An Naazi’aat 6 – 14

BILA KIAMAT DATANG

Kita disuruh memperhatikan Alam Semesta itu semuanya, baik keindahan dan kecepatan bintang-bintang yang dapat dilihat mata, atau kecepatan bertindak malaikat-malaikat yang dapat direnungkan dalam batin, akhirnya sampailah renungan kita kepada kesimpulan, bahwa semua itu akan berakhir: “Di hari akan bergoncanglah sesuatu yang bergoncang.” (ayat 6). Akan bergoncang sesuatu yang bergoncang, yaitu bumi tempat kita hidup ini. Dia hanyalah satu di antara berjuta-juta bintang di alam semesta bebas ini. Di pandang dari segi alam semesta, goncangan bumiitu hanya suatu soal kecil belaka, tetapi bagi kita yang hidup di dalamnya kegoncangan itu adalah maut!

“Diikuti pula oleh iringannya.” (ayat 7). Artinya, sesudah goncangan hebat yang pertama akan datang lagi goncangan kedua yang lebih dahsyat.

Menurut suatu tafsir dari Ibnu Abbas kegoncangan dua kali itu ialah permulaan kehancuran bumi dengan datangnya Kiamat Kubra itu. Tetapi menurut suatu Hadis yang dirawikan oleh Termidzi goncangan yang pertama ialah bila maut telah datang dan goncangan kedua ialah permulaan pertanyaan di kubur.

“Hati pada hari itu akan berdebar-debar.” (ayat 8). “Pemandangannya akan tunduk ke bawah.” (ayat 9). Hati berdebar lantaran takut dan ngeri memikirkan persoalan yang akan dihadapi setelah meninggalkan hidup yang sekarang, kegelisahan mengingat dosa-dosa yang telah lampau. Penglihatan tertunduk ke bawah karena sesal yang tidak berkeputusan, umut sudah habis, buat kembali kepada zaman yang lampau tidak dapat lagi.

Itulah yang akan dihadapi kelak, baik berhadapan secara besar pada kiamat yang besar pula di penutup dunia ini, atau berhadapan masing-masing diri dengan kiamatnya yang kecil, yaitu maut. Semua tidaklah dapat dielakkan.

Tetapi orang-orang yang tidak mau percaya, yang menyangka bahwa hidup hanya hingga kini saja, dengan mati habislah segala perkara, tidaklah mereka mau percaya bahwa manusia akan dihidupkan kembali dalam kehidupan yang lain:”Mereka akan berkata: “Apakah sesungguhnya kita akan dikembalikan sesudah berada pada lobang kubur?” (ayat 10). “Biarpun kita telah menjadi tulang yang hancur?” (ayat 11).

Manalah mungkin orang yang telah mati akan dihidupkan kembali? Tulang yang telah hancur dalam kubur akan bangun kembali dari dalam kuburnya lalu bertaut menjadi manusia pula?

“Mereka berkata: “Kalau begitu, itulah kekembalian yang rugi.” (ayat 12).

Setelah mendengar keterangan sejelas itu disertai penjelasan yang meyakinkan, tersadar fikiran sejenak: “Kalau memang kita akan dihidupkan kembali, niscaya rugilah kita, karena kita tidak bersiap terlebih dahulu menghadapi hari itu dengan amal-amal yang baik.” Maka berjanjilah mereka dalam hati hendak memperbaiki hidup, hendak memilih jalan yang lebih baik. Namun janji tinggal janji saja. Sebab mereka terpengaruh oleh pergaulan. Mereka tidak mempunyai daya upaya atau kekerasan jiwa buat mencabut diri dari pergaulan kekafiran itu.

“Maka sesungguhnya hal itu hanyalah pekik sekali saja.” (ayat 13). Atau hardik sekali saja, atau sorak sekali saja. Artinya apabila saat itu datang, tidaklah dia memberi waktu dan peluang lama bagi manusia; dia akan datang hanya dengan sekali pekik, atau sekali hardik atau sekali sorak. Datangnya sangat mengejutkan, laksana sekejap mata sebagai tersebut di dalam Surat 16, An-Nahl ayat 77 dan Surat 54, Al-Qamar ayat 50. Sekejap mata!

“Maka mereka pun beradalah di bumi yang tandus.” (ayat 14).

Artinya, sedangkan manusia berlengah-lengah berlalai-lalai, kiamat itu pun datanglah dengan tiba-tiba, dengan hanya sekali pekik. Atau hanya sekejap mata. Keadaan berobah samasekali. Maka tersebutlah sebagai telah dibayangkan di atas tadi dan di beberapa ayat yang lain, bahwa serunai sangkakala itu akan berbunyi dua kali; Bunyi yang pertama untuk mematikan sisa manusia yang masih hidup. Dan setelah semuanya mati, berbunyi pulalah serunai sangkakala pembangunkan; maka bangunlah manusia semuanya, berususun bershaf untuk berkumpul di padang mahsyar. Seketika dibangunkan dari bumi yang telah lain bentuknya dari yang dahulu; bumi yang telah hancur, bumi yang telah lebur, yang telah tandus.

Hanya sampai sekian terlebih dahulu ihwal kiamat atau ihwal maut itu digambarkan di dalam Surat ini. Kemudian kita pun dibawa ke dalam kehidupan yang nyata, yaitu perjuangan Nabi Musa a.s. melawan kezaliman Fir’aun.