Al Lail 5 – 11

Di ayat 10 diterangkan bahwa usaha manusia di dalam hidup bermacam-macam, tidak sama. Tetapi meskipun usaha tidak sama, namun yang menjadi pokok utama ialah sikap hidup itu sendiri:

“Adapun orang yang memberi dan bertakwa.” (ayat 5). “Dan mengakui akan adanya kebaikan.” (ayat 6). “Maka akan Kami mudahkan dia ke jalan yang mudah.” (ayat 7).

Apa saja mata usahamu, entah saudagar atau tukang rumput. Jadi Menteri atau jadi supir Menteri, jadi nelayan naik pecalang mengharung lautan atau jadi nahkoda kapal berlayar menghadang gelombang di samudera luas, jadi petani atau jadi buruh, semuanya itu adalah lumrah, karena usaha memang bermacam-macam. Maka di dalam usaha yang bermacam-macam itu, Tuhan Allah memberikan pedoman untuk keselamatan dirimu. Di dalam ketiga ayat ini bertemu tiga syarat yang harus kamu penuhi: (1) Suka memberi kepada sesama manusia, suka berderma, menolong orang yang susah. Itu adalah alamat hati terbuka. (2) Hendaklah takwa selalu kepada Tuhan, pelihara hubungan dengan Tuhan pada malam dan pada siang, (3) Mengakui adanya nilai-nilai yang baik dalam dunia ini, yang terpuji oleh sesama manusia. Kalau ketiganya ini telah dipegang teguh, pemurah, takwa dan menjunjung tinggi kebaikan, diberilah jaminan atau janji oleh Tuhan: “Maka akan Kami mudahkan dia ke jalan yang mudah.” (ayat 7).

Artinya akan dilapangkan Allah dada menghadapi perjalanan hidup itu; teguh pertalian jiwa dengan sesama manusia dan teguh pula pertalian jiwa dengan Allah. Dan ilham atau petunjuk akan selalu diberikan oleh Tuhan, sehingga segala langkah maju di dalam hidup itu tidak ada yang sukar. Artinya meskipun ada kesukaran terbelintang di hadapan, akan ada-ada saja petunjuk Tuhan untuk mengatasi kesukaran itu.

Melihat kepada jalan yang digariskan Allah dengan ketiga ayat ini, kita diberi peringatan bahwa kekayaan batin sejati ialah shilatur-rahmi dengan masyarakat, takwa kepada Allah dan cinta akan kebaikan. Bukanlah kekayaan itu rumah gedung bagus, kendaraan indah mengkilap, pangkat tinggi membumbung, disegani orang ke mana pergi. Itu belum tentu kekayaan, kalau ketiga kekayaan batin tadi tidak ada. Dan ini dijelaskan pada ayat-ayat yang selanjutnya:

“Dan adapun barangsiapa yang bakhil dan merasa segala cukup.” (ayat 8).

“Dan mendustakan adanya kebaikan.” (ayat 9). Di sini terdapat pula tiga hal yang akan membawa celaka: (1) Bakhil, yaitu tidak mau mengeluarkan harta-benda untuk menolong orang yang patut ditolong. Tidak mau mempergunakan harta untuk berbuat amal jariah. Sebab hidupnya telah dipukau oleh harta itu sendiri. Orang mengumpul harta ialah untuk dikuasainya. Tetapi si bakhil mengumpulkan harta untuk dikuasai oleh harta itu sendiri, sehingga hatinya jadi tertutup, tidak mengenal kasih sayang, tidak mengenal shilatur-rahmi. (2) Merasa segala cukup kita pakai menjadi arti dari kalimat istaghnaa. Yaitu orang-orang yang mengurung diri karena takut kena! Kadang-kadang dia kurang senang menerima pertolongan orang, karena takut kalau-kalau nanti terpaksa membalas budi dengan menolong pula. Sebagai kelanjutan dari keruntuhan jiwa dengan penyakit itu, ialah datangnya penyakit ketiga, yaitu (3) Mendustakan adanya kebaikan. Dia tidak mempercayai bahwa di dunia ini ada nilai-nilai kebaikan. Kebaikan hubungan sesama manusia dan kebaikan hubungan dengan Allah, dan kebaikan yang ditemui di dunia ini diharapkan akan ditemui pula di akhirat.

Di ayat 6 dan ayat 9 bertemu perkataan Al-Husnaa yang kita artikan kebaikan. Menurut tafsir Al-Qasyani mengakui betapa pentingnya Al-Husnaa atau kebaikan itu ialah “melakukan dalam kenyataan apa yang telah dirasakan dalam hati.” Artinya bahwa semua orang memang merasakan dalam hati bahwa berbuat baik memang baik. Tetapi tidaklah semua orang sanggup mengerjakannya. Walaupun orang yang bakhil itu sendiri mengakui dalam hatinya bahwa berbuat baik adalah satu budi yang luhur, namun dia tidak mau membuatnya dalam kenyataan, karena sudah jadi “penyakit” dalam jiwanya. Sebab itu maka perbuatannya ialah mendustakan! “Maka akan Kami mudahkan dia ke jalan yang sukar.” (ayat 10). Artinya, setiap dicoba melangkah, hanyalah kesukaran jua yang bertemu, yaitu kesukaran kenaikan jiwa.

“Dijadikan Tuhan dadanya sangat sempit, seperti orang yang mencoba hendak naik ke langit.”

Syaikh Muhammad Abduh menulis arti mudahnya ialah menuju kesukaran; tiap melangkah bukan membawa naik, melainkan membawa jatuh, tertutup jalan kemanusiaan dan jatuh derajat rendah kebinatangan, sampai bergelimang dengan dosa-dosa: “Dan tidaklah hartanya akan dapat menolong dia, jika dia terjerumus.” (ayat 11). Hendak bangkit kembali dari dalam gelimangan dosa, atau kejahatan meruah karena bakhil itu, tidaklah dapat ditebus dengan harta yang selama ini disimpan itu. Karena sudah terlambat. Fikir dahulu pendapatan sesal kemudian tak ada lagi gunanya.