti asal dari kalimat hijr itu ialah penghambat. Dan akal adalah yang selalu menghambat manusia akan berlaku semau-maunya saja dalam alam ini. Al-‘Aql artinya yang asal ialah ikatan.

Ayat 5 ini bersifat pertanyaan, yang dapat diuraikan; “Apakah kamu perhatikan semuanya itu wahai orang yang mempunyai akal budi? Adakah kamu perhatikan fajar menyingsing, malam sepuluh, bilangan genap bilangan ganjil dan malam pun berlalu, hari pun berganti; Adakah kamu perhatikan semuanya itu, untuk melihat betapa besarnya kuasa Tuhanmu dan betapa pula hidup dirimu dalam lindungan Tuhan yang Esa itu”

Maka dapatlah disimpulkan bahwa sumpah-sumpah Ilahi dengan memakai makhluk yang Ia jadikan itu, adalah merangsang akal manusia agar berfikir.