An Naazi’aat 42 – 46

Selalu di mana saja ada kesempatan Utusan Allah Muhammad SAW disuruh memperingatkan bahwa sa’at atau kiamat pasti datang, dan percaya akan hari kemudian itu adalah bahagian yang tiada terpisah dari iman. Karena itu timbullah berbagai pertanyaan: “Mereka akan bertanya kepada engkau darihal kiamat itu; Bilakah akan terjadinya?” (ayat 42).

Tentu saja Nabi Muhammad SAW tidak akan dapat menjawab pertanyaan seperti itu; “Mengapa (pula) engkau yang akan menyebutkan itu?” (ayat 43). Padahal itu bukanlah urusan engkau? Itu adalah semata-mata urusan yang terpegang di tangan Allah semata-mata, (lihat Surat 31, Luqman, ayat 34). Maka kalau itu yang mereka tanyakan kepada engkau, katakan terus-terang kepada mereka bahwa yang menentukan bilakah hari kiamat itu adalah urusan Allah. “Kepada Tuhan engkaulah kesudahannya.” (ayat 44).

Artinya tentang urusan menentukan bila hari akan kiamat itu terpulanglah kepada Tuhan Allah.

“Engkau lain tidak hanyalah pemberi ancaman kepada barangsiapa yang menakutinya.” (ayat 45).

Kewajiban engkau sebagai Utusan dari Allah hanyalah menyampaikan kepada mereka itu berita yang berisi khabar yang menakutkan, yang mengerikan, tentang azab siksaan yang akan diterima di hari kiamat oleh barangsiapa yang tidak mau menuruti jalan lurus dan mulia yang ditunjukkan oleh Tuhan yang dibawakan oleh Rasul-rasul yang disuruh Tuhan menyampaikannya ke dunia ini. Yang akan merasa takut tentu orang yang takut juga. Dan takut itu barulah timbul kalau kepercayaan, atau iman telah tumbuh. Kalau Iman tidak ada, betapa pun jua diberi peringatan, namun mereka tidaklah akan perduli.

“Seolah-olah mereka, pada hari mereka melihatnya.” (pangkal ayat 46). Yaitu pada hari berkumpul di padang mahsyar itu kelak; “Mereka tidaklah berdiam di dunia ini melainkan satu malam saja, atau satu siangnya.” (ujung ayat 46).

Artinya setelah melihat hebat dan ngerinya hari itu, melihat hebat dan ngerinya nyala api neraka yang terbentang di hadapan mata, dan betapa pula penelitian dosa dan pahala yang tengah dilakukan, terasalah bahwa hidup yang pernah dilalui dahulu itu, semasa di dunia hanya sebentar saja, hanya semalam atau hanya sesiang. Haislah hari yang satu malam atau satu siang itu, maka maut pun datang. Tertidurlah diri di kubur kelam; kemudian datang panggilan mahsyar. Berjuta-juta manusia yang tengah diperiksa, dan entah berapa juta pula malaikat yang dikerahkan Allah melakukan pemeriksaan, sehingga ada Hadis Rasulullah bahwa manusia di waktu itu laksana terbenam dalam keringat karena berdesaknya insan menunggu keputusan. Lama sekali rasanya waktu yang ditunggu apabila hati kita dalam cemas. Dan cepat sekali rasanya waktu yang telah dilalui dibandingkan dengan apa yang dihadapi.

Lambat dan cepat ketika hidup di atas dunia ini adalah nisbi sifatnya. Cepat habis rasanya sesuatu yang kita sayangi. Lambat-laun rasanya sesuatu yang kita gelisahkan.

Ya Allah, ya Karim! Bagaimana pula yang akan kita hadapi kelak kemudian hari, pada waktu yang pasti akan datang dan pasti akan kita hadapi itu.

Ya Tuhanku! Hanya kepada Engkau jua kami berlindung daripada murka-Mu.