Ath Thaariq 5 – 10

RENUNGKANLAH DARI MANA ASALMU

“Maka hendaklah memandang manusia.” (pangkal ayat 5). Hendaklah manusia merenungkan, memikirkan atau memandang dengan mata hati kepada keadaan yang terlindung di balik kenyataan, padahal dari sana asal kenyataan itu; perhatikanlah: “Dari apakah dia diciptakan.” (ujung ayat 5).

Engkau yang telah bertubuh gagah ini, atau manusia yang mabuk dengan kedudukan dan kemegahan, yang menyangka bahwa dunia ini telah dapat dikuasainya; perhatikanlah daripada asal mula engkau jadi.

“Dia diciptakan daripada air yang melancar.” (ayat 6).

Yaitu daripada air mani atau dalam bahasa tua disebut Kama. Dari puncak kelazatan bersetubuh, melancarlah dengan cepatnya mani itu keluar, laksana meloncat mendesak keluarnya. “Yang keluar dari antara shulbi dan taraib.” (ayat 7).

Maka berkatalah ahli tafsir dan ahli bahasa; Shulbi ialah deretan tulang punggung laki-laki. Demikianlah perjalanan darah manusia diatur pada ginjal. Dia yang akan memisahkan di antara darah manusia dengan mani. Darah mengumpul kepada jantung; dari jantung dia berbagi dengan cepat sekali, pergi dan pulang di seluruh tubuh. Dan dari ginjal yang terletak di tulang punggung itu pula mani tadi disaringkan, buat turun ke bawah, yaitu kepada buah-buah (pelir) laki-laki. Dengan demikian jelaslah bahwa shulbi ialah deretan tulang punggung. Dan ditating oleh tulang punggung itu terletak ginjal, yang dinamai juga buah punggung.

Taraib ialah tulang dada bagi perempuan, yang di sana terletak susunya (tetek). Maka syahwat perempuan yang menimbulkan maninya itu lebih berpusatlah kepada susunya. Dan susu itu pula yang dipergunakan Allah menjadi “magnit” penarik syahwat laki-laki. Tetapi kemudian susu itu pula dijadikan penyimpan makanan (air susu) yang akan diminum oleh anak agar dia besar.

Begitulah kejadian manusia pada mulanya, yang manusia tidak boleh melupakan itu, supaya janganlah dia sombong dalam dunia ini.

“Sesungguhnya Dia, atas mengembalikannya, adalah sangat sanggup.” (ayat 8).

Kalau kiranya dari air mani yang meloncat melancar dari kemaluan seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang kemudian berpadu satu menjadi nuthfah, dan akhirnya jadi orang, jadi manusia dan diangkat jadi raja atau presiden, jadi ahli fikir ataupun jadi seorang Nabi, dan yang menciptakan dengan jalan semacam itu ialah Allah Ta’ala, tentu saja tidaklah layak kita membantah jika Allah itu Maha Kuasa mengembalikan hidup sesudah melalui alam kematian kelak. Maka tidaklah layak manusia yang selalu menyaksikan asal mula jadinya manusia, jika dia membantah dan tidak mau percaya akan hidup yang kedua kali yang bernama Hari Akhirat itu.

Bilakah itu akan terjadi?

Ialah: “Pada hari yang akan jadi nyata segala yang tersembunyi.” (ayat 9). Dalam hidup di dunia ini, dapatlah manusia bersikap munafik, menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Sehingga ada kehidupan peribadi yang dirahasiakan ke muka umum dan ada kehidupan di muka umum. Pada kehidupan di muka umum itu, yang diperlihatkan hanya yang bagus-bagus saja. Di akhirat kelak terbukalah rahasia itu. Ditelanjangi manusia daripada bungkusan munafiknya. Kerdilah manusia yang dahulu membesarkan diri. Dan besarlah di hadapan Allah orang-orang yang taat mengikuti jalan yang digariskan-Nya, dengan bimbingan Nabi-nabi.

“Maka tidaklah ada baginya sembarang kekuatan pun.” (pangkal ayat 10). Sembarang kekuatan yang kamu megahkan di dunia ini tidaklah akan menolong. Walaupun engkau mempunyai peluru kendali, bom nuklir, meriam yang dapat menghancurkan sekian divisi tentara. Dikawal pun engkau kiri kanan akan percumalah kawalan itu. Sebab engkau di waktu itu sebagai Insan yang kecil laksanan cacing tengah berhadapan mempertanggungjawabkan hidup yang kamu lalui di masa lampau, di hadapan Tuhanmu sendiri: “Dan tidak (pula) yang akan membela.” (ujung ayat 10).

Siapa yang lain yang akan membela? Padahal yang dihadapi ialah hari akhirat, bukan di dunia yang dapat mencari “Sarjana Hukum” yang dapat menelaah dan mencari jalan-jalan keluar dari jeratan undang-undang. Permbelamu kalau ada tidak lain hanya amal di kala hidupmu.

Tafsir ayat Ath Thaariq Lainnya: