An Naba’ 17 – 20

HARI KEPUTUSAN

Dalam ayat 6 sampai ayat 16 diuraikan oleh Tuhan nikmat-Nya atas manusia di dalam alam yang ada di kelilingnya. Bahwasanya hidup manusia dalam alam ini tidaklah dibiarkan terlantar. Sejak dari terhamparnya bumi, terpancangnya gunung-gunung, kejadian manusia berpasang-pasangan, nyenyak tidur, gelap malam, terang siang, tujuh langit dan pancaran pelita agung sang surya dan lebatnya hujan, semuanya itu adalah nikmat bagi manusia selama hidup di dunia ini, yang kalau manusia sadar akan dirinya, akan tahulah dia betapa besarnya nikmat itu, sehingga dia dapat hidup nyaman di permukaan bumi ini. Dan bahwa hidup manusia kait-berkait dengan alam kelilingnya.

Tetapi jangan lupa! Yang awal mesti ada akhirnya. Bumi itu tidak akan senantiasa demikian saja. Akhirnya dia pasti hancur, dan yang sudah terang terlebih dahulu berjalan meninggalkan bumi ini ialah manusia sendiri. Kalau ajal manusia telah ditentukan, ajal bumi pun telah ditentukan pula. Kalau ajalnya datang, satu apa pun tidak ada yang sanggup bertahan.

“Sesungguhnya Hari Keputusan itu adalah satu waktu yang telah ditetapkan.” (ayat 17). Hari Keputusan itu ialah Hari Kiamat, dan waktunya telah ditentukan di dalam ketentuan Allah, tidak dikurangi dan tidak ditambah dan tidak pula ada yang mengetahui bila hal itu akan terjadi, selain dari Allah sendiri. “(Yaitu) hari yang akan ditiup padanya serunai sangkakala.” (pangkal ayat 8). Bertemulah beberapa ayat di dalam Al-Qur’an tentang serunai sangkakala, atau terompet atau nafiri atau apa yang dinamai tetuang yang bila ditiup akan kedengaran melengking keras suaranya. Serunai itulah pemberitahuan bahwa Hari Keputusan itu telah mulai datang: “Maka akan datanglah kamu berduyun-duyun.” (ujung ayat 18). Dengan demikian jelaslah bahwa tiupan serunai pertama itu adalah panggilan untuk berkumpul, sehingga datanglah manusia berduyun-duyun, rombongan demi rombongan.

Tentang tiupan serunai sangkakala itu Syaikh Muhammad Abduh menulis “Tiupan dalam tafsirnya: Tiupan pada serunai tersebut adalah suatu ibarat bagaimana Allah membangunkan manusia daripada mautnya di hari kiamat itu kelak, yang dapat diambil perumpamaan yang cepat ialah tiupan bunyi terompet, sebagaimana tersebut pada ayat 68 Surat 39, Az-Zumar, demi mendengar bunyi terompet itu mereka pun bangunlah lalu memandang ke sana ke mari dalam kehidupan yang baru. Dan kita pun wajiblah percaya bahwa meniup serunai itu memang akan kejadian, dengan tidak perlu kita kaji pula bagaimana cara penghembusan atau peniupan itu dan apa barangnya.”

Datanglah manusia berduyun-duyun berbondong-bondong ke tempat berkumpul yang dinamai mahsyar itu, tempat memperhitungkan amal dan usaha semasa hidup.

Keadaan pada waktu peniupan serunai sangkakala itu sudah lain:

“Dan akan dibukakan langit, maka jadilah dia beberapa pintu.” (ayat 19).

Dalam keadaan ilmu manusia yang seperti sekarang ini belumlah kita dapat mengetahui bagaimana keadaan langit yang akan terbuka itu. Sebab yang kita lihat pada langit di malam hari hanyalah bintang-bintang yang berserak-serak berjuta-juta banyaknya. Yang kita tahu langit yang kadang-kadang kita namai ruang angkasa itu amat luas atau tinggi, tidak ada batasnya. Kononnya, bila manusia berangkat dari titik tempat tegaknya sekarang ini, (misalnya di rumah saya di Kebayoran), lalu berangkat secepat cahaya mengedari “kolong” langit ini, 12 juta tahun baru sampai kembali ke tempat tegak semula tadi.

Apakah ini yang bernama langit pertama? Dan apakah ini yang akan terbuka lalu terjadi beberapa pintu? Ataukah bintang-bintang yang banyak itu gugur dan terkisar dari tempat jalannya semula, sehingga langit ketirisan? Atau bolong? Sehingga hilanglah daya tarik yang menimbulkan keseimbangan dalam perjalanan alam ini? Lalu semua jadi kucar-kacir dan hancur luluh? Wallahu A’lam.

Yang sudah terang, kalau langit sudah dibuka dan beberapa pintu sudah terjadi, maka perjalanan falak sudah berobah sama sekali, dan tentu itulah yang bernama permulaan kiamat.

“Dan akan dihapuskan gunung-gunung, maka jadilah dia sarab belaka.” (ayat 20).

Tadi pada ayat 7 sudah dijelaskan bahwa gunung-gunung itu dijadikan oleh Allah menjadi pasak bumi, atau tiang-tiang peneguh, pemantap, sehingga manusia dapat hidup dengan tenteram. Kalau gunung-gunung tidak ada, bahaya besarlah yang akan menimpa. Manusia tidak akan dapat hidup di muka bumi lagi. Sebab tidak ada lagi yang akan mendinding angin berhembus keras. Ingat sajalah betapa kerasnya angin di laut ketika kita berlayar. Sebab tidak ada yang menghambat angin itu. Dan gunung-gunung di tanah yang subur dapat menahan erosi, yaitu mengalirnya bunga tanah di bawah hujan sehingga tanah menjadi kering. Maka diterangkanlah dalam ayat 20 ini, bahwasanya setelah serunai sangkakala itu ditiup, gunung-gunung pun menjadi hapus. Lantaran itu maka muka bumi menjadi rata, tak bergunung-gunung lagi. Sudah pasti manusia tidak dapat hidup lagi dalam bumi yang tidak bergunung! Yang ada hanyalah padang belantara belaka. Yang kelihatan oleh mata tidak gunung lagi, melainkan sarab yang disebut orang dalam bahasa asing fatamorgana, yaitu bayang-bayang dari panas yang sangat teriknya, menyerupai air yang sedang tergenang dan sangat jernih. Sehingga apabila kita haus, kita menyangka sesampai kita di tempat itu kita akan bertemu air. Padahal setelah datang ke sana, setetes air pun tidak akan ditemui. Itulah sarab. Dan itulah yang telah diperumpamakan Allah atas orang-orang yang haus akan kebahagiaan jiwa, padahal tidak menurut tuntunan yang diberikan Allah, berjalan tengah kehausan di padang pasir, sebagai tersebut di dalam Surat 24 An-Nur, ayat 39.

Maka pada waktu itu langit tempat bernaung telah tembus dan berlobang-lobang menjadi banyak pintu. Gunung-gunung tempat berlindung dari dahsyatnya angin telah rata dengan tanah, sehingga pengharapan sudah menjadi fatamorgana belaka; disangka air, rupanya hanya pasir!