Al Maa’uun 1 – 7


“Tahukah engkau,” – hai Utusan Kami – “Siapakah orang yang mendustakan agama?” (ayat 1).

Sebagai juga terdapat dalam ayat-ayat yang lain, bilamana Tuhan memulainya dengan pertanyaan adalah berarti menyuruh kepada Rasul-Nya agar ini diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena kalau hal ini tidak dijelaskan berupa pertanyaan seperti ini, akan disangka orang bahwa mendustakan agama ialah semata-mata karena menyatakan tidak mau percaya kepada Agama Islam. Dan kalau orang sudah sembahyang, sudah puasa, dia tidak lagi mendustakan agama. Maka dengan ayat ini dijelaskan bahwa mendustakan agama yang hebat sekali ialah: “Itulah orang yang menolakkan anak yatim.” (ayat 2). Di dalam ayat tertulis yadu’u (dengan tasydid), artinya yang asal ialah menolak. Yaitu menolakkannya dengan tangan bila dia mendekat.

Dalam pemakaian bahasa Minangkabau menolakkan dengan tangan itu dikatakan manulakkan. Lain artinya daripada semata-mata menolak atau dalam langgam daerah manulak. Sebab kalau kita tidak suka kepada sesuatu yang ditawarkan orang kepada kita, bisa saja kita tolak baik secara halus atau secara kasar. Tetapi menolakkan, atau manulakkan berarti benar-benar badan orang itu yang ditolakkan. Ada orang yang ditolakkan masuk lobang sehingga jatuh ke dalam.

Pemakaian kata Yadu‘u yang kita artikan dengan menolakkan itu adalah membayangkan kebencian yang sangat. Rasa tidak senang rasa jijik dan tidak boleh mendekat. Kalau dia mencoba mendekat ditolakkan, biar dia jatuh tersungkur. Nampaklah maksud ayat bahwa orang yang membenci anak yatim adalah orang yang mendustakan agama. Walaupun dia beribadat. Karena rasa benci, rasa sombong dan bakhil tidak boleh ada di dalam jiwa seorang yang mengaku beragama.

“Dan tidak mengajak atas memberi makan orang miskin.” (ayat 3). Dalam bahasa Melayu yang terpakai di Malaysia disebut “menggalakkan”. Dia tidak mau menggalakkan orang supaya memberi makan orang miskin. Dilahapnya sendiri saja, dengan tidak memikirkan orang miskin. Atau tidak dididiknya anak isterinya supaya menyediakan makanan bagi orang miskin itu jika mereka datang meminta bantuan makanan.

Orang seperti ini pun termasuk yang mendustakan agama. Karena dia mengaku menyembah Tuhan, padahal hamba Tuhan tidak diberinya pertolongan dan tidak diperdulikannya.

Dengan ayat ini jelaslah bahwa kita sesama Muslim, terutama yang sekeluarga dan yang sejiran, ajak mengajak, galak menggalakkan supaya menolong anak yatim dan fakir miskin itu menjadi perasaan bersama, menjadi budi pekerti yang umum.

Az-Zamakhsyari menulis dalam tafsirnya, tentang apa sebab orang-orang yang menolakkan anak yatim dan tidak mengajak memberi makan fakir miskin dikatakan mendustakan agama.

Kata beliau: “Orang ini nyata mendustakan agama. Karena dalam sikap dan laku perangainya dia mempertunjukkan bahwa dia tidak percaya inti agama yang sejati, yaitu bahwa orang yang menolong sesamanya yang lemah akan diberi pahala dan ganjaran oleh Allah. Sebab itu dia tidak mau berbuat ma’ruf dan sampai hati menyakiti orang yang lemah.

Kalau dia percaya akan adanya pahala dari Tuhan dan yakin akan balasan Ilahi, tentu dia takut akan Tuhan dan takut akan siksaan dan azab Tuhan, dan tidaklah dia akan berani berbuat begitu kepada anak yatim dan si miskin. Kalau telah ditolakkannya anak yatim dan didiamkannya saja orang miskin minta makan, jelaslah agama itu didustakannya. Sebab itu maka kata-kata Tuhan di ayat ini sangatlah tajamnya dan orang itu telah didudukkan Tuhan pada satu tempat yang dimurkai-Nya. Ini adalah satu peringatan yang keras untuk menjauhi perbuatan yang dipandang Tuhan sudah mendurhaka. Maka layaklah diambil kesimpulan bahwa orang yang berperangai begini lemahnya dan keyakinannya amat kendor.

