Al Insyiraah 1 – 4


“Bukankah telah Kami lapangkan untukmu dadamu?” (ayat 1). Tegas artinya ialah: Bukankah dadamu telah kami lapangangkan? Yang tadinya sempit karena susah atau dukacita, atau sempit karena belum banyak diketahui jalan yang akan ditempuh, sehingga dengan Allah melapangkan dada itu, timbullah kebijaksanaan dan timbullah hukum dan pertimbangan yang adil. Bukankah dengan petunjuk Kami dadamu telah lapang menghadap segala kesulitan?

Dalam ungkapan bahasa kita sendiri pun telah terkenal dipakai kata-kata “lapang”, dan “sempit dada” sebagai ungkapan fikiran yang sempit.

“Dan telah Kami lepaskan daripadamu beban beratmu?” (ayat 2). “Yang telah menekan punggungmu?” (ayat 3).

Berbagai tafsir telah saya baca tentang arti wizraka di sini. Beberapa ahli tafsir mengatakan: Beban berat ialah tekanan dosa yang menimpa perasaan Nabi SAW. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menguatkan bahwa arti wizraka di sini ialah dosa-dosa.  Dan itu adalah dosa-dosa zaman jahiliyah, meskipun di zaman jahiliyah itu beliau tidak pernah menyembah berhala. Tetapi satu tafsir menarik hati kita dan cocok dengan perasaan kita ialah yang diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Yahya dan Abu ‘Ubaidah: “Dan Kami telah lepaskan daripadamu beban beratmu,” ialah tanggungjawab nubuwwat. Sebab menjadi Nabi dan Rasul adalah satu beban berat. Itulah telah dibuat ringan oleh Allah sehingga tidak berat memikulnya lagi.”

Ibnu ‘Arafah pun menafsirkan secara demikian: “Beban berat yang membuat tulang punggung jadi bungkuk memikulnya. Mengadakan seruan da’wah kepada kaumnya, padahal sedikit sekali yang mau mengacuhkan katanya. Dan “assabiqunal awwalun”, atau orang-orang yang mula-mula masuk itu umumnya ialah golongan-golongan lemah. Sedang di seluruh Tanah Arab faham musyrik yang lebih berkuasa, kesesatan lebih berpengaruh dan kekuatan ada pada tangan mereka.” Ini semuanya adalah suatu pikulan yang amat berat, laksana dapat mematahkan tulang punggung.

“Dan telah Kami tinggikan bagimu sebutan kamu.” (ayat 4). Meskipun demikian beratnya beban nubuwwat yang laksana membuat tulang punggung jadi bungkuk, namun sebutanmu Kami naikkan. Namamu Kami junjung tinggi. Mujahid menafsirkan: “Tidaklah disebut orang nama-Ku, namun namamu turut disebutkan bersama nama-Ku.”

Menurut riwayat yang dirawikan oleh Abu Dhahak dari Ibnu Abbas, berkata beliau: “Bila disebut orang nama-Ku, namamu pun turut disebut dalam azan (bang), dalam iqamat, dalam syahadat. Di hari Jum’at di atas mimbar, di Hari Raya ‘Idul Fithri, di Hari Raya ‘Idul Adhha, di Hari Tasyriq di Mina, di hari wuquf di ‘Arafah, di hari melontar jumrah ketiganya, di antara bukit Shafa dan Marwah, bahkan sampai kepada khutbah nikah, namun namamu disejejerkan menyebutkannya dengan nama-Ku, sampai ke Timur, sampai ke Barat. Malahan jika adalah seseorang menyembah beribadat kepada Allah yang Maha Kuasa, seraya mengakui akan adanya syurga dan neraka, dan segala yang patut diakui, padahal tidak dia akui bahwa engkau Rasulullah, tidaklah ada manfaatnya segala pengakuannya itu, malahan dia masih kafir.” Demikian satu tafsir Ibnu Abbas.

Dan lebih tepat lagi tafsir Imam Asy-Syafi’i. Beliau berkata: Artinya ialah: “Tidak menyebut nama-Ku, melainkan mesti diiringi dengan namamu. Kalau orang mengucapkan Asyhadu Alla Ilaha Illallah, barulah sah setelah diiringkan dengan Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.”

Kata Imam Syafi’i lagi: “Ucapan syahadat yang seiring dua itu adalah alamat Iman, dan ucapan seiring pada azan adalah panggilan ibadat. Diseiringkan pula ketika membaca Al-Qur’an dan segala amal shalih dan taat, dan ketika berhenti dari maksiat.” Kata beliau seterusnya: “Apa saja pun nikmat yang menyentuh kita, baik lahir ataupun batin. Atau nasib baik yang kita capai, baik dunia atau akhirat, atau kita terhindar bencana dosa yang kita benci, di dunia dan akhirat, atau di salah satu keduanya, pastilah Muhammad yang menjadi sebabnya.

Dari itu dapatlah diketahui bahwa meskipun pada lahirnya sebutan itu terbatas, namun dia pun mengandung jika dzikr-qalbi (ingatan dalam hati), sehingga meliputi segala lapangan ibadat dan ketaatan. Seorang yang berakal lagi beriman, apabila dia mengingat Allah, akan senantiasa teringat pula dia kepada orang yang memperkenalkan Allah itu kepadanya dan siapa yang menunjukkan jalan bagaimana cara mentaati perintah Allah itu. Itulah Rasul Allah Shalallahu ‘alaihi wasallama. Sebagai dikatakan orang:

Engkau adalah laksana pintu untuk menuju Allah; siapa saja yang hendak datang kepada-Nya tidaklah dapat masuk kalau tidak melalui gerbangmu.

Demikianlah tafsir dari Al-Imam Asy-Syafi’i r.a.

Dan boleh juga engkau katakan. “Yang dimaksud dengan meninggikan sebutannya itu ialah selalu memuliakannya dan menyebut namanya pada sekalian syi’ar-syi’ar agama yang lahir. Yang pertama sekali ialah kalimat syahadat, sebagai pokok pertama dari agama. Kemudian itu pada azan dan iqamat dan sembahyang dan khutbah dan sebagainya.” Itulah tafsir dari Asy-Syihab.

Tafsir ayat Al Insyiraah Lainnya: