Al Lail 1 – 4


“Demi malam, apabila dia kelam.” (ayat 1). Untuk menarik perhatian lagi bagaimana pentingnya malam bagi kehidupan manusia, untuk istirahat, untuk zikir dan tafakkur; “Demi siang, apabila dia terang.” (ayat 2). Apabila malam telah habis, fajar mulai menyingsing, kemudian diiringi oleh terbitnya matahari, maka hari pun sianglah. Dalam pergantian siang dan malam itulah manusia hidup, sebagaimana yang telah diterangkan juga pada Surat-surat yang lain. Lebih jelas lagi pembahagian itu dalam Surat 78, An-Naba’.

“Demi yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan.” (ayat 3). Atau yang pada mulanya sekali telah menciptakan Adam dan Hawa. Daripada kedua laki-laki dan perempuan itulah berkembang manusia di permukaan jagat ini, menjadi bangsa-bangsa, suku bangsa dan perkauman.

“Sesungguhnya usaha kamu itu bermacam-macam.” (ayat 4). Berkembang-biaklah laki-laki dan perempuan di muka bumi ini, hidup dalam pergantian di antara siang dan malam. Di waktu siang mereka berjalan, berusaha dan bekerja mengambil manfaat yang telah disediakan Allah. Usaha itu bermacam-macam menurut pembawaan, bakat dan menurut yang dipusakai dari lingkungan orang tua atau iklim tempat tinggal. Ada yang menjadi petani, saudagar, menjadi pelaksana pemerintahan dalam suatu masyarakat yang teratur dan ada pula yang menjadi penjaga keamanan Negara. Bermacam-macam, bersilang siur mata usaha manusia. Semuanya penting, yang satu berkehendak kepada yang lain. Maka tidaklah ada pekerjaan atau usaha yang hina, bahkan semuanya mulia dan baik, asal dilaksanakan menurut garis-garis yang telah ditentukan Tuhan, yaitu mengambil yang manfaat dan menjauhi yang mudharat.

Ketahuilah bahwa segala usaha manusia adalah mempunyai dua tujuan, yaitu keduanya sama pentingnya, dan kait-berkait di antara satu dengan yang lain. Usaha yang kita hadapi niscaya berdasar khidmat kepada sesama manusia. Asal khidmat kepada sesama manusia itu kita sadari, niscaya sesama manusia pun menghargai usaha kita itu. Sebab itu tidaklah ada satu macam usaha yang hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dan tidak pula ada usaha yang hanya untuk kepentingan orang lain dan diri sendiri hanya mengerjakan saja dengan tidak mendapat faedah.

Diambil satu misal, yaitu seorang pengarang. Asal karangannya itu disengaja untuk kemuslihatan orang banyak, buku itu akan dihargai bahkan dibeli orang. Maka si pengarang akan mendapat untung dari penjualan itu. Bertambah naik dan bagus mutu karangannya, bertambah naik pula penghargaan masyarakat, dan si pengarang pun bertambah dapat untung pula. Sebab itu maka keuntungan masyarakat dan peribadi tidaklah dapat dipisahkan. Sebab hati dan perasaan menyukai yang baik, menjauhi yang buru, samalah di antara peribadi dengan masyarakat; sebab keduanya sama-sama diciptakan Tuhan daripada laki-laki dan perempuan.