An Naazi’aat 1 – 5


Perkataan-perkataan yang dalam dan tangkas ini berbagai ditafsirkan oleh ahli-ahli tafsir. Jangankan tafsir-tafsir lama, sedangkan Tafsir Indonesia yang dikarang di zaman kita ini pun berbeda menafsirkannya, menurut pilihan masing-masing menurut dasar yang diyakini.

A. Hassan dalam Al-Furqannya mengartikan ayat-ayat ini ialah dari hal keadaan bintang-bintang di langit. Sebab itu ayat yang pertama beliau artikan: “Perhatikanlah (bintang-bintang) yang beralih dengan cepat” (Al-Furqan hal. 1176).

H. Zainuddin Hamidi dan Fakhruddin Hs. mengartikannya: “Demi (perhatikan) yang mencabut dengan keras.” (Tafsir Qur’an, hal. 887).

Panitia Kementrian Agama di dalam “Al-Qur’an Dan Terjemahannya” mengartikan ayat pertama: “Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan keras.” (Al-Qur’an Dan Terjemahannya, hal. 1019).

Al-Qasimi mengatakan dalam Tafsirnya (Jilid 17, 6043) arti ayat pertama itu ialah Tentara-tentara Penyerbu negeri musuh (ghuzaat) atau tangan mereka.

Al-Qasimi menyalinkan pula penafsiran Ad-Darimi: “Pahlawan menyerbu negeri musuh dengan mencabut anak panah dan melayanglah anak panah itu dari busurnya dengan cepat sekali.”

Tafsir-tafsir demikian bukan sejak sekarang saja. Memang telah ditafsirkan oleh masing-masing ahli tafsir menurut ke mana condong keyakinan mereka. Menurut Ibnu Katsir: “Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, (keduanya dari sahabat Rasulullah SAW), Masruq, Said bin Jubair, Abu Shalih, Abudh-Dhuha dan As-Suddi menafsirkan bahwa yang dimaksud di ayat ini ialah malaikat-malaikat mencabut nyawa Anak Adam jika datang waktunya. Mujahid menafsirkan ayat pertama itu ialah menggambarkan bila mati telah datang, dicabut nyawa maka tenggelamlah orang ke dalam alam barzakh. ‘Atha’ menafsirkan ayat itu ialah membayangkan apabila perang besar telah berkecamuk.

Al-Qasimi mengakui perbedaan tafsir-tafsir itu, lalu beliau berkata: “Lapal-lapal yang mulia itu amat luas meliputi segala makna, dengan tak usah ada pertentangan. Tidaklah mungkin dipastikan satu tafsir saja, karena tidak ada hukum untuk memutuskan.”

Ibnu Jarir berkata dalam tafsirnya: “Yang benar di sisiku ialah bahwa Allah Ta’ala telah bersumpah dengan banyak hal yang dapat mencabut cepat lalu tenggelam, dan Dia tidak menentukan pencabutan yang mana dan tenggelam yang mana. Sebab itu segala hal yang bisa mencabut cepat dan menenggelamkan masuklah di dalamnya, baik malaikat-malaikat atau bintang-bintang atau pun panah dicabut dari busurnya, lalu melayang dengan cepatnya, tenggelam pada sasaran, ataupun yang lain. Mana yang sifatnya begitu masuklah di dalamnya.”

Berdasar kepada jalan luas yang dibuka, baik oleh Al-Qasimi penafsir zaman kita atau Ibnu Jarir Ath-Thabari penafsir zaman dulu, dapatlah kita pakai semuanya itu. Kita jadikan dia penafsiran menarik perhatian kita kepada bintang-bintang yang bertebaran di langit, yang cepat sekali beralih dari satu tempat ke tempat yang lain, yang selalu berpindah, dan selalu beredar, berlomba laju. Dan samasekali itu diatur oleh pengatur yang ditentukan oleh Allah, (ayat 5). Maka tersebutlah bahwasanya pengatur perjalanan cakrawala itu ialah Malaikat Mikail.

Dan boleh pula kita tafsirkan bahwa yang dimaksud ialah malaikat yang ditugaskan Tuhan bekerja cepat, secepat perjalanan cahaya, karena malaikat itu sendiri memang terjadi daripada cahaya, sebagai tersebut dalam sebuah Hadis yang telah kita salinkan di dalam Juzu’ 15.

Maka adalah malaikat itu yang dengan cepat sekali mencabut nyawa manusia bila ajalnya telah datang, sebagai maksud dari: “Demi yang mencabut cepat.” (ayat 1). Dan yang selalu berpindah dari satu bahagian alam kepada bahagian alam yang lain, guna membagi-bagikan hujan dan panas dan peredaran musim, sebagai maksud dari: “Dan yang selalu berpindah.” (ayat 2). Ada yang beredar lekas, sebagai maksud dari: “Dan yang beredar lekas.” (ayat 3). Menyampaikan permohonan manusia kepada Allah sebagai tersebut dalam Hadis ada malaikat penjaga siang dan ada penjaga malam, yang berganti datang ke dunia menjaga amalan manusia, dan ada yang berlomba laju, sebagai maksud dari: “Maka yang berlomba laju.” (ayat 4). Sehingga sehari dalam perhitungan kelanjutan malaikat itu sama dengan 50.000 tahun perhitungan kita manusia, (Surat 70, Al-Ma’arij ayat 4), atau sehari hitungan di sana sama dengan 1.000 tahun hitungan kita di sini (Surat 32, As-Sajdah ayat 5). Dan ada yang mengatur segala perjalanan itu menusur garis yang ditentukan Allah sebagai maksud dari: “Maka yang mengatur perintah.” (ayat 5). Yaitu Malaikat Mikail.

Semuanya ini diambil menjadi sumpah oleh Allah, artinya agar kita perhatikan, guna menambah iman kita. Kalau tafsirnya itu ialah bintang, maka insaflah kita bahwa di atas dari bumi tempat kita berdiam ini ada lagi bintang-bintang yang lebih besar daripada bumi dan sangat cepat peredarannya semuanya tunduk kepada ketentuan Allah, dan ada yang diperintah Tuhan untuk mengaturnya.

Kalau yang dimaksud itu ialah malaikat, agar insaflah kita bahwa di samping yang jelas kelihatan di mata ini, ada lagi makhluk-makhluk ghaib sebagai tentara Tuhan, dan tidak seorang pun yang tahu berapa jumlah dan di mana bersembunyi tentara-tentara Allah itu, (Surat 74, Al-Muddatstsir, ayat 31).