Al Fajr 21 – 26

INSAFILAH

“Tidak sekali-kali!” (pangkal ayat 21). Samasekali sombong congkakmu di dunia itu, sikap penghinaanmu terhadap anak yatim, engganmu bersama-sama membantu makanan fakir-miski, kecurangan dan lahap seleramu memulut segala harta warisan sehingga yang berhak tak mendapat apa-apa lagi, sampai kepada loba tamakmu akan harta, sehingga dengan jalan yang keji dan nista kamu pun suka, asal harta itu kamu dapat, semuanya itu tidaklah akan menyelamatkan dirimu. Itu hanya laba sebentar dalam dunia. Tidak, sekali-kali tidak! Janganlah kamu harapkan itu semua akan menolongmu. Bahkan akan datang masanya; “Apabila kelak bumi ini dihancurkan, sehancur-hancurnya.” (ujung ayat 21). Sehingga bumi itu akan jadi datar pun runtuh menjadi debu atau laksana saraab (fatamorgana), (lihat kembali ayat 20, Surat 78, An-Naba’). Dan segala sesuatu pada berobah kepada kehancuran. Sebab kiamat sudah datang.

“Dan datang Tuhan engkau.” (pangkal ayat 22). Yaitu datang ketentuan dari Tuhan, bahwasanya segala perkara akan dibuka, segala manusia akan dihisab, buruk dan baik akan ditimbang. “Sedang malaikat mulai hadir berbaris-baris.” (ujung ayat 22).

Ditunjukkanlah di dalam ayat ini bagaimana hebatnya hari itu.

“Tuhan datang” – Dan hari itu bukanlah hari dunia ini lagi. Setengah Ulama tafsir memberikan arti bahwa yang datang itu ialah perintah Tuhan, bukan Tuhan sendiri.

Menulis Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang arti: “Dan datang Tuhan engkau.” – Kata beliau: “Yakni kedatangan-Nya karena akan memutuskan perkara-perkara di antara hamba-hamba-Nya. Yang demikian itu ialah setelah semuanya memohonkan syafa’at daripada Tuhannya seluruh Anak Adam, yaitu Nabi Muhammad SAW, yaitu sesudah mereka itu semua pada mulanya memohonkan pertolongan syafa’at daripada sekalian Rasul-rasul yang terutama, seorang sesudah seorang; semuanya menjawab mengatakan aku ini tidaklah layak untuk itu, sehingga sampailah giliran kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau berkata: “Akulah yang akan membela! Akulah yang akan membela!” Maka pergilah Muhammad menghadap Tuhan, memohonkan Tuhan memutuskan perkara-perkara itu, lalu Tuhan memberikan syafa’at yang dimohonkannya itu. Itulah permulaan syafa’at dan itulah “maqaaman-mahmuudan” sebagai yang tersebut di dalam Surat Al-Isra’ (tengok Juzu’ 15). Maka datanglah Tuhan untuk mengambil keputusan perkara-perkara itu, sedang malaikat-malaikat pun hadirlah berbaris-baris dengan segala hormatnya di hadapan Tuhan.

Di dalam ayat 38, daripada Surat 78, An-Naba’ pun disebutkan bagaimana sikap hormat para malaikat itu di hadapan Tuhan, tak seorang jua pun yang berani berkata mengangkat lidah sebelum mendapat izin dari Tuhan.

Berkata Az-Zamakhsyari: “Diumpamakan keadaannya dengan kehadiran raja sendiri kepada suatu majlis; maka timbulah suatu kehebatan dan ketinggian siasat, yang tidak akan didapat kalau yang hadir itu cuma pimpinan tentara atau menteri-menteri saja.”

Tidaklah perlu kita perbincangkan terlalu panjang hal yang disebutkan tentang kehadiran Tuhan di dalam Al-Qur’an. Melainkan wajiblah kita mempercayainya dengan tidak memberikan lagi keterangan lebih terperinci, di dalam alam dunia yang kita hidup sekarang ini.

“Dan akan didatangkan pada hari itu neraka jahannam.” (pangkal ayat 23). Oleh karena neraka jahannam itu adalah satu di antara berbagai-bagai makhluk Tuhan Yang Maha Besar Maha Agung, niscaya berkuasalah Tuhan mendatangkan neraka jahannam itu, dengan alat-alat kekuasaan yang ada pada-Nya. Sehingga segala makhluk dapat melihatnya dengan jelas, dan orang kafir mengerti sendiri bahwa ke sanalah mereka akan dihalau. Di dalam Surat 79, An-Nazi’at yang telah lalu, ayat 36 disebutkan bahwa neraka Jahim akan ditonjolkan! “Pada hari itu teringatlah manusia, padahal apa gunanya peringatan lagi?” (ujung ayat 23). Pada hari itu baru timbul sesal; padahal apalah gunanya penyesalan lagi; roda hidup tak dapat lagi diputar ke belakang. Yang dihadapi sekarang adalah hasil kelalaian di zaman lampau.

“Dia akan berkata: “Wahai, alangkah baiknya jika aku dari semula telah bersedia untuk penghidupanku ini.” (ayat 24).

Itulah satu keluhan penyesalan atas sesuatu yang tidak akan dapat dicapai lagi. Huruf Laita dalam bahasa Arab disebut Huruf Tamanni, yaitu mengeluh mengharap sesuatu yang tidak akan dapat dicapai lagi. Karena waktunya telah berlalu. “Kalau aku tahu akan begini nasibku, mengapa tidak sejak dahulu, waktu di dunia, aku berusaha agar mencapai hidup bahagia di hari ini. Padahal kalau aku mau mengatur hidup demikian di dunia dahulu, aku akan bisa saja.”

Itulah sesalan yang percuma di hari nanti. Dan itu pula sebabnya maka Nabi-nabi disuruh memperingatkan dari sekarang. Karena perintah-perintah Al-Qur’an adalah untuk dilaksanakan di sini, dan terima pahalanya di akhirat; bukan sebaliknya.

“Maka pada hari itu, tidak ada siapacpun akan dapat mengazab seperti azab-Nya.” (ayat 25). “Dan tidak siapa pun akan dapat mengikat seperti ikatan-Nya.” (ayat 26).

Ini adala Azab Tuhan, buka Azab seorang makhluk bagaimanapun kuat kuasanya. Ikatan belenggu Tuhan, yang tidak ada satu belenggu pun dalam dunia ini yang akan dapat menandingi belenggu Tuhan itu.

Maka ngeri dan tafakkurlah kita memikirkan hari itu; hari yang benar dan termasuk dalam bahagian terpenting dari Iman kita, sesudah percaya kepada Allah. Dan terasalah pada kita bahwa tidak ada tempat berlindung daripada murka Allah, melainkan kepada Allah jua kita berbuat.

Dalam suasana yang demikian itu kita bacalah ayat yang seterusnya. Ayat penutup Surat dan ayat memberikan pengharapan kepada jiwa yang telah mencapai ketenteramannya.