Al Muthaffifin 18 – 28

NIKMAT DI SYURGA

“Kalla!” (pangkal ayat 18). Yang di tempat lain dapat diartikan sebagai suatu pengingkaran: “Tidak begitu, bukan begitu, jangan sekali-kali, atau sekali-kali tidak.” Tetapi pada ayat ini dia dapat kita artikan: “Ingatlah!” Atau arahkanlah perhatian pada hal ini. “Sesungguhnya tulisan orang-orang yang baik-baik itu adalah di ‘illiyyin.” (ujung ayat 18). Kalimat ‘illiyyin artinya ialah yang amat tinggi dan mulia. “Sudahkah engkau tahu, apakah ‘Illiyin itu?” (ayat 19). “(Yaitu) kitab yang tertulis.” (ayat 20). “Yang disaksikan oleh mereka-mereka yang sangat dekat.” (ayat 21).

Di dalam empat ayat ini dijelaskanlah bahwasanya catatan amal dan usaha dari orang-orang yang berbuat baik pada masa hidupnya di dunia ini, dicatat pula amalannya, dipelihara baik-baik, diletakkan di tempat yang tertinggi dan termulia, dan yang menyaksikannya dan memperhatikannya dan menjaganya ialah mereka yang muqarrabun; yang sangat dekat kepada Allah; yaitu malaikat. Dan boleh juga dikatakan bahwasanya yang menyaksikan akan kebajikan amalan orang yang berbuat baik itu hanyalah orang-orang yang dekat kepada Allah jua. Dan yang dekat kepada Allah itu bukan saja malaikat-malaikat yang di langit, bahkan sesama manusia pun ada yang dipandang terdekat kepada Allah. Sebagaimana tersebut di dalam ayat 10 dan 11 dari Surat 56, Al-Waqi’ah bahwa orang-orang yang terdahulu, berlomba dahulu mendahului di dalam berbuat amal yang baik, orang-orang itulah yang akan dimasukkan Allah dalam golongan orang muqarrabun. Demikian juga di Surat 2, Al-Baqarah ayat 186 Allah menunjukkan jalan, bahwasanya orang-orang yang selalu menyediakan diri menyambut seruan Allah, maka dekatlah Allah dari dia.

Ayat ini memberi obat penawar bagi hati orang baik-baik, orang-orang jujur bahwa meskipun manusia kebanyakan tidak menghargai jasanya yang baik, namun malaikat dan manusia-manusia yang dekat kepada Tuhan teruslah menjunjung tinggi dan menghargai jasa-jasa itu.

“Sesungguhnya orang yang baik-baik itu adalah di dalam kenikmatan.” (ayat 22). “Dari atas pelaminan-pelaminan mereka memandang.” (ayat 23).

Araaik kita artikan dengan pelaminan-pelaminan, yaitu tempat duduk tertinggi yang diduduki oleh orang-orang yang amat dimuliakan, sebagaimana yang kita sediakan buat duduk bersanding di antara dua orang pengantin, atau sebagai mahligai, singgasana atau tahta tempat raja bersemayam. Dihiasi tempat duduk itu dengan berbagai ragam hiasan. Maka duduklah orang-orang yang telah beramal baik di kala hidupnya itu pada pelaminan-pelaminan atau mahligai, atau singgasana yang mulia itu, memandang alam dalam syurga yang ada di kelilingnya; “Engkau dapat mengenal wajah-wajah mereka itu sinar dari nikmat.” (ayat 24). Maka membayanglah kepada wajah mereka kebahagiaan dan kegembiraan yang mereka rasakan, tersebab bekas dan usaha mereka sendiri di kala hidup. Sedangkan dalam dunia ini saja pun dapat kita melihat wajah orang yang berseri-seri karena kegembiraan jiwa, karena tidak pernah merasa berbuat jahat kepada sesama manusia, apatah lagi di akhirat kelak.

“Mereka diberi minum dengan minuman terpilih, lagi termaterai.” (ayat 25). Minuman pilihan yang sumbat botolnya telah dimaterai lebih dahulu, sebagai alamat bahwa dia belum pernah disentuh oleh tangan yang lain sebelumnya. Materai ialah cap atau stempel. Dia adalah sebagai alamat daripada barang yang terjaga mutunya. Itulah minuman yang disediakan Tuhan buat mereka.

“Materainya itu ialah kasturi.” (pangkal ayat 26). Kasturi adalah lambang keharuman. Kasturi tergantung pada pinggang kijang atau rusa di hutan. Pada musang terdapat juga jebat yang baunya pun harum. Jebat dan kasturi dikenal harumnya dan sukar mendapatnya; inilah yang dilambangkan atas keharuman dan kewangian minuman syurga. Sedang sumbat dan materai penyumbat botolnya lagi harum terdiri dari kasturi, betapa lagi isinya; “Dan pada hal yang demikian itu biarlah berlomba orang-orang yang hendak berlomba.” (ujung ayat 26).

Artinya, bahwasanya Allah menganjurkan berlombalah mengejar kedudukan yang muliat tiada taranya ini di akhirat; mahligai yang tinggi, minuman tersendiri dengan materai kasturi, dan di hadapan mata terbentanglah alam Syurga yang penuh nikmat yang tiadakan putus. Janganlah berlomba berebut pangkat dengan tindak-menindak, tanduk-menanduk, tindih-menindih di dunia ini sehingga kadang-kadang untuk mencapai satu martabat, orang tidak keberatan mengurbankan saudaranya yang lain.

“Dan campurannya ialah air yang menurun.” (ayat 27). Disebut tasnim, yaitu air yang menurun dari tebing yang tinggi, laksana serasah atau air mancur yang amat indah, terjun ke bumi, dingin dan sejuk; “(Yaitu) mata-air yang minum daripadanya mereka yang dihampirkan.” (ayat 28).

Sebagai disebut pada ayat 21 tadi, orang yang dihampirkan di sini bukan saja lagi malaikat, melainkan makhluk-makhluk Allah yang memang sengaja sejak semula telah menghampirkan diri kepada Tuhan. Dan kedatangannya menghampirkan diri itu disambut oleh Tuhan; “Marilah ke mari! Inilah tempatmu, didekat-Ku.”