Al Infithaar 13 – 19

YANG BERBAKTI DAN YANG DURHAKA

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti.” (pangkal ayat 13). “Al-Abrar” kita artikan orang-orang yang banyak berbakti, berbuat jasa, meninggalkan kenang-kenangan yang baik di dalam hidupnya, terutama kepada sesama hamba Allah: “Benar-benarlah di dalam syurga yang penuh nikmat.” (ujung ayat 13).

Artinya, Mahkamah Ilahiah yang berdiri dan berlakulah pertimbangan Hukum Allah Yang Maha Adil. Tidak akan ada penganiayaan Hukum, sebab Allah Yang Maha Kuasa tiadalah berkepentingan untuk dirinya sendiri untuk melakukan kezaliman. Dan semua makhluk adalah sama di sisi Allah.

Menurut sebuah riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Asakir dengan sanadnya daripada Abdullah bin Umar bahwa yang dimaksud dengan orang yang disebut Al-Abrar ialah orang yang berkhidmat kepada sesama manusia, terutama kepada kedua orang ibu bapa. Demikian juga memberikan pendidikan yang baik kepada anak dan keturunan.

“Dan sesungguhnya orang-orang yang berbuat durhaka.” (pangkal ayat 14). Yakni orang yang dengan sengaja melanggar segala apa yang ditentukan oleh Allah, tidak perduli akan nilai-nilai kebenaran: “Benar-benarlah dia dalam neraka jahim.” (ujung ayat 14). Jahim adalah salah satu nama dari neraka, di samping sa’iir, jahannam, saqar, lazhaa, huthamah. “Mereka akan bergelimang di dalamnya pada Hari Pembalasan itu.” (ayat 15). Yaitu Yaumud Din itu.

“Dan tidaklah mereka akan terhindar jauh daripadanya.” (ayat 16). Artinya, apabila mereka telah dimasukkan ke dalamnya, tidaklah mereka kuasa atau sanggup keluar lagi, sehingga apabila dipanggil mereka dalam neraka itu, mereka akan senantiasa menjawab ada.

“Dan tahukah engkau, apakah Hari Pembalasan itu?” (ayat 17). Dan pertanyaan pertama ini diikuti lagi oleh pertanyaan kedua: “Kemudian itu, tahukah engkau, apakah Hari Pembalasan itu?” (ayat 18).

Diulang-ulangkan pertanyaan yang serupa sampai dua kali, untuk menarik perhatian betapa hebatnya hari itu:

“Pada hari yang tidaklah berkuasa satu diri terhadap diri yang lain sedikit pun.” (pangkal ayat 19). Maka bapak tidaklah dapat menolong anaknya, anak tak dapat menolong ayah, isteri terhadap suami, suami terhadap isteri. Guru terhadap murid, raja terhadap rakyat dan seterusnya; semuanya tidaklah ada kekuasaan akan menolong, akan membela atau mengadakan pertahanan. Masing-masing orang sibuk membela dirinya sendiri. Maka salahlah persangkaan orang yang merasa bahwa seorang guru thariqat, atau guru suluk misalnya, dapat menolong muridnya pada hari itu, atau seorang kiyai dalam menolong santrinya. Semua orang akan terlepas daripada kengerian hari itu hanyalah karena amalnya dan jasanya sendiri: “Dan segala urusan, pada hari itu adalah dalam kekuasaan Allah semata-mata.” (ujung ayat 19).

Tafsir ayat Al Infithaar Lainnya: