Al Muthaffifin 7 – 17

JALAN CURANG YANG DITEMPUH

“Janganlah begitu!” (pangkal ayat 7). Artinya janganlah ditempuh jalan yang curang itu, mengecoh pada sukatan, menipu pada timbangan, dan melakukan kecurangan-kecurangan yang lain dalam kehidupan di dunia ini. Jangalah diteruskan perbuatan yang demikian: “Karena sesungguhnya tulisan orang-orang yang durhaka itu adalah di dalam sijjin.” (ujung ayat 7). Janganlah disangka bahwa segala perbuatan yang curang itu lepas dari tilikan Allah, bahkan semuanya sudah tercatat di sisi Allah, dalam sebuah catatan yang bernama sijjin.

“Dan sudahkah engkau tahu apakah yang dikatakan sijjin itu?” (ayat 8). “(Ialah) kitab yang telah tertulis.” (ayat 9).

Perbuatan yang kecil ataupun yang besar, yang disangka telah lupa, padahal tidak lupa; semuanya telah tercatat di dalam sijjin itu, sehingga manusia tidak dapat mengelakkan diri lagi daripada pertanyaan kelak.

“Celakalah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (ayat 10). “(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan.” (ayat 11).

“Dan tidaklah mendustakan akan hari itu, kecuali orang-orang yang melampaui batas, yang berdosa.” (ayat 12).

Pada Surat Al-Infithar yang telah lalu kita uraikan juga apa arti Yaumid Din, yang arti harfiyahnya ialah hari agama atau hari pembalasan. Karena tujuan hidup di dunia ini tidak lain ialah keselamatan pada hari perhitungan di akhirat. Karena di akhirat itulah amal dan akidah kita di dunia ini akan diperhitungkan dan menerima balasan yang setimpal. Celakalah orang yang tidak percaya akan adanya hari itu; karena itulah orang yang telah cepot imannya dan kabur tujuan hidupnya. Lantaran kepercayaan kepada Hari Pembalasan itu tidak ada dalam jiwanya, mudah saja dia melampaui batas. Mudah saja dia berbuat yang haram, yang dilarang oleh Tuhan, karena dia tidak mempunyai kepercayaan bahwa semua akan diperhitungkan kelak di Hari Pembalasan itu. Dan dia pun mudah berbuat dosa, atsiim; berkata bohong, berjanji mungkir, mencari permusuhan dengan orang lain yang dianggapnya menantangnya.

“Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata: “Dongeng-dongeng orang-orang dahulukala.” (ayat 13).

Ceritera Al-Qur’an tentang syurga, tentang neraka, tentang ancaman azab siksaan Tuhan kepada yang durhaka dianggapnya dongeng belaka. Karena dari zaman purbakala telah datang Rasul-rasul Allah menyampaikan berita itu. Berita tentang hidup kekal sesudah mati, tentang pembalasan yang akan diterima kelak. Mereka anggap itu dongeng sebab mereka memandang bahwa dalam hal itu tidak ada bukti. Tidak ada orang yang telah masuk ke dalam kubur yang hidup kembali buat memberitahukan pengalaman yang mereka tempuh di alam “lain” itu.

“Tidak sekali-kali!” (pangkal ayat 14). Artinya tidaklah sekali-kali pendakwaan mereka bahwa Kebenaran yang dibawa oleh Rasul-rasul itu adalah dongeng belaka, bahwa itu timbul dari pengetahuan yang mengandung kebenaran: “Bahkan telah ditutup hati mereka oleh apa-apa yang telah mereka usahakan itu.” (ujung ayat 14).

Dalam ayat ini bertemu kalimat Raana! Yang kita beri arti penutup. Artinya ialah bahwa apabila seseorang berbuat suatu dosa, mulailah ada suatu bintil hitam mengenai hatinya, menurut Sabda daripada junjungan kita Rasulullah SAW:

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata dia; berkata Rasulullah SAW: “Sesunggunya seseorang Mu’min bila berbuat dosa, terjadilah suatu titik hitam pada hatinya. Maka jika dia taubat, dan mencabut diri dari dosa itu dan segera memohon ampun kepada Allah, hapuslah titik hitam itu. Tetapi jika bertambah dosanya bertambah pulalah titik itu. Itulah dia Raana yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an itu.”

Berkata pula Al-Hasan Al-Bishri: “Ar-Raana itu ialah dosa bertimpa dosa, hingga hati menjadi buta tidak menampak kebenaran lagi, karena telah ditutup oleh noktah-noktah hitam itu, sampai hati itu jadi mati.”

Oleh karena yang demikian dianjurkanlah kita selalu membersihkan hati kita, jangan sampai ditumbuh noktah hitam atau noktah raana. Baru akan tumbuh noktah itu satu, segera kita bersihkan dengan sembahyang, dengan taubat dan amal-amal kebaikan yang lain. Kalau tidak maka dosa yang telah bertumpuk-tumpuk, bertimpa-timpa niscaya akan membuat hati kita jadi kelam, tidak lulus lagi cahaya buat masuk ke dalamnya. Na’udzu billahi min dzalika.

“Tidak sekali-kali!” (pangkal ayat 15). Artinya sudah payahlah buat memasukkan kebenaran ke dalam hati orang yang demikian; sebabnya ialah: “Sesungguhnya mereka, dari Tuhan mereka, di hari itu telah tertutup.” (ujung ayat 15).

Tertutupnya pintu hati akan dimasuki kebenaran karena diseliputi oleh kumpulan bintik-bintik hitam yang telah memenuhi permukaan hati itu, menyebabkan selanjutnya tertutup pula wajah buat berhadapan dengan Allah. Laksana hidup di dunia jua, orang-orang yang telah bercacat karena suatu dosa tidaklah diberi izin menghadap Raja.

“Kemudian itu.” (pangkal ayat 16). Yaitu setelah jelas bahwa usaha-usaha kepada jalan yang melanggar batas-batas yang ditentukan Allah menyebabkan hati tertutup dan selanjutnya tertutup pula buat dapat wajah menghadap Allah, ditentukanlah tempat mereka berakhir: “Sesungguhnya mereka akan bergelimang di neraka.” (ujung ayat 16).

Dan neraka adalah ujung atau akibat saja daripada jalan yang telah mereka gariskan sendiri, laksana garis-garis perhitungan ilmu ukur jua adanya. Bahwa tidak mungkin dua garis paralel bertemu ujungnya, dan penyimpangan garis di permulaan titik, meskipun di pangkalnya dekat, namun sampai di ujung pastilah berjarak sangat jauh.

“Kemudian itu akan dikatakan: “Inilah tempat yang telah kamu dustakan itu.” (ayat 17).

Di kala hidup di dunia kamu menyatakan tidak percaya akan adanya syurga dan neraka. Sebab itu kamu berbuat sekehendak hati, sehingga hati jadi tertutup. Sekarang kesudahan dari akhir langkahmu sendiri. Yang kamu telah pilih sejak semula.