Ath Thaariq 11 – 17

Sekali lagi Allah bersumpah dengan langit sebagai makhluk-Nya: “Demi langit yang menurunkan hujan.” (ayat 11). Langit yang dimaksud di sini tentulah yang di atas kita. Sedangkan di dalam mulut kita yang sebelah ke atas kita namai “langit-langit”, dan tabir sutera warna-warni yang dipasang di sebelah atas singgasana raja, atau di atas pelaminan tempat mempelai dua sejoli bersanding dinamai langit-langit jua, sebagai alamat bahwa kata-kata langit itu pun dipakai untuk yang di atas. Kadang-kadang diperlambangkan sebagai ketinggian dan kemuliaan Tuhan, lalu kita “tadahkan tangan ke langit” seketika berdoa. Maka dari langit itulah turunnya hujan. Langitlah yang menyimpan air dan menyediakannya dan menurunkannya menurut jangka tertentu. Kalau dia tidak turun, kekeringanlah kita di bumi ini dan matilah kita.

Di dalam ayat 11 ini terdapat kata-kata raj’i yang diartikan hujan. Padahal asal maknanya ialah kembali sebagai di ayat 8 tadi terdapat juga raj’i dengan arti asalnya: kembali!

Mengapa raj’i artinya di sini jadi hujan? Sebab hujan itu memang air dari bumi juga, mulanya menguap naik ke langit, jadi awan berkumpul dan turun kembali ke bumi, setelah menguap lagi naik kembali ke langit dan turun kembali ke bumi. Demikian terus-menerus: Naik kembali, turun kembali.

Lalu Allah bersumpah dengan makhluk-Nya yang satu lagi, yaitu bumi tempat kita hidup ini: “Demi bumi yang menimbulkan tumbuh-tumbuhan.” (ayat 12). Maka bertalilah di antara langit dengan bumi itu. Langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Banyak hujan, dapat hidup sentosa di bumi banyaklah yang tumbuh. Teratur hujan suburlah bumi.

Dan kamu hai insan, hanyalah karena belas-kasihan Allah yang mengatur pertalian langit dan bumi itu. Kalau kamu perhatikan itu, niscaya kamu akan insaf di mana letakmu dalam alam ini.

Sesudah mengambil sumpah dengan langit dan bumi itu, langsunglah Tuhan menjelaskan apa yang hendak di firmankan-Nya: “Sesungguhnya dia adalah kata yang tegas jitu.” (ayat 13). Tegas keluarnya dan jitu, maksudnya, tiada tedeng aling-aling, sehingga jelaslah menjadi fashl, yaitu pemisah di antara yang hak dengan yang batil: “Dan bukanlah dia suatu olok-olok.” (ayat 14). Itulah kata Al-Qur’an; tegas dan jitu sehingga bila “ketuk palunya” telah kedengaran tidak ada suara lain lagi. Sebab itulah kata putus yang tidak berolok-olok. Tidaklah dia kata yang tidak jelas ujung pangkal. Dia keluar daripada telaga jernih. Kebenaran. Bukan bolak-balik tak tentu arah dan bukan main-main. Sebab dia adalah firman Tuhan!

“Sesungguhnya mereka membuat dalih, sebenarnya dalih.” (ayat 15). Membuat tipu hendak mengelak, dengan sebenar tipu: “Dan Aku pun membuat dalih, sebenarnya dalih.” (ayat 16). Dengan segenap daya upaya orang yang kafir itu hendak mendalih menipu Tuhan, namun yang tertipu bukanlah Tuhan, melainkan diri mereka sendiri. Mereka kejar dunia, padahal yang pasti bertemu ialah akhirat. Mereka ingin panjang umur, padahal mereka takut tua. Mereka sayangi dunia, padahal kuburlah yang menunggu mereka.

“Maka perlambat-lambatlah bagi orang-orang kafir itu.” (pangkal ayat 17). Lambat akan datang pembalasan azab, ini pun salah satu tipuan Tuhan: “Aku pun memperlambat-lambatnya pula, sebentar.” (ujung ayat 17). Mereka sangka perlambatan itu akan lama, padahal hanya sebentar. Karena akhirnya hanya akan berdiri juga di hadapan Allah memperhitungkan kelalaian yang telah dilakukan di kala hidup.

Hari-hari yang telah kita lampaui itu, rasakanlah! Bukankah hanya sebentar saja rasanya. Sedang mencoba-coba hidup, hidup pun habis.

Tafsir ayat Ath Thaariq Lainnya: