Al Qaari’ah 6 – 11

Sebagaimana telah diterangkan juga pada Surat 99, Az-Zalzalah, bahwa segala amalan manusia akan diperlihatkan kepada mereka (ayat 7 dan 8), dalam Surat ini diperjelas lagi, bahwa pada waktu kiamat itu kelak akan diadakan timbangan (Mizan) atau mawazin. Sampai amal sehalus-halusnya, sehalus zarrah, sehalus atom, tidak lepas dari timbangan.

Maka terdapatlah ada timbangan yang berat dan ada timbangan yang ringan: “Maka adapun barangsiapa yang berat timbangannya.” (ayat 6). Yaitu berat kepada yang baik, tegasnya lebih banyak amalnya yang baik dan berguna daripada amalan yang kosong tak berarti: “Maka dia itu adalah dalam kehidupan yang diridhai.” (ayat 7).

Itulah kehidupan di dalam syurga yang telah disediakan Tuhan untuknya. Berlakulah atas dirinya panggilan Tuhan yang telah disampaikan sejak dia masih hidup, dan penggilan itu diturutinya, sebagai termaktub di akhir Surat “Al-Fajr” (89 : ayat 27 sampai 30). Bahwa Nafsul-Muthmainnah telah dipanggil oleh Tuhan supaya kembali kepada-Nya, dalam keadaan ridha dan diridhai, masuk ke dalam kelompok hamba-hamba Tuhan yang setia dan masuk dengan selamat ke dalam syurga yang telah disediakan Tuhan.

“Dan adapun barangsiapa yang ringan timbangannya.” (ayat 8). Karena keranjang tidak berisi amal yang akan membawanya selamat di akhirat, kosong daripada kebajikan: “Maka tempat kembalinya ialah jurang yang dalam.” (ayat 9).

Di dalam ayat ini disebut fa ummuhuu; maka ibunya. Dikatakannya jurang yang dalam itu sebagai ibunya, karena ke sanalah tempat dia pulang dan tidak akan keluar lagi. “Dan apakah yang memberitahumu; apakah itu?” (ayat 10). Atau: Sudah adakah yang memberitahu kepadamu, Muhammad, apakah jurang yang dalam itu, apakah haawiyah itu?

Pertanyaan Tuhan seperti ini, laksana pertanyaan guru kepada murid, untuk menarik perhatian, dan guru sendirilah kelak yang akan memberikan jawabannya, karena selain dari Allah dengan perantaraan Malaikat Jibril tidaklah seorang jua pun yang sanggup memberikan pengetahuan tentang yang ghaib kepada Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Tuhan: “Itulah api yang panas!”(ayat 11). Itulah neraka jahannam.

Di dalam sebuah Hadis, Shahih Muslim yang diterimanya, daripada Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW pernah mengatakan:

“Apa kamu ini, yang dinyalakan oleh anak Adam adalah satu bahagian daripada 70 bahagian panasnya dari neraka jahannam.”

Saiyidina Abu Bakar Shiddiq r.a. seketika membicarakan arti berat dan ringannya timbangan ini pernah berkata: “Makanya jadi berat timbangan orang yang berat timbangannya itu ialah karena yang terletak di dalamnya adalah AL-HAQ: Kebenaran.”

Maka sudah sepantasnyalah sesuatu timbangan yang di dalamnya berisi KEBENARAN menjadi berat. Dan makanya ringan timbangan orang yang ringan timbangannya itu, karena yang terletak di dalamnya ialah orang yang BATIL: Suatu Kesalahan. Maka sudah sepantasnyalah timbangan yang berisi KEBATILAN itu ringan adanya.”

Menurut pepatah yang terkenal:

“Barang yang batil itu tidaklah ada hakikatnya.”

Tafsir ayat Al Qaari'ah Lainnya: