Al Insyiqaaq 6 – 15

KAMU AKAN MENEMUI TUHAN

“Wahai Insan!” (pangkal ayat 6). Ingatlah kamu dan insafilah keadaanmu: “Sesungguhnya engkau telah kerja keras akan menuju Tuhanmu, sekeras-keras kerja.” Artinya bahwasanya manusia ini hidup di atas dunia bekerja keras, membanting tulang memeras tenaga siang dan malam, apa jua pun jenis yang dikerjakan, namun akhir perjalanan adalah menuju Tuhan juga. Tidak ada jalan lain. Kerja keras membanting tulang dalam hidup, tidak lain tujuan insan hanyalah ke pintu kubur. “Maka akan bertemulah engkau dengan Dia.” (ujung ayat 6). Bertemu dengan Dia artinya ialah mati!.

Oleh sebab itu janganlah sekali-kali melupakan bahwa segala kerja keras menghabiskan tenaga di dalam hidup itu akhirnya akan diperhitungkan di hadapan Tuhan. “Maka adapun orang-orang yang diberikan suratnya dari sebelah kanannya.” (ayat 7). “Maka akan diperhitungkanlah dia dengan perhitungan yang mudah.” (ayat 8).

Tersebut di dalam sebuah Hadis yang dirawikan oleh Imam Ahmad daripada Aisyah r.a. bahwa beliau pernah mendengar, Rasulullah SAW membaca pada sembahyangnya:

“Ya Tuhanku, perhitungkanlah aku dengan perhitungan yang mudah.”

Maka bertanyalah Aisyah kepada beliau sehabis beliau sembahyang: “Apakah yang dimaksud dengan perhitungan yang mudah itu, ya Rasul Allah?” beliau menjawab:

“Akan ditengok pada suratnya itu sepintas lalu, lalu dihentikan. Karena sesungguhnya barangsiapa yang dilakukan perhitungan yang teliti atas suratnya pada waktu itu, ya Aisyah, celakalah dia.” 

Muslim pun merawikan Hadis ini pula dalam shahihnya.

Nampaklah pada Hadis ini bahwasanya menerima surat panggilan dari sebelah kanan saja, sudah menjadi alamat bahwa pemeriksaan atas diri orang yang bersangkutan akan mudah saja; laksana pemeriksaan barang-barang kepunyaan orang yang dipandang istimewa dan mendapat hak luar biasa dan kekebalan diplomatik pada pemeriksaan duane, atau biasa juga disebut VIP (Very Important Persons). Dibuka sepintas lalu, ditutup, lalu dibebaskan.

“Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan sukacita.” (ayat 9). Keluarganya yang dimaksud di sini ialah sesamanya ahli syurga. Sebab orang-orang yang sama-sama mendapat nasib baik, mendapat keridhaan Allah, lalu dimasukkan Tuhan ke dalam syurga-Nya adalah laksana satu keluarga. Sama duduk bercengkrama menikmati anugerah dan kurnia Ilahi di tempat yang mulia itu.

“Dan adapun orang yang diberikan suratnya dari belakang punggungnya.” (ayat 10). Dan diartikan juga dari sebelah kirinya. Dalam ayat ini disebut dari belakangnya, atau dari belakang punggungnya, untuk menunjukkan bahwa pemberian itu adalah dalam keadaan yang buruk: “Maka dia akan berteriak menyebut kecelakaan.” (ayat 11). Datangnya surat dari sebelah belakang itu saja sudah menjadi isyarat baginya bahwa dia akan menghadapi perhitungan yang sangat teliti karena banyak kesalahannya semasa di dunia fana ini. Dia akan berteriak keras menyesali diri: “Celakalah aku ini!”

“Dan dia akan masuk ke dalam api yang bernyala-nyala.” (ayat 12). Api nerakalah yang akan jadi tempatnya.

Maka ayat selanjutnya menerangkan sebab-sebab maka demikian nasib buruk yang menimpanya:

“Karena sesungguhnya dia pernah bersukaria pada ahlinya.” (ayat 13). Yaitu semasa hidupnya di atas dunia tidaklah diingatnya akan hari Akhirat, hari akan bertemu dengan Tuhan. Dia tidak bersiap untuk menghadapi maut. Sebab itu dia bersukaria menghabiskan umur pada barang yang tidak berfaedah. Sebagai tersebut pada ayat keenam tadi, dia bekerja keras, namun pekerjaannya itu hanyalah buat kepuasan hawa nafsu yang sementara. Maka dilanggarnyalah segala larangan Allah dan tidak dilaksanakannya apa yang diperintahkan, karena: “Sesungguhnya dia menyangka bahwa sekali-kali tidaklah dia akan kembali.” (ayat 14). Dia bawa lalu saja segala peringatan, dilengahkannya saja tuntunan yang diberikan oleh Rasul-rasul Allah, bahkan dicemuhkannya segala nilai-nilai yang diberikan oleh agama:

“Tidak begitu!” (pangkal ayat 15). Artinya, ingatlah olehmu wahai Insan yang hidup sekarang di dunia ini, bahwa keadaan yang sebenarnya tidaklah begitu, tidaklah sebagaimana yang kamu sangkakan itu: “Sesungguhnyalah Tuhannya selalu melihatnya.” (ujung ayat 15).

Hilangkanlah persangkaan yang salah itu, yaitu bahwa hidup di dunia ini tidak berujung dengan Akhirat, dan sementara di dalam dunia ini tidaklah ada kita yang lepas dari tilikan Tuhan. Oleh sebab itu maka hati-hatilah melangkah dari sekarang, agar tenaga jangan habis percuma dan kelak kita bertemu dengan Tuhan kita dalam suasana yang menggemberikan hati. Sebab Tuhan sendiri pun ingin agar kita jadi orang baik, (orang shalih).

Tafsir ayat Al Insyiqaaq Lainnya: