Al Lail 17 – 21

“Dan akan dijauhkan dia.” (pangkal ayat 17). Artinya akan dijauhkanlah api neraka yang bernyala-nyala itu: “Daripada orang yang paling bertakwa.” (ujung ayat 17). Api itu tidak akan didekatkan, melainkan akan dijauhkan dari orang-orang bertakwa, yaitu yang selalu berbakti kepada Allah. Yaitu tidak putus hubungannya dengan Tuhan dan terpelihara. Karena hidupnya telah disediakannya menempuh jalan yang benar. “Yang memberikan hartanya karena ingin membersihkan.” (ayat 18). Bukti yang utama dari bakti ialah suka memberikan harta, suka mengeluarkannya. Jangan bakhil, jangan kedekut dan kikir. Diri sendiri dibersihkan daripada penyakit kotor pada jiwa: yaitu penyakit bakhil. Dan harta itu sendiri pun dibersihkan dengan jalan mengeluarkan bahagian yang patut diterima oleh fakir dan miskin. Meskipun di Makkah belum turun peraturan beberapa zakat meski dibayar, berapa yang satu nishab dalam edaran satu tahun (haul), namun sejak dari masa Makkah itu pendidikan jiwa kepada bederma telah dilatih. “Padahal tidak ada padanya budi seseorang yang hendak dibalas.” (ayat 19).

Artinya seketika dia mengeluarkan sebahagian dari harta-bendanya untuk pembantu orang lain, benar-benar timbul dari hati yang suci. Bukanlah dia mau mengeluarkan harta karena dahulu orang yang sekarang diberinya itu pernah berjasa kepadanya. Dan kalau tidak karena membalas jasa, tidaklah hartanya akan dikeluarkannya. Dan jangan pula memberi karena menghadap lain hari orang itu akan membalas jasa pula. Hendaklah karena Allah semata-mata. Inilah orang yang dikatakan paling bertakwa. “Melainkan hanya karena mengharapkan wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (ayat 20). Orang yang mengeluarkan hartabenda untuk mensucikan batin, tidak mengharap balasan manusia, hanya mengharapkan Ridha Allah, itulah orang yang akan dijauhkan daripada api neraka yang bernyala-nyala itu.

“Dan akan Ridhalah Dia.” (ayat 21). Dengan ayat penutup ini Tuhan telah menegaskan bahwa amal orang itu diterima Tuhan, Tuhan Ridha.

Sebagaimana telah kita ketahui dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an, Ridha Tuhan adalah puncak nikmat yang akan dicapai oleh hamba Allah di dalam syurga kelak. Bahkan tidaklah ada artinya syurga itu kalau tidak disertai Ridha Tuhan. Dan ridha Tuhan itu adalah balasan yang sudah sepantasnya bagi seorang hamba Allah yang telah menyediakan dirinya menyambut dan mengerjakan perintah-perintah Tuhan yang telah dipimpinkan oleh Rasul-rasul.

Ibnu Jarir menafsirkan ayat: “Dan akan Ridhalah Dia.” Artinya: “Allah akan ridha kepada orang yang telah memberikan hartanya ini untuk menunaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Sebab dia telah menzakatkan, telah membersihkan harta dan hatinya, maka dia akan menerima ganjarannya di akhirat kelak, sebagai ganti barang yang dikeluarkannya di dunia itu setelah dia bertemu dengan Tuhan kelak. Maka di dalam ayat ini tersimpanlah sebuah janji yang mulia, bahwa si hamba itu akan mendapat sekalian yang diinginkannya dengan sempurna dan indahnya.”

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bukan seorang dua ahli tafsir mengatakan bahwa ayat yang jadi pimpinan umum bagi seluruh orang yang beriman ini telah bertemu pada diri sahabat Rasulullah SAW yang amat utama, yaitu Abu Bakar Shiddiq. Bahkan ada juga orang mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan menuju Abu Bakar adalah sama pendapat seluruh ahli tafsir. Dia membenarkan dan menerima seruan Rasul dengan jujur, dengan tidak ada sisa keraguan barang sedikit pun sejak semula dia memeluk Islam. Dia seorang yang takwa kepada Allah dan seorang yang sangat pemurah. Hartabendanya dikeluarkannya untuk menyatakan taat kepada Allah dan untuk membela junjungannya Nabi kita Muhammad SAW. Tidak diperhitungkannya berapa dinarnya habis, berapa dirhamnya keluar untuk mengharapkan wajah Allah. Dan perbuatannya itu sekali-kali bukan karena membalas jasa orang kepadanya, melainkan dialah yang berjasa kepada orang. Seluruh kepala-kepala kabilah merasakan bekas baik budinya. Sehingga ‘Urwah bin Mas’ud kepala kabilah Tsaqiif dalam Perdamaian Hudaibiyah mengakui terus-terang bahwa hatinya sudi memeluk Islam, tetapi jangan hendaknya karena segan kepada Abu Bakar, karena dia merasa berhutang budi kepada Abu Bakar. Dan dialah yang membeli Bilal yang telah disiksa oleh pengulunya Umaiyah bin Khalaf ketika Bilal dijemur di atas pasir panas. Dan setelah dibelinya langsung dimerdekakaknnya. Padahal di saat itu kaum Muslimin masih sangat sengsara karena aniayaan orang Quraisy. Dia yang menemani Nabi SAW seketika hijrah ke Madinah. Dan sebelum itu dia pula yang terlebih dahulu menyatakan saya percaya seketika Nabi mengatakan bahwa tadi malam beliau Isra’ dan Mi’raj. Sehingga Nabi SAW pernah mengatakan:

Sesungguhnya manusia yang paling menyenangkan kepadaku karena bersahabat dengan dia beserta hartanya ialah Abu Bakar. Kalau ada dalam kalangan ummatku orang yang akan kujadikan khalil (teman sangat karib), Abu Bakarlah yang akan aku ambil kecuali pertemanan Islam.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sungguhpun ahli-ahli tafsir telah menyatakan bahwa ayat-ayat ini menyatakan keperibadian Abu Bakar, namun dia bukanlah berarti tertutup untuk yang lain; menegakkan semangat dermawan, takwa kepada Allah dan menyukai kebaikan. Dan melatih diri supaya terjauh daripada perangai bakhil dan merasa diri cukup dan mendustakan kebaikan. Moga-moga kita semua pun dapat menurutinya.