An Naazi’aat 27 – 33

Disebutkan ceritera tentang Musa menghadapi Fir’aun dan bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam ditelan Lautan Qulzum. Lalu di penutupnya dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk kaca perbandingan bagi manusia. Betapapun tinggi pangkat, betapa pun kekayaan, betapa pun kekuasaan dan kerajaan, namun manusia tetaplah manusia, tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebesaran alam ini. Dalam usia yang singkat, rata-rata di bawah 100 tahun manusia mati, hilang ke dalam tanah, namun alam keliling masih tetap dalam kebesarannya. Dan dia adalah Ciptaan Allah.

“Apakah kamu yang lebih sukar diciptakan, ataukah langit?” (pangkal ayat 27). Satu pertanyaan yang tepat sekali buat menginsafkan manusia dari kesombongannya; mana yang lebih sukar menjadikan manusia dari tanah, jadi darah jadi mani lalu dikandung dalam rahim dan 9 bulan dikandung dia pun lahir jika dibanding dengan menjadikan langit? Apakah arti manusia jika dibandingkan dengan kejadian langit itu?

Jangankan langit; naik sajalah ke atas kapal udara dan menengoklah ke bawah dari ketinggian atas; rumah-rumah hanya sebagai sambang api-api, hutan belukar dengan kayu-kayuannya yang besar-besar hanya menghijau saja, menjadi kecillah kayu-kayuan itu. Dan kalau kita berlayar di lautan malam hari, kelihatanlah bintang-bintang di langit. Kata ahli, sebahagian besar dari bintang-bintang itu lebih besar dari bumi kita ini. “Dia bangunkan dianya.” (ujung ayat 27). Allah bangun langit itu, sangat luas dan luas bangunan itu. Di dalam Surat 40, Ghafir, ayat 57 diperingatkan lagi oleh Allah bahwa penciptaan sekalian langit itu bersama bumi jauh lebih besar daripada penciptaan manusia yang hanya singgah sekilas zaman ke dunia ini, sesudah itu mati. Ibnu Jarir menafsirkan: “Dia bangunkan dianya,” yaitu langit tersebut, (ujung daru ayat 27); “Ditinggikan-Nya letaknya.” (pangkal ayat 28), sehingga jadilah dia laksana loteng dari kita yang hidup di bumi ini, yang mata kita selalu menengadah melihat keindahan biasanya dengan bintang-gemintang dan awan beraraknya; “Lalu disempurnakan-Nya dianya. (ujung ayat 28). Demikian sempurnanya dilihat manusia, telah berganti-ganti manusia datang dan manusia pergi, namun letak sebuah bintang pun tidak pernah berganjak dari tempatnya yang dahulu, sehingga pengetahuan manusia tentang bintang yang dikemukakan orang dahulu adalah pusaka yang telah beribu tahun dari nenek-moyang yang telah menyelidikinya labih dahulu. Bahkan nama-nama bintang adalah menuruti nama yang dipilih orang dahulu, tidak ada yang sanggup menukarnya dengan nama baru. Sehingga dikatakan oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Juzu’ Ammanya: “Bangunan itu menggabungkan sudut-sudut yang tersebar ke seluruh penjuru hingga jadi satu kesatuan, terikat demikian rapat dalam satu bangunan. Demikianlah Allah mengatur bintang-bintang. Samasekali terletak di tempat yang teratur dan seimbang dalam hubungan di antara satu dengan yang lain; semua berjalan di jalannya sendiri, sehingga dia pun menjadi satu padu dalam penglihatan. Diberi nama yang satu, yaitu langit, yang di atas kita.”

“Dan digelapkan-Nya malamnya.” (pangkal ayat 29). Yaitu seketika bumi telah melalui putarannya yang tetap mengelilingi matahari dan matahari dalam garisnya sendiri pula. Maka setelah terbenamlah matahari itu ke ufuk Barat mulailah malam dan timbullah gelap. Cahaya matahari tak ada lagi, “Dan di terangkan-Nya siangnya.” (ujung ayat 29). Maka beredarlah di antara malam dengan siang, menurut perputaran yang tetap dan teratur bumi itu mengelilingi matahari. Di malam hari terasa pembagian waktu sejak senja, lalu hilangnya syafaq yang merah, lalu larut tengah malam, parak siang dan fajar menyingsing dan mulai akan pergi. Siang harinya terasa permulaan pagi, waktu dhuha, waktu tengah hari, ‘Ashar, petang hari dan senja. Jam demi jam, menit demi menit, bahkan detik demi detik berjalan dengan teratur.

“Dan bumi itu pun sesudah itu, Dia datarkan (pula) dianya.” (ayat 30). Artinya, sesudah itu, yaitu sesudah Allah Ta’ala mengatur langit dengan ruang angkasanya, dengan cakrawalanya, maka Allah pun mulailah mendatarkan bumi. Mendatarkan bumi artinya bukanlah semata-mata datar, melainkan datar buat dapat didiami oleh manusia. Dengan memahamkan ayat ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa Allah menciptakan terlebih dahulu keseluruhan alam dan kemudian dari itu baru menyediakan tempat bagi manusia dalam bumi. Jelas bahwa manusia ini lama kemudian baru terjadi, baru didatarkan atau dihamparkan bumi buat tempat diamnya, atau baru disediakan syarat-syarat bagi manusia dapat hidup di bumi itu. “Dikeluarkan-Nya daripadanya airnya.” (pangkal ayat 31). Setelah melalui masa yang Allah saja yang tahu berapa, barulah bumi itu dapat mengeluarkan air yang teratur dengan keluarnya air, keluarlah pula tumbuh-tumbuhan. Sebab itu di ujung ayat di tegaskan: “Dan rumput-rumputnya.” (ujung ayat 31). Dengan adanya rumput-rumput yang tumbuh teratur karena teraturnya pula air, nyatalah bahwa hidup telah ada.

“Dan gunung-gunung pun Dia pancangkan dianya.” (ayat 32). Sebagaimana telah kita ketahui pada beberapa ayat yang lain, (sebagai Surat 78 ayat 7 yang baru lalu), faedah gunung ialah menjadi pancang, menjadi peneguh dari bumi. Dengan adanya gunung, teraturlah bumi menerima turunnya air hujan; ada yang menyelinap ke dalam bumi menjadi persediaan air beratus-beribu tahun, dan ada yang mengalir di kulit luar bumi menjadi sungai. Dan sungai adalah salah satu pangkal kebudayaan insani. Di tepi sungai yang besar-besar di dunia ini manusia mendirikan negara. Dan dia pun menuju ke laut lepas. “Bekalan bagi kamu dan bagi ternak-ternak kamu.” (ayat 33). Adanya air mengalir dan rumput-rumputan, ditambah dengan jaminan adanya gunung-gunung, tumbuhlah bahan makanan yang diperlukan sebagai bekal oleh manusia. Rumputnya untuk binatang ternak, sayurnya dan buah-buahannya untuk makanan manusia yang memelihara binatang itu. Pendeknya asal yang bernyawa, disediakanlah makanan dari bumi yang hidupnya bergantung kepada air.

Hanya di kita yang ada berbeda makanan sapi yaitu rumput dan makanan sayur untuk manusia. Bagi Tuhan yang menghamparkan bumi untuk kita hidup, semuanya itu hanyalah perkara kecil belaka.