At Takwir 23 – 29


“Dan sesungguhnya dia.” (pangkal ayat 23). Yang dimaksud dengan dia itu ialah Nabi Muhammad SAW; “Telah pernah melihatnya di ufuk yang nyata.” (ujung ayat 23). Bahwa Nabi Muhammad SAW telah pernah melihat rupa Jibril itu di ufuk yang nyata. Ufuk yang nyata ialah Ufuk sebelah Timur, sebab dia tempat terbit matahari, maka ufuk Timur itu lebih nyata dan jelas daripada ufuk-ufuk yang lain.

Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas, Jibril pernah memperlihatkan diri dalam rupanya yang asli kepada Nabi Muhammad SAW di bukit ‘Arafah. Maka kelihatanlah tubuhnya yang memenuhi dari Masyriq sampai ke Maghrib, kakinya terhunjam ke bumi dan kepalanya menunjak ke langit. Setelah melihatnya dalam kehebatan itu, pingsanlah Nabi SAW. Dan kita kenal juga di dalam Hadis yang shahih tentang pertemuan pertama di Gua Hira’, ketika Wahyu pertama akan diberikan kepada beliau, besar tinggi tersundak ke langit, lalu mengecilkan diri sampai memeluk beliau dengan keras, sampai beliau SAW disuruhnya membaca: “Iqra’.” Lalu beliau jawab bahwa beliau tidak pandai membaca, lalu Nabi dipeluknya keras, sampai keluar keringat dan setengah pingsan.

Ketika menafsirkan Surat 96, Al-Alaq nanti akan kita jelaskan lagi.

“Dan tidaklah dia, atas hal-hal yang ghaib, dapat dituduh.” (ayat 24). Yang ghaib ialah khabar-khabar wahyu yang datang dari langit itu. Maka tidaklah Nabi Muhammad SAW itu dapat dituduh bahwa dia menambah atau mengurangi apa yang diwahyukan, ataupun mengada-ngadakan yang bukan wahyu dikatakannya wahyu.

“Dan bukanlah dia itu.” (pangkal ayat 25). Dia di sini ialah Al-Qur’an sebagai wahyu yang didatangkan dari langit dengan perantaraan Jibril yang amat dipercaya itu; bukanlah dia itu “Perkataan syaitan yang terkutuk.” (ujung ayat 25). Atau yang kena rejam.

“Tegal itu, ke mana kamu hendak pergi lagi?” (ayat 26).

Kalau sudah demikian jelas dan terangnya; yang membawa wahyu itu ialah malaikat yang diangkat Allah menjadi Rasul-Nya yang mulia, lagi kuat kedudukannya di sisi singgasana Allah (‘Arasy), lagi kokoh, dipatuhi oleh malaikat-malaikat yang banyak, dipercayai oleh Allah sendiri, yang dibawanya ialah wahyu suci, sabda Tuhan. Dibawa kepada Muhammad, orang yang sihat jiwanya dan bukan orang gila. Yang dibawa itu pun adalah Sabda Ilahi, bukan kata-kata syaitan, dan Muhammad itu sendiri pun pernah bertemu muka dengan Jibril itu; jadi yang membawa, yang dibawa dan orang yang menerima pembawaan adalah mendapat jaminan dari Allah belaka, dengan alasan apakah lagi kamu hendak mengelakkan diri? Ke mana lagi kamu akan pergi? Ke jalan mana? Ke jurusan mana? Kalau kamu pakai akal fikiranmu yang waras, sekali-kali tidaklah akan dapat kamu tolak kebenaran ini.

Maka ditegaskan Allah sekali lagi tentang Al-Qur’an itu.

“Dia itu tidak lain melainkan satu peringatan untuk seisi alam.” (ayat 27). Dia adalah Rahmat untuk seisi alam, Dia bukan terbatas untuk satu kaum, atau satu kelompok atau satu waktu saja. Dia adalah buat selama-lamanya. Selama alam dunia ini masih didiami oleh ummat manusia.

“(Yaitu) untuk siapa-siapa di antara kamu yang ingin berlaku lurus.” (ayat 28). Yang ingin berlaku lurus, berjalan lurus, yaitu barangsiapa di antara kamu yang ingin jujur terhadap dirinya sendiri. Karena kebenaran yang diterangkan dalam wahyu itu adalah sesuai dengan fithrahmu, bahkan itulah suara hatimu sendiri. Kalau kamu ingkari kebenaran itu, adalah kamu mengkhianati dirimu sendiri. Yang demikian tidaklah jalan yang lurus dan yang demikian bukanlah sifat yang jujur.

“Tetapi tidaklah kamu akan mau, kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam.” (ayat 29).

Sebab itu maka langkah pertama yang hendaknya kamu tempuh ialah menembus tabir-tabir hawa nafsu yang menghambat di antara dirimu dengan Allah. Kalau tabir hawa nafsu itu telah lama membelenggu diri itu sudah dapat direnggutkan sendiri dari diri, akan hilanglah batas hati dengan Allah. Dan bilamana batas hati itu telah hilang, Tuhan Allah sendirilah yang akan memimpin kita menuju kepada yang Dia ridhaii

Tafsir ayat At Takwir Lainnya: