Al Ghaasyiyah 8 – 16

WAJAH YANG BERSERI-SERI

Seketika Saiyidina Abu Bakar Shiddiq telah merasa dekat ajalnya berwasiatlah beliau kepada para sahabat-sahabat Rasulullah yang akan beliau tinggalkan, supaya mereka mengangkat Saiyidina Umar bin Khattab akan menggantikan jabatan beliau jadi Khalifah. Setelah orang banyak ridha menerima wasiat itu dan Umar sendiri pun menerimanya pula dengan rasa prihatin, beliau panggillah orang yang beliau cadangkan jadi penggantinya itu lalu berwasiat khusus pula kepadanya. Setengah dari wasiat itu demikian:

“Hai Umar! Inilah pesan terakhirku kepadamu, di saat langkah kakiku yang terakhir akan meninggalkan dunia ini dan langkah kaki pertama akan menuju bandul akhirat.

“Ingatlah olehmu, hai Umar, bagaimana Allah memberi tuntunan dan peringatan bagi kita dengan perantaraan Rasul-Nya; tidak ada satu pun rangkaian ancaman kepada kita, melainkan selalu diiringi dengan ayat-ayat yang mengandung janji mulia dan gembira. Demikian juga sebaliknya, tidak ada ayat-ayat yang dimulai dengan janji gembira, melainkan diiringi dibelakangnya dengan janji ancaman bagi yang durhaka. Demikian itu ialah supaya kita selalu ada pengharapan kepada Tuhan di samping takut akan azab-Nya, dan selalu takut akan azab-Nya di samping kita menaruh harapan.”

Demikianlah yang selalu kita temui dalam rentetan ayat Tuhan, sebagai yang kita dapati Surat Al-Ghasyiyah ini. Sesudah sejak ayat 1 sampai 7 berisi gambaran kengerian hari kiamat, diulaslah dengan berita gembira untuk orang yang taat kepada Tuhan di masa hidup.

“Beberapa wajah di hari itu akan merasakan nikmat.” (ayat 8). Wajah kata mufradnya, wujuuh kata jama’nya; artinya ialah muka. Dan muka yang dimaksud di sini tentu jiwa atau hati kita. Karena raut muka menunjukkan takut, ataupun menunjukkan gembira bahagia, adalah gambaran dari perasaan jiwa sendiri. Datanglah ayat yang selanjutnya menyatakan sebab timbulnya kegembiraan itu: “Yang lantaran usahanya sendiri, dia merasa sentosa.” (ayat 9). Dengan pernyataan Tuhan demikian, nyatalah bahwa nikmat berganda yang dirasai kelak di akhirat itu tidak lain dari karena melihat bekas usaha, bekal amal yang diperbuat semasa hidup di dunia dulu. Karena hidupnya yang pendek hanya sebentar semasa di dunia itu telah diisinya untuk bekal yang didapatinya di akhirat.

Selanjutnya Tuhan mencurai memaparkan apa-apa saja jenis nikmat yang akan dirasakan itu:

“Di dalam syurga yang amat tinggi.” (ayat 10). Baik disebut tinggi karena tempatnya, ataupun tinggi karena yang duduk di sana hanyalah orang-orang yang ditinggikan Allah kedudukannya karena amalnya. “Tidak akan mereka dengar di dalamnya hal-hal yang sia-sia.” (ayat 11).

Tersunyi dan bersih suatu tempat daripada perkataan-perkataan yang sia-sia, hamun dan maki, gunjing dan gujirak, melampiaskan rasa dengki dan hasad, membicarakan keburukan orang lain dan memfitnah, adalah salah satu yang menyebabkan dunia ini jadi neraka bagi hidup kita. Kalau tiap hari yang kita dengar hanya kata-kata yang tak berujung pangkal, jiwa kita rasa tersiksa. Maka dalam syurga itu kelak kata-kata demikian tidak akan kita dengar lagi. Yang akan kita dengar hanyalah ucapan tasbih dan tahmid, sanjung dan puji kepada Tuhan. Bersihnya suasana syurga itu dari kata sia-sia, itulah keistimewaan syurga, yang tidak akan didapat dalam dunia ini.

Bandingkanlah itu dengan suasana dalam istana raja-raja yang indah permai, cukup lengkap inang pengasuh, beti-beti prawara, pembawa panji. Kelihatan di luar istana itu yang gemilang, namun suasana di dalamnya kerapkali sebagai neraka. Karena di sanalah berlaku segala iri-hati, fitnah memfitnah, mengambil muka dan rasa takut akan tersingkir dari kedudukan.

“Di dalamnya ada mata-air yang selalu mengalir.” (ayat 12). Mata-air yang selalu mengalir, atau sungai-sungai yang selalu mengalir, dapatlah menjelaskan dalam ingatan kita betapa subur, betapa damai, betapa sejuk tempat di sana. Tempat yang tidak mengenal kepanasan musim panas (summer) dan kedinginan musim sejuk (winter) sebagai kita rasakan di dunia ini.

Konon khabarnya, menurut uraian sejarah ahli-ahli arsitektur Arab di zaman jayanya di Andalusia atau Isfahan, di Damaskus atau di Fez, di Baghdad atau di Cairo, yang menimbulkan ilham bagi ahli-ahli bangunan Arabis yang terkenal membuat air-mancur di tengah lapangan rumah ialah ayat-ayat semacam ini di dalam Al-Qur’an. Sehingga betapa pun hebatnya musim panas, namun air memancur (fountain) di tengah pekarangan rumah itu membawakan kesejukan.

“Di dalamnya ada tempat-tempat peraduan yang ditinggikan.” (ayat 13). Di atas tempat-tempat peraduan itulah mereka duduk berbaring melepas lelah dari kepayahan hidup di waktu di dunia. “Dan piala-piala yang sedia terletak.” (ayat 14), sehingga tinggal meminum saja. Kadang-kadang datang pelayan-pelayan remaja mengisi piala itu bila telah habis isinya. (Lihat kembali Surat 76, Al-Insan: 19 Juzu’ 29).

“Dan bantal-bantal sandaran yang teratur berbaris.” (ayat 15). Ini pun suatu penggambaran yang indah dari syurga, diiringi lagi dengan ayat selanjutnya; “Dan permadani hamparan yang selalu terbentang.” (ayat 16).

Bantal tersusun, permadani terbentang, piala beredar, peraduan tertinggi, alangkah nikmatnya.

Itulah timbalan perkhabaran tentang siksaan neraka, karena kesia-siaan hidup. Yaitu nikmat syurga karena bekas usaha hidup yang tidak sia-sia di zaman lampau.