Al Fajr 17 – 20

Di dalam ayat-ayat ini diuraikan “penyakit” jiwa manusia bilamana tidak ada Iman. Yang mereka pentingkan hanya diri sendiri. Dia tidak mempunyai rasa belas-kasihan; “Tidak sekali-kali! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.” (ayat 17).

“Tidak sekali-kali maksudnya ialah bantahan pembelaan diri setengah orang, bahwa mereka kalau kaya akan banyak berbuat baik. Kalau miskin akan sabar menderita. Samasekali itu adalah “omong kosong”. Sebab sifat-sifat yang baik, kelakuan yang terpuji tidaklah akan subur dalam jiwa kalau Iman tidak ada. Kalau dia telah kaya, dia tidak lagi akan merasa belas-kasihan kepada anak yatim. Sebab dia hanya memikirkan dirinya, tidak memikirkan orang lain. Sebab dia tidak pernah memikirkan bagaimana kalau dia sendiri mati, dan anaknya tinggal kecil-kecil. “Dan kamu tidak ajak-mengajak atas memberi makan orang miskin.” (ayat 18).

Di dalam dua ayat ini bertemu dua kalimat penting, yang timbul dari hasil Iman. Pertama ialah memuliakan anak yatim. Memuliakan adalah lawan dari menghinakan, yaitu menganggapnya rendah, hanya separuh manusia, sebab tidak ada lagi orang yang mengasuhnya. Atau diasuh juga anak yatim itu tetapi direndahkannya, dipandang sebagai budak belian saja. Ini bukanlah perangai orang Mu’min.

Kedua ialah kalimat ajak-mengajak. Dalam kalimat ini terdapat pikulan bersama, bukan pikulan sendiri. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”

Seorang Ulama Besar, Ibnu Hazm Al-Andalusi pernah menyatakan bahwa jika terdapat seseorang mati tidak makan pada satu qaryah (kampung), maka yang bertanggung jawab ialah orang sekampung itu. Dalam hukum Islam seluruh isi kampung diwajibkan membayar diyat atas kematian si miskin itu. Karena memberi makan fakir-miskin adalah kewajiban mereka bersama. Si miskin berhak menerima bahagian dari zakat.

“Dan kamu makan harta warisan orang; makan sampai licin.” (ayat 19). Ini pun rentetan dari dada yang kosong dari iman dan petunjuk itu. Dada yang penuh dengan kufur. Mereka terima harta warisan dari saudaranya yang telah wafat, lalu dimakannya sendiri dengan lahapnya, sampai licin tandas; sedang waris yang berhak, baik isterinya atau anak-anaknya yang masih kecil, tidak mendapat. Inilah yang banyak kejadian pada bangsa Arab di zaman Jahiliyah. Kadang-kadang janda dari si mati, atau yatim anak perempuan yang masih gadis, dijadikan sebagai “waris” pula, diambil alih kekuasaan oleh laki-laki yang dewasa, yang mengakui dirinya kepala waris. Bersama-sama dengan harta si mati orang-orang yang dalam kesedihan itu diboyong semua ke rumah yang menyambut waris. Untuk dikuasai hartanya dan dikuasai dirinya. Kadang-kadang ditahan-tahannya akan kawin lagi, karena merugikan bagi si pemboyong waris itu.

Setelah hijrah ke Madinah, Agama Islam mengatur pembahagian warisan (faraidh) dan perempuan mendapat hak pula sebagai laki-laki.

“Dan kamu suka sekali-kali akan harta, kesukaan sampai keji.” (ayat 20). Di mana saja pintunya, akan kamu hantam pintu itu sampai terbuka, kalau di dalamnya ada harta. Halal dan haram tak perduli. Menipu dan mengecoh tak dihitung. Menjual negeri dan bangsa pun kamu mau, asal dapat duit. Menjual rahasia negara pun kamu tidak keberatan, asal uang masuk. Malah membuka perusahaan yang penuh dengan dosa; sebagai perusahaan pelacuran perempuan, membuka rumah perjudian, menjual barang-barang yang merusak budi pekerti manusia, bahkan apa saja, kamu tidak keberatan asal hartamu bertambah.

Inilah celakanya kalau hidup tidak ada tuntunan Iman.