“Maka kecelakaan akan didapati oleh orang-orang yang sembahyang.” (ayat 4). “Yang mereka itu dari shalatnya, adalah lalai.” (ayat 5).

Dia telah melakukan sembahyang, tetapi sembahyang itu hanya membawa celakanya saja; karena tidak dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Tidak timbul dari kesadarannya, bahwa sebagai seorang Hamba Allah, sudah sewajarnya dia memperhambakan diri kepada Allah dan mengerjakan sembahyang sebagaimana yang diperintahkan Allah dengan perantaraan Nabi-Nya.

Saahuun; asal arti katanya ialah lupa. Artinya dilupakannya apa maksud sembahyang itu, sehingga meskipun dia mengerjakan sembahyang, namun sembahyangnya itu tidaklah dari kesadaran akan maksud dan hikmatnya.

Pernah Nabi kita SAW melihat seorang sahabatnya yang terlambat datang ke mesjid sehingga ketinggalan dari sembahyang berjamaah, lalu dia pun sembahyang sendiri. Setelah dia selesai sembahyang, Nabi SAW menyuruhnya mengulang sembahyangnya kembali. Karena yang tadi itu dia belum sembahyang. Dia belum mengerjakannya dengan sesungguhnya.

“Orang-orang yang riya’.” (ayat 6). Ini juga termasuk sifat-sifat orang yang demikian. Walaupun dia beramal, kadang-kadang dia bermuka manis kepada anak yatim. Kadang-kadang dia menganjurkan memberi makan fakir miskin, kadang-kdang kelihatan dia khusyu’ sembahyang; tetapi semuanya itu dikerjakannya karena riya’. Yaitu karena ingin dilihat, dijadikan reklame. Karena ingin dipuji orang. Lantaran riya’nya itu, kalau kurang pujian orang dia pun mengundurkan diri atau merajuk. Hidupnya penuh dengan kebohongan dan kepalsuan.

“Dan menghalangi akan memberikan sebarang pertolongan.” (ayat 7). Artinya: Jalan untuk menolong orang yang susah, adalah amat banyak. Sejak dari yang berkecil-kecil sampai kepada yang besar, pokoknya asal ada perasaan yang halus, kasih-sayang kepada sesama manusia, di dalam pertumbuhan Iman kepada Tuhan. Tetapi orang-orang yang mendustakan agama selalu mengelakkan dari menolong. Selalu menahan, bahkan menghalang-halangi orang lain yang ada maksud menolong orang. Rasa cinta tidak ada dalam jiwa orang ini. Yang ada hanyalah benci! Hatinya terlalu terpaut kepada benda yang fana. Insaf dan adil tak ada dalam hatinya. Keutamaan tak ada bedanya, mukanya berkerut terus-terusan karena hatinya yang tertutup melihat orang lain. Dia menyangka begitulah hidup yang baik. Padahal itulah yang akan membawanya celaka.

Surat yang pendek ini, 7 ayat diturunkan di Madinah, untuk menghardik orang-orang munafik yang ada pada masa itu, yang sorak-sorainya keras, padahal sakunya dijahitnya. Tetapi Surat ini telah menjadi cemeti terus-menerus bagi Ummat Muhammad. Sebab kian lama kian nampaklah orang yang seperti ini perangainya dalam pergaul masyarakat Islam. Mereka mengakui Islam, tetapi dengan tidak disadari mereka telah menjadi orang munafik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya:

“Begitulah orang-orang munafik, kalau di hadapan banyak orang banyak sembahyanglah dia serupa sangat khusyu’, tetapi kalau orang tak ada lagi, sembahyang itu pun tidak dikerjakannya lagi. Tidak ada ingatan dalam hatinya buat menyambungkan budi dengan orang lain, yaitu memberikan pertolongan apa yang perlu bagi yang memerlukannya.”

Tafsir ayat Al Maa'uun Lainnya: