<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tafsir Al Azhar &#124; Tafsir Al Qur&#039;an Oleh Buya HAMKA</title>
	<atom:link href="http://tafsir.cahcepu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tafsir.cahcepu.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Oct 2010 13:45:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Asy Syams 9 &#8211; 15</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/asysyams/asy-syams-9-15/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/asysyams/asy-syams-9-15/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 13:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asy Syams]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[“Maka berbahagialah barangsiapa yang membersihkannya.” (ayat 9). Setelah Tuhan memberikan Ilham dan petunjuk, mana jalan yang salah dan mana jalan kepada takwa, terserahlah kepada manusia itu sendiri, mana yang akan ditempuhnya, sebab dia diberi Allah akal budi. Maka berbahagialah orang-orang yang membersihkan jiwanya atau dirinya, gabungan di antara jasmani dan rohaninya. Jasmani dibersihkan dari hadas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/syam9-15.gif"></img></p>
<p>“Maka berbahagialah barangsiapa yang membersihkannya.” (ayat 9). Setelah Tuhan memberikan Ilham dan petunjuk, mana jalan yang salah dan mana jalan kepada takwa, terserahlah kepada manusia itu sendiri, mana yang akan ditempuhnya, sebab dia diberi Allah akal budi. Maka berbahagialah orang-orang yang membersihkan jiwanya atau dirinya, gabungan di antara jasmani dan rohaninya. Jasmani dibersihkan dari hadas dan najis, hadas besar atau kecil, baik najis ringan atau berat. Dan jiwanya dibersihkan pula daripada penyakit-penyakit yang mengancam kemurniannya. Penyakit paling berbahaya bagi jiwa ialah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain, mendustakan kebenaran yang dibawa oleh Rasul, atau bersifat hasad dengki kepada sesama manusia, benci, dendam, sombong, angkuh dan lain-lain.</p>
<p>“Dan celakalah barangsiapa yang mengotorinya.” (ayat 10). Lawan dari mensucikan atau membersihkan ialah mengotorinya. Membawa diri ke tempat yang kotor; kotor jasmani tersebab najis, tidak istinja’ (bersuci daripada najis dan hadas), tidak berwudhu’ lalu tidak sembahyang, tidak tahu kebersihan. Seorang yang beriman hendaklah selalu mengusahakan pembersihan diri luar dan dalam, dan jangan mengotorinya. Sebab kekotoran akan membuka segala pintu kepada berbagai kejahatan yang besar. Sebagai salah satu bukti dari kekotoran jiwa itu ialah perbuatan kaum Tsamud, kaum yang didatangi oleh Rasul Allah yang bernama Shalih.</p>
<p>“Telah mendustakan Tsamud, tersebab kesombongannya.” (ayat 11). Kesombongan adalah salah satu akibat dari kekotoran jiwa. Kaum Tsamud sombong, angkuh dan lantaran itu mereka tidak memperdulikan peraturan dan tidak menghargai janji yang telah diikat dengan Allah; “Seketika telah bangkit orang yang paling celaka di antaranya.” (ayat 12). Di dalam Surat-surat yang lain yang telah kita tafsirkan, telah kita ketahui bahwa sekelompok orang-orang celaka yang tidak menghargai nilai-nilai budi dan sopan, santun, peminum tuk dan pezina, telah bangkit menantang dan melanggar peraturan Allah.</p>
<p>“Lalu berkata Rasul Allah kepada mereka.” (pangkal ayat 13). Yaitu Rasul Allah dan Nabi-Nya, Shalih ‘alaihis-salam, yang telah diutus Allah kepada kaum itu. Mulanya mereka tidak mau percaya kepada Risalat yang dibawa oleh Nabi Shalih; lalu akhirnya mereka meminta ayat, atau tanda dan mu’jizat akan jadi bukti bahwa dia memang Utusan Tuhan. Lalu Tuhan ciptakan seekor unta besar. Maka dibuatlah janji bersama, bahwa jika unta itu tercipta, maka minuman akan dibagi; sehari minuman untuk unta dan sehari untuk penduduk negeri itu. Air itu timbul dari satu mata-air yang jernih. Di hari minuman unta mereka tidak boleh mengambil air, walaupun seteguk. Di hari minum mereka unta tidak akan minum, walaupun seteguk. Itulah yang diperingatkan oleh Nabi Shalih; “(Jagalah) unta Allah dan minumannya.” (ujung ayat 13). Artinya janganlah perjanjian dan pembahagian itu dilanggar, turutilah baik-baik dan jangan unta Allah itu diganggu supaya kalian selamat.</p>
<p>“Tetapi mereka dustakan dia.” (pangkal ayat 14). Mulanya mereka langgar peraturan yang telah diperbuat itu. Karena si celaka itu, dua orang kepalanya, yaitu si Qadar dan si Mashda ingin minuman tuak di rumah kekasih mereka seorang perempuan jahat. Setelah tuak itu dihidangkan ternyata sangat tebal alkoholnya. Mereka ingin ditambah sedikit dengan air. Tetapi pada malam itu air tidak ada dalam kendi perempuan itu, dan malam itu air tidak boleh diambil ke telaga, sebab sedang hari minuman unta. Maka dengan sombongnya kedua kepala penjahat atau orang celaka itu menyuruh anak buah mereka menyauk air dan minum sepuas-puasnya dan jangan diperdulikan peraturan yang dibuat Nabi Shalih itu. Kalau membuat-buat peraturan yang mengikat kemerdekaan mereka, kalau perlu Shalih sendiri dibunuh; “Lalu mereka bunuh unta itu.” Yang dinamai “Naqat Allah”, unta Allah. Unta itu mereka bunuh beramai-ramai pada malam itu juga, mereka bagi-bagi dagingnya dan mereka makan bersama-sama. “Maka Tuhan mereka pun mencurahkan azab kepada mereka lantaran dosa mereka itu.” Sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa Surat sebelum ini, didatangkan Tuhanlah kepada mereka siksaan tiga hari lamanya; khusus kepada sekalian mereka yang telah memakan daging unta itu; Hari pertama seluruh badan jadi kuning, hari kedua masak jadi merah, hari ketiga menjadi hitam. Dan pada petang hari yang ketiga itu kedengaranlah suara pekik yang sangat hebatnya, sehingga pecahlah anak telinga mendengarkannya dan sampai kepada perut pun jadi pecah. Adapun orang yang tidak turut memakan daging unta itu telah dibawa oleh Nabi Shalih terlebih dahulu meninggalkan negeri itu, sehingga mereka pun selamat; “Hingga Dia ratakan kebinasaan itu.” (ujung ayat 14). Tidak ada yang terlepas, semua yang bersalah, laki-laki dan perempuan, bahkan siapa saja pun rata disapu oleh azab itu, kecuali orang-orang yang beriman yang telah dapat memelihara diri di bawah pimpinan Nabi Shalih sebelum azab turun.</p>
<p>“Maka tidaklah Dia menghiraukan akibat dari kesalahan mereka.” (ayat 15). Artinya, jika semua yang bersalah itu mendapat siksa yang rata dari Allah, tanpa kecuali, janganlah sampai orang menyangka bahwa Allah berbuat aniaya kepada hamba-Nya. Azab Allah itu adalah akibat saja. Di dalam ayat tersebut <em>uqbaaha</em> daripada pelanggaran yang telah mereka lakukan. Maka segala manusia pun demikianlah jalan yang akan mereka tempuh. Tidaklah mereka dengan tiba-tiba datang dan diazab saja. Tuhan terlebih dahulu memberikan <em>Ilham</em> mana jalan yang salah dan yang buruk dan mana pula jalan yang takwa dan selamat. Untuk perlengkapannya maka Allah mengutus Rasul, guna menyempurnakan <em>ilham</em> yang diberikan Tuhan itu. Berbahagialah orang yang berusaha mensucikan dirinya lahir dan batin, dan celakalah orang yang mengotorinya. Cobalah perhatikan kaum Tsamud itu; telah Tuhan utus seorang Rasul kepada mereka. Lalu mereka meminta tanda dia jadi Utusan Tuhan. Permohonan mereka dikabulkan. Lalu diikat janji dan disetujui bersama, dan Tuhan pun menciptakan Unta Allah itu. Tetapi rupanya masih ada di antara mereka yang mengotori diri dengan perangai-perangai jahat dan celaka, sampai mereka bunuh unta itu, dan mereka bagi-bagikan dagingnya dan mereka makan bersukaria, seakan-akan mempertontonkan bahwa peraturan dan perjanjian dengan Allah itu tidaklah akan mencelakakan diri kalau dilanggar. Akibatnya ialah bahwa Allah mengambil sikap; mereka pun dihncurkn.</p>
<p>Maka tidaklah Allah menghiraukan atau sedikit pun Allah tidak merasa kasihan, meskipun sifat Allah itu adalah Rahman, dan Rahim, Pengasih dn Penyayang. Terhadap orag ini Tuhan melakukan sifatnya: <em>‘Aziizun, dzun-tiqaam</em>. Artinya Gagah Perkasa dan membalas kesalahan dengan setimpal. Karena dalam sifat-sifat yang demikian tidak sedikit pun kurang atau rusak sifat Rahman dan Rahim Allah itu. Bahkan Rahman dan Rahim kepada makhluk-Nya dan hamba-Nya yang lain, diperlihatkan hal ini kepada mereka, karena Allah Kasih dan Sayang, jangan sampai hamba yang lain menempuh jalan yang salah itu pula.</p>
<p>Itulah artinya bahwa Allah tiada menghiraukan akibat dari kesalahan mereka, sebagaimana yang terlukis pada ayat 15 ayat penutup Surat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/asysyams/asy-syams-9-15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asy Syams 1 &#8211; 8</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/asysyams/asy-syams-1-8/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/asysyams/asy-syams-1-8/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 13:43:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asy Syams]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[Di sini Tuhan Allah mengambil persumpahan dengan beberapa makhluk yang Dia ciptakan, yang samasekali itu adalah makhluk besar jika dibandingkan dengan kejadian manusia. Mula sekali di Surat ini Tuhan bersumpah dengan matahari, dan matahari pula yang menjadi nama Surat ini; “Demi matahari dan cahaya siangnya.” (ayat 1). Karena apabila matahari telah mulai terbit, kian lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tafsir.cahcepu.com/biss.gif"></img><br />
<img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/syam1-8.gif"></img></p>
<p>Di sini Tuhan Allah mengambil persumpahan dengan beberapa makhluk yang Dia ciptakan, yang samasekali itu adalah makhluk besar jika dibandingkan dengan kejadian manusia. Mula sekali di Surat ini Tuhan bersumpah dengan matahari, dan matahari pula yang menjadi nama Surat ini; “Demi matahari dan cahaya siangnya.” (ayat 1).</p>
<p>Karena apabila matahari telah mulai terbit, kian lama dia akan kian tinggi dan kian memancar pulalah cahaya siangnya. Maka terasalah betapa sangkut=pautnya kehidupan manusia dengan cahaya matahari di siang hari itu.</p>
<p>Dalam ayat ini ada disebut waktu <em>Dhuha</em>, yaitu sejak matahari mulai beransur panas, sampai matahari di pertengahan langit. Waktu itu disebut waktu <em>Dhuha</em>. Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Juzu’ ‘ammanya mengatakan bahwa matahari dijadikan persumpahan oleh Tuhan agar kita perhatikan terbitnya dan terbenamnya, karena dia adalah makhluk Tuhan yang besar dan dahsyat. Dan Tuhan ambil pula cahaya siangnya jadi persumpahan karena cahaya itulah sumber kehidupan dan penerang mencari petunjuk dalam alam ciptaan Tuhan yang luas ini. Di mana engkau akan dapat hidup kalau cahaya matahari tak menerangi? Dan di mana engkau akan dapat melihat sesuatu yang tumbuh dan berkembang? Bahkan di mana engkau dapat mengetahui dirimu sendiri, kalau tak ada cahaya Sang Surya?</p>
<p>“Demi bulan apabila dia mengikutinya.” (ayat 2). Yang dimaksud bulan mengikuti matahari ini ialah di saat-saat bulan mencapai purnamanya, sejak 13 haribulan sampai 16 haribulan. Waktu itulah bulan penuh sebagaimana adanya kelihatan dari muka bumi, sehingga malam pun mendapat sinaran dari bulan sepenuhnya sejak matahari terbenam sampai fajar menyingsing. Oleh sebab itu persumpahan Ilahi tertuju di sini bukan semata kepada bulannya, tetapi terutama lagi kepada perbandingan cahayanya dengan cahaya matahari. Bukanlah maksud ayat ini bahwa bulan sendirilah yang mengikuti matahari, sebab sebagai tersebut di dalam Surat 36, Yaa-Siin ayat 40 perjalanan bulan itu jauh lebih cepat dari perjalanan matahari, sehingga “Tidaklah selayaknya matahari menukar bulan”, sebab perjalanan matahari itu lebih lambat (365 hari edaran satu tahun) dan bulan lebih cepat (354 hari dalam setahun).</p>
<p>“Demi siang apabila menampakkannya.” (ayat 3). Artinya, apabila hari telah pertambah siang, bertambah nampak jelaslah matahari itu, bahkan adanya matahari yang jelas itulah yang menyebabkan adanya siang. Karena di waktu itulah matahari yang memancarkan cahaya itu menjadi lebih jelas. Sehingga jelaslah dalam ayat ini betapa pentingnya cahaya itu bagi seluruh alam dalam kekeluargaan matahari, terutama di muka bumi kita ini. Dan kepentingan perhatian kita di hadapan cahaya itu bertambah lagi karena ayat yang berikutnya; “Demi malam apabila menutupinya.” (ayat 4). Karena bila matahari telah terbenam datanglah malam. Malam ialah saat-saat berpengaruhnya kegelapan, karena matahari tidak kelihatan lagi. Dan kegelapan malam itu mempengaruhi kepada urat-urat saraf kita. Dengan datangnya malam, yang matahari laksana tersimpan dahulu, kita pun dapat beristirahat menunggu matahari terbit pula.</p>
<p>“Demi langit dan apa yang mendirikannya.” (ayat 5). Setelah diambil perhatian kita kepada matahari, bulan dan siang dan malam, pada yang kelima diperingatkanlah keindahan langit itu sendiri, dan <em>apa</em> atau <em>siapakah</em> yang membina langit yang demikian indah, yang kadang-kadang dinamai “gubah hijau”, demi indah permainya di siang hari ketika awan beriring ke tepi, bukan berarak ke tengah. Dan lebih indah lagi bila kelihatan di malam hari dengan hiasan bintang-bintang, tidak pernah membosankan mata memandang, lebih-lebih lagi mereka yang berperasaan halus.</p>
<p>“Demi bumi dan apa yang menghamparkannya.” (ayat 6). Kelihatan pula keindahan bumi dengan lautan dan daratannya, gunung dan ganangnya, danau dan tasiknya, rimba dan padang belantaranya. Kayu-kayuannya, rumput-rumputannya, binatang-binatangnya, ikannya di laut, ternaknya di padang. Sebagai ayat 5 tentang langit, perhatian pun ditarik untuk memperhatikan <em>apa</em> yang menghamparkan bumi itu begitu indah, dengan padang saujananya yang serenjana mata memandang. Alangkah dahsyatnya kejadian bumi itu, <em>apakah</em> agaknya, atau siapakah yang menghamparkannya sehingga manusia dapat hidup di dalam bumi terhampar itu? Di kedua ayat ini, ayat lima dan ayat enam; dikatakan <em>apa</em> untuk mencari <em>siapa</em>!</p>
<p>Untuk menegaskan dari <em>apa</em> kepada <em>siapa</em>, datanglah ayat selanjutnya; “Demi sesuatu diri dan apa yang menyempurnakannya.” (ayat 7). Atau sesuatu jiwa, yang dimaksud ialah peribadi seorang Insan, termasuk engkau, termasuk aku. Sesudah kita disuruh memperhatikan matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi dan latarbelakang segala yang nyata itu, yang di dalam filsafat dinamai <em>fisika</em>, kita disuruh <em>mencari apa metafisikanya</em>, sampai hendaknya kita menginsafi bahwa segala-galanya itu mustahil terjadi dengan sendirinya. Semuanya teratur, mustahil tidak ada yang mengatur. Untuk sampai kesana, sesudah melihat alam keliling, hendaklah kita melihat diri sendiri; Siapakah AKU ini sebenarnya? Aku lihat matahari dan bulan itu, siang dan malam itu, langit dan bumi itu, kemudian aku fikirkan; “Aku yang melihat ini sendiri siapakah adanya?” Mula-mula yang kita dapati ialah; “Aku Ada!” bukti bahwa aku ini ADA ialah karena aku berfikir. Aku Ada, karena aku bertanya. Sesudah Aku yakin akan ADAnya aku, datanglah pertanyaanku terakhir; ”secara kebetulankah AKU ADA ini? Secara kebetulankah aku ini berfikir? Dan apa artinya AKU ADA ini? Siapakah yang aku? Apakah tubuh kasar ini, yang dinamai <em>fisika</em> pula. Kalau hanya semata-mata tubuh kasar ini yang aku, mengapa waktu berhenti bernafas dan orang pun mati? Dan barulah <em>sempurna</em> hidupku karena ada gabungan pada diriku ini di antara badan dan nyawa. Dan nyawa itu pun adalah sesuatu yang metafisika, di luar kenyataan! Maka lanjutlah pertanyaan! Apa dan siapakah yang menyempurnakan kejadianku itu?”</p>
<p>Di sinilah kita mencari Tuhan Maha Pencipta, setelah kita yakin akan adanya diri kita. Di sinilah terletak pepatah terkenal:</p>
<blockquote><p>“Barang siapa yang telah mengenal akan dirinya, niscaya akan kenallah dia kepada Tuhannya.”</p></blockquote>
<p>Sedangkan diri sendiri lagi menjadi suatu persoalan besar, apakah lagi persoalan tentang mencari hakekat Tuhan. Maka akan nyatalah dan jelaslah Tuhan itu pada matahari dengan cahaya siangnya, bulan ketika mengiringinya, siang ketika menampakkannya, malam ketika menutupinya, langit yang jelas betapa kokoh pendiriannya dan bumi yang jelas betapa indah penghamparannya; akhirnya diri kita sendiri dengan serba-serbi keajaibannya.</p>
<p>“Maka menujukkanlah Dia.” (pangkal ayat 8). Dia, yaitu Tuhan yang mendirikan langit menghamparkan bumi dan menyempurnakan kejadian Insan. Diberi-Nya <em>Ilham</em> diberi-Nya petunjuk “<em>kepadanya</em>.” Artinya kepada diri Insan tadi; “Akan kejahatannya dan kebaikannya.” (ujung ayat 8).</p>
<p>Diberilah setiap diri itu Ilham oleh Tuhan, mana jalan yang buruk, yang berbahaya, yang akan membawa celaka supaya janganlah ditempuh, dan bersamaan dengan itu diberinya pula petunjuk mana jalan yang baik, yang akan membawa selamat dan bahagia dunia dan akhirat.</p>
<p>Artinya, bahwa setiap orang diberi akal buat menimbang, diberikan kesanggupan menerima Ilham dan petunjuk. Semua orang diberitahu mana yang membawa celaka dan mana yang akan selamat. Itulah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Di Surat Al-Balad yang baru lalu pada ayat 10 dikatakan juga:</p>
<blockquote><p>“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan mendaki.”</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/asysyams/asy-syams-1-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Balad 17 &#8211; 20</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-17-20/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-17-20/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 06:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Balad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[“Kemudian.” (pangkal ayat 17). Artinya di samping amalannya yang lahir kelihatan itu, “Adalah dia termasuk orang-orang yang beriman.” Bukan hanya semata-mata karena mencari pujian orang, karena riya’. Karena kalau hanya mencari pujian dan riya’, dia akan berhenti di tengah jalan. Tak ada yang memuji dia pun berhenti, diomeli sedikit dia pun merajuk, sebab dia merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/balad17-20.gif"></img></p>
<p>“Kemudian.” (pangkal ayat 17). Artinya di samping amalannya yang lahir kelihatan itu, “Adalah dia termasuk orang-orang yang beriman.” Bukan hanya semata-mata karena mencari pujian orang, karena riya’. Karena kalau hanya mencari pujian dan riya’, dia akan berhenti di tengah jalan. Tak ada yang memuji dia pun berhenti, diomeli sedikit dia pun merajuk, sebab dia merasa dirinya penting benar. “Dan pesan-memesan dengan kesabaran,” karena banyaknya percobaan hidup sebagai paceklik, kemiskinan, kelaparan dan keyatiman. Semua adalah percobaan, dan harus dihadapi dengan hati tabah; “Dan pesan-memesan dengan berkasih-kasihan.” (ujung ayat 17). Yaitu bahwa yang kuat mengasihi yang lemah, yang kaya menghibai yang miskin. Berkasih-kasihan, bersayang-sayangan, bantu membantu, tolong menolong; “Orang-orang begitu adalah golongan kanan.” (ayat 18). Dan di akhirat kelak surat keputusan nasibnya pun akan diterimanya dari sebelah kanan juga. (Lihat kembali Surat 84, Al-Insyiqaq; 7-8).</p>
<p>“Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami. (pangkal ayat 19). Yaitu yang tidak mau percaya segala keterangan dan bimbingan yang diberikan Allah dengan perantaraan Rasul-rasulnya; “Mereka itulah golongan kiri.” (ujung ayat 19). Dan dari kiri atau belakang pulalah mereka akan menerima surat keputusan nasibnya di hari akhirat kelak (lihat Surat 84; 10-11-12). “Untuk mereka adalah neraka yang dikunci rapat.” (ayat 20). Tak ada harapan buat keluar lagi, sampai secukupnya azab siksaan yang diterima.</p>
<p>Dari sini mengertilah kita bahwa dalam istilah Islam “golongan kanan” dan “golongan kiri” itu berbeda dengan istilah kaum politisi Barat yang telah diistilahkan orang pula di Indonesia ini. Padahal asalnya ialah dari tradisi parlemen di Negeri-negeri Barat. Wakil-wakil Rakyat yang menyokong pemerintah duduk di sebelah kanan dan yang menentang (oposisi) duduk di sebelah kiri Ketua Parlemen.</p>
<p>Orang-orang Komunis di negeri-negeri yang belum mereka kuasai, senantiasa mengadakan oposisi (bangkangan) kepada pemerintah yang ada, lalu mereka menyebut diri mereka “Kaum Kiri”. Demikian pandai mereka mempengaruhi masyarakat dengan semboyan-semboyan, sehingga orang merasa megah kalau menyebut diri “Golongan Kiri” dan apa yang disebut “Golongan Kanan” dartikan golongan borjuis atau kaum kapitalis, orang yang tidak progressif dan kata-kata ejekan yag lain, sehingga golongan beragama yang telah menerima tuntunan dari Wahyu Ilahi, yang hidup dalam bertakwa dan iman yang disebut Tuhan dalam wahyu-Nya itulah “Golongan Kanan” menjadi terdesak dan malu, sedang orang-orang keras kepala, yang selalu hanya membangkang, yang merebut kekuasaan dengan serba kekerasan, merasa bangga dengan menyebutkan dirinya “Kaum Kiri.”</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Seketika hebat revolusi fisik di Bukittinggi di sekitar tahun 1947 ayat-ayat dari Surat Al-Balad inilah yang diselidiki lebih mendalam dan diambil nilai-nilainya untuk dasar perjuangan Partai Masyumi oleh pemimpin Masyumi di Sumatera Barat di waktu itu, saudara Darwis Thaib, yang setelah menyandang gelar adat pusaka, memakai gelar Datuk Sidi Bandoro.</p>
<p>Di zaman pergerakkan menentang penjajahan sebelum perang dunia ke-II, Darwis Thaib adalah salah seorang kader penting dari Partai Pendidikan Nasional Indonesia, yang didirikan dan dipimpin oleh Muhammad Hatta. Darwis Thaib mempelajari sosialisme dengan mendalam. Menurut beliau, ayat-ayat dari Surat Al-Balad ini adalah dasar yang teguh dari ajaran “Keadilan Sosial” yang bersumber dari wahyu. Orang dididik memperdalam iman dan sanggup menempuh jalan mendaki yang sukar (‘Aqabah), mengeluarkan hartabenda dan tenaga buat: (1) Memberantas segala macam perbudakan, pemerasan manusia atas sesama manusia, (2) Memberi makan pada saat orang sangat memerlukan makanan, baik terhadap anak-anak yatim karena ayah-ayahnya yang tewas sebagai korban perjuangan, atau orang-orang miskin dan melarat yang tidak mempunyai apa-apa. (3) Semuanya itu terlebih dahulu mesti timbul dari Iman dan keyakinan hidup sebagai Muslim, yang masyarakatnya dibentuk oleh jamaahnya sendiri. Yaitu jamaah yang hidup dalam gotong-royong, hidup pesan-memesan tentang <em>kesabaran</em> menderita dan pesan-memesan supaya selalu hidup dalam berkasih-sayang, bantu-membantu, tolong-menolong; itulah yang dinamai hidup dalam masyarakat MARHAMAH.</p>
<p>Dan oleh Darwis Thaib diberi nama sehingga kalimat MARHAMISME ini menjadi timbalan, jauh lebih populer di kalangan Kaum Muslimin daripada kalimat MARHAENISME ciptaan Sukarno.</p>
<p>Sayang sekali karena perhubungan se Indonesia belum lancar di waktu itu, maka doktrin MARHAMISME dari kalimat MARHAMAH ini belum sempat tersiar jauh, dan oleh gangguan kesihatan Darwis Thaib tidak dapat membawa nilai-nilai cita-cita dan kepuasannya terhadap Surat Al-Balad ini ke pusat Masyumi di waktu itu, yaitu di Jokja, atau di Jakarta, untuk diperdalam lagi setelah didiskusikan dengan pemimpin-pemimpin yang lain. Apakah lagi setelah selesai penyerahan kedaulatan, Partai Masyumi telah menghadapi perjuangan-perjuangan yang dahsyat menghadapi usaha-usaha lawan-lawannya buat menghancurkannya, yang dipelopori oleh Presiden Sukarno sendiri, yang akhirnya sampai membubarkan partai tersebut. Dan setelah itu pemimpin-pemimpinnya dihalaukan masuk penjara bertahun-tahun lamanya. Kemudian sekali barulah diketahui bahwa Presiden Sukarno memang sudah lama dibina dan digarap oleh Komunis; sampai dia jatuh tersungkur dari kemegahannya yang demikian teguh dipertahankannya.</p>
<p>Darwis Thaib penggali doktrin MARHAMISME itu di tahun 1947 menerbitkan brosur kecil bernama “Marhamisme”.</p>
<p>Dalam penggalian membentuk ajaran MARHAMISME untuk ideologi Masyumi ini Darwis Thaib telah menggabungkan penyelidikannya yang dalam terhadap Al-Qur’an dengan ajaran Kedaulatan Rakyat Keadilan Sosial yang diterimanya dari kursus-kursus yang diberikan Muhammad Hatta, yang ditekankan terlebih dahulu kepada PENDIDIKAN. Oleh karena kekecewaan yang dirasakan oleh Hatta setelah Gerakan Nasional dicoba menghancurkannya oleh Belanda, sampai Sukarno ditangkap dan dibuang (1930), lalu Partai Nasional Indonesia (P.N.I) dibubarkan oleh Mr. Sartono, diganti dengan Partai Indonesia. Hatta tak setuju dengan pembubaran dan menukar nama itu; lalu didirikannya PENDIDIKAN Nasional Indonesia. Karena menurut Hatta rasa kebangsaan itu bergantung juga kepada pembentukkan karakter.</p>
<p>Kalau karakter lemah, orang akan lari tumpang-siur apabila musuh datang menghalau. Sebab itu dalam Pendidikan Nasional, Hatta menitikberatkan kepada pendidikan politik, memperdalam kesadaran nasional dan kesediaan berkurban demi cita-cita. Karena untuk mencapai kemerdekaan tanahair tidaklah soal mudah. Penjajah pasti tidak bersedia menyerahkan kemerdekaan itu dalam dulang emas. Itulah yang ditanamkan Hatta dalam partainya tersebut. Temannya di waktu itu ialah Sutan Syahrir.</p>
<p>Belanda memandang partai yang tidak banyak berpidato itu amat berbahaya. Akhirnya Hatta dan Syahrir dibuang ke Digul, namun kader-kader yang mereka tinggalkan tetap menjadi teladan keteguhan pendirian.</p>
<p>Darwis Thaib adalah seorang di antara mereka.</p>
<p>Setelah Masyui berdiri di Sumatera Barat di permulaan kemerdekaan, tidak ayal lagi, Darwis Thaib mendapat didikan Islam yang mendalam yang terus memasuki partai tersebut. Sebagai seorang pemikir, dialah yang menimbulkan citra MARHAMISME yang dikorek dari Surat Al-Balad itu.</p>
<p>MARHAMISME menjadi populer sehingga hilanglah pengaruh MARHAENISME dan MURBAISME yang suku-suku katanya hampir sembunyi dari daerah Sumatera Tengah. Demi perjuangan politik Islam, Masyumi mesti membentuk Kader dan memberikan pendidikan kehidupan MARHAMISME itu. Pendidikan yang dia maksudkan ialah supaya pemimpin dan calon-calon pemimpin benar-benar dididik atau mendidik diri, dilatih atau melatih diri agar benar-benar hidup secara Islami. Mendidik diri menerima dan menjalankan secara mutlak ayat dan bunyi Hadis Rasulullah SAW.</p>
<p>Darwis Thaib mendapat dalam renungannya bahwa apabila kemerdekaan ini telah tercapai dengan sempurna kelak, dan kita telah mendapat “De Jure” akan tiba masanya kaum yang tidak terdidik dalam Islam, kaum Komunis atau Kaum Nasionalis menyingkirkan Islam dari arena perjuangan. Walaupun secara curang. Karena suatu politik yang tidak berurat tunggang kepada agama berpendapat bahwa “kecurangan” adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan politik. Tujuan politik ialah kekuasaan.</p>
<p>Sebab itu Darwis Thaib memperingatkan bahaya masuknya kaum oportunis, sarjana-sarjana dan cendekiawan yang tertarik masuk partai karena melihat partai mendapat dukungan massa yang amat hebat. Yang mereka harapkan ialah mendapat kedudukan yang empuk dengan perantaraan Masyumi. Padahal kehidupan peribadi mereka tidaklah menurut Islam. Rukun Islam tidak pernah mereka kerjakan, mereka tidak sembahyang. Tidak nampak Islam, baik pada dirinya ataupun dalam rumahtangganya.</p>
<p>Soal sembahyang lima waktu, puasa, zakat fithrah, zakat harta, pendidikan agama pada kanak-kanak bagi Darwis Thaib adalah syarat mutlak untuk mencapai masyarakat Marhamisme.</p>
<p>Darwis Thaib percaya, kalau satu waktu kelak Partai ini dikejar-kejar pula dan pemimpin-pemimpinnya dihina, disiksa dan dibuang, ataupun dibunuh, mana yang batinnya tidak kuat, niscaya akan lari tumpang-siur pula.</p>
<p>Waktu dia membuka soal ini di kantor Masyumi “Jalan Lurus” Bukitinggi, banyak orang yang tertawa saja, dan menuduh bahwa semuanya itu hanyalah “berkatia-katai” orang sakit demam panas!</p>
<p>Bagi beliau waktu itu, kerjasama di antara Masyumi dengan Muhammadiyah mestilah sangat dieratkan. Sebab Muhammadiyah itu adalah salah satu alat penting untuk membentuk kader perjuangan Islam, yang mesti selalu ditingkatkan untuk mencapai Marhamisme. Dia tertarik kepada pergerakkan Muhammadiyah, terutama di bawah pimpinan Abuya Ahmad Rasyid Sutan Mansyur, karena Muhammadiyah telah dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin partai yang gigih memperjuangkan Islam dalam Masyumi, terutama di Sumatera. Sebab Abuya Sutan Mansyur memang sejak lama telah membentuk kader-kader Islam. Dan pada masa itu (1945-1948) Abuya Sutan Mansyur membentuk gerakan Jihad yang giat mengadakan amal, mengerjakan sawah ladang, membangun madrasah, surau, langgar dan lain-lain yang berkenaan juga dengan pertanian dan ekonomi. Semua digerakkan setelah selesai sembahyang Subuh, dan hanya dikerjakan satu jam saja.</p>
<p>Menurut teori beliau, kemenangan politik Islam mesti dimulai dan ditanamkan dari bawah, dari satu jamaah kecil di satu surau kecil, dengan imamnya yang merangkap jadi pemimpin. Ini beliau dasarkan kepada ayat 38 dari Surat 42, Asy-Syura:</p>
<blockquote><p>“Dan orang-orang yang mematuhi seruan Tuhan mereka, dan mendirikan sembahyang, sedang urusan mereka dipermusyawaratkan di antara mereka, dan sebahagian daripada rezeki yag Kami anugerahkan, mereka belanjakan.”</p></blockquote>
<p>Di ayat ini terdapat 4 pokok pendidikan:</p>
<p>(1) Kesadaran beragama, (2) Membentuk jamaah dari sebab sembahyang, (3) Latihan selalu musyawarat (demokrasi), (4) Latihan berkurban harta.</p>
<p>Dengan sendirinya dari dasar yang di bawah itu, kepada jamaah, keyakinan politik Islam sudah mulai ditanamkan. Karena sudah nyata bahwa dalam Islam tidak ada pemisahan di antara politik atau kenegaraan dengan agama. Langgar ataupun mesjid adalah lembaga tempat pertumbuhan politik.</p>
<p>Beliau pandang pula pembahagian isi Surat Al-Balad itu dengan kacamata perjuangan politik. Al-Balad berarti Negeri; dan dia akan meningkat menjadi Negara. Tiap jamaah mempunyai Imam, bahkan dalam perjalanan musafir, bila bilangan anggota safari itu telah sampai tiga orang, sudah mesti seorang dijadikan imam. Imam atau pemimpin yang di atas sekali ialah Muhammad SAW. Muhammad sebagai pemimpin tertinggi mesti melalui pengalaman-pengalaman peribadi yang pahit, sampai dipandang orang <em>halal</em> darahnya di negerinya sendiri, sehingga terpaksa hijrah. Namun hijrah bukanlah lari, tetapi pergi menyusun kekuatan lahir dan batin, untuk merebut Negeri itu kembali, yaitu Makkah Al-Mukarramah. Karena dari sana, dari Makkah, yang bernama juga “Ummul Qura” artinya ibu dari negeri-negeri akan dipancarkan kelak pimpinan ke seluruh dunia. Sebab Muhammad diutus ialah untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Aalamin).</p>
<p>Ketika diadakan “Ulang Tahun ke-II” berdirinya Partai Politik Islam Masyumi di Gedong Nasional (Bekas gedong Belvedere) pada 7 November 1947, di Bukittinggi Wakil Presiden Muhammad Hatta hadir dan turut mendengarkan keterangan dan uaraian bekas murid atau kadernya itu dalam ceramahnya yang brilian tentang MARHAMISME. Dalam memberikan keterangan yang luar biasa mengagumkan saya itu, kelihatan bahwa beliau agak payah karena sakit. Dalam sakitnya itu pidatonya bertambah indah; ada-ada saja penemuan baru tentang ideologi Islam yang ditemuinya. Sehabis dia berpidato seketika akan pulang, Wakil Presiden mengatakan kepada saya rasa sayang karena ideolog yang “Genius” itu sakit.</p>
<p>Sayangnya cita-cita dan penelitian yang indah itu belum sampai diratakan ke seluruh Indoneisa. Penyerbuan Belanda yang kedua terjadi. Kami kucar-kacir, Darwis Thaib pun pulang ke Maninjau kampung halamannya. Dan kami pun berserak-serak. Teringat saya Failasuf Jerman yang besar Friedrich Nietsche dengan filsafatnya yang terkenal “superman”. Buah-buah fikirannya yang indah itu pun banyak yang timbul di waktu dia sakit.</p>
<p>Setelah perang berhenti dan sampai pada penyerahan kedaulatan, terbukalah segala hubungan. Jalan ke Jawa telah terbuka. Tetapi Masyumi telah masuk ke dalam lapangan praktis politik yang hebat. Bergolak menegakkan cita-cita di dalam hebatnya pukulan lawan-lawannya.</p>
<p>Apa yang dikira-kirakan oleh Darwis Thaib seketika di Jalan Lurus Bukittinggi yang ketika itu ada yang menertawakan atau menyangka “katai-katai” orang sakit yang tengah mengigau, benar-benar terjadi; Masyumi sesudah tiga kali memegang perdana menteri dan dua kali menjadi Wakil Perdana Menteri, akhirnya dibubarkan oleh Presiden Sukarno.</p>
<p>Tetapi pokok dan dasar faham Marhamisme yang digali oleh Darwis Thaib dari dalam Surat Al-Balad ini masih tercantum dengan baik dan segar, dan masih dapat saja memberikan inspirasi perjuangan untuk tiap-tiap masa, untuk keturunan (generasi) demi keturunan.</p>
<p></br><br />
</br></p>
<hr /></hr>
<p><em>Pokok bercatur yang dimainkan Sukarno ialah yang dalam sejarah politik Indonesia dinamai “Kabinet Kaki Empat”. Yaitu Koalisi Empat Partai Besar; (1) Masyumi (2) P.N.I. (3) P.K.I (4) Nahdhatul Ulama. Sukarno pun tahu bahwa mustahil Masyumi akan mau kerjasama dengan Komunis. Dengan ajakan yang mustahil inilah Sukarno lawan politik yang hebat itu mempermain Caturnya, mulai menyisihkan Masyumi.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-17-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Balad 11 &#8211; 16</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-11-16/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-11-16/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 06:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Balad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[Pada ayat 10 telah diterangkan bahwa di muka kita ada dua jalan terentang, yaitu jalan kebajikan dan jalan kecelakaan. Sedang keduanya itu sama saja sukarnya. Maka dalam ayat 11 ini diterangkanlah malang dan dangkalnya berfikir orang yang kurang iman; “Tetapi tidak ditempuhnya jalan mendaki yang sukar.” (ayat 11). Dilihatnya di muka ada kesukaran, (‘aqabah), sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/balad11-16.gif"></img></p>
<p>Pada ayat 10 telah diterangkan bahwa di muka kita ada dua jalan terentang, yaitu jalan kebajikan dan jalan kecelakaan. Sedang keduanya itu sama saja sukarnya. Maka dalam ayat 11 ini diterangkanlah malang dan dangkalnya berfikir orang yang kurang iman; “Tetapi tidak ditempuhnya jalan mendaki yang sukar.” (ayat 11). Dilihatnya di muka ada kesukaran, (‘aqabah), sebab itu dijauhinya. Dia takut dan cemas melihat kesukaran itu. Padahal jalan kepada kebajikan, walaupun ada kesukarannya, namun bila ditempuh, selamatlah jiwa sendiri dan selamatlah masyarakat dan mendapatlah ridha dari Tuhan.</p>
<p>“Tahukah engkau, apakah jalan mendaki yang sukar itu?” (ayat 12). “(Ialah) melepaskan belenggu perbudakan.” (ayat 13).</p>
<p>Perbudakan dalam bahasa Arab disebut <em>Raqabatin</em>. Asal katanya berarti kuduk atau leher. Seorang yang telah jatuh ke dalam perbudakan samalah keadaannya dengan orang yang telah terbelenggu lehernya. Dia tidak bebas lagi. Lehernya telah dibelenggu oleh kekuasaan tuannya atas dirinya. Maka mendapat pahala besarlah orang yang sudi membeli budak-budak untuk memerdekakannya. Inilah yang disebut “tahriru raqabatin”; memerdekakan budak!</p>
<p>Memerdekakan budak itu adalah salah satu dari yang disebut ‘aqabah, jalan mendaki yang sukar menempuhnya, sebab mesti keluar uang. Dibelanjakan harta sendiri buat membeli <em>orang</em>. Harga manusia yang sudah menjadi “barang dagangan” itu kadang-kadang mahal. Dan kalau sudah dibeli, dia sudah menjadi kepunyaan yang empunya; boleh disuruhnya, boleh dicegahnya, bahkan lebih lagi rendahnya dari khadam atau orang gajian. Dan kalau budak itu perempuan, kalau cantik boleh dipakai, disetubuhi dengan tidak usah dibayar maharnya, asal dimaklumkan saja bahwa dia telah dijadikan gundik dan anak yang lagir dari hubungan dengan budak itu diakui sah oleh agama menjadi anak dari yang memperbudak ibunya itu. Dan tidak ada batas misalnya mesti berempat; seratus orang pun boleh kalau sanggup. Dan kalau dia telah beranak, dia tidak boleh dijual lagi.</p>
<p>Maka dikatakanlah dalam ayat ini bahwa memerdekakan budak yang telah dibeli itu adalah “jalan mendaki yang sukar.” Kalau dia dimerdekakan, niscaya dia sudah duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan tuannya, dan uang untuk pembelinya tadi hilang habis saja. Rugi pada benda, tetapi tinggi pada pahala dan penghargaan di sisi Allah. Itulah “Jalan mendaki.”</p>
<p>“Atau memberi makan pada hari kelaparan.” (ayat 14). Memberi orang makan, membagi-bagikan beras atau gandum atau apa saja makanan mengenyang yang lain di musim paceklik, di musim rusak hasil bumi. Kalau ada orang kaya yang sanggup berbuat begini, memanglah dia telah melalui jalan mendaki yang sukar. Sebab tidak akan ada balasan dari orang-orag lapar yang ditolong itu lain dari “ucapan terimakasih.”</p>
<p>Di dalam Surat 76, Al-Insan ayat 8 dan 9 dipujikan orang ini oleh Allah setinggi-tingginya: “Mereka memberi makanan, dalam keadaan dia pun sangat memerlukannya, kepada orang miskin, dan anak yatim dan orang yang tengah tertawan. Kami beri makan kamu ini, lain tidak, hanyalah karena mengharap wajah Allah semata-mata; tidaklah kami menghendaki daripada kamu suatu balasan pun, dan tidak pula terimakasih.”</p>
<p>Yang diberi makan itu ialah; “Anak yatim yang ada hubungan qirabat.” (ayat 15).</p>
<p>Dalam ayat ini Allah menyebut anak yatim yang pantas ditolong itu; disebutkan bahwa yang utama ditolong ialah anak yatim yang ada hubungan qirabat. Ditekankan <em>qirabat</em>, supaya orang merasa bahwa mengasuh dan memelihara anak yati itu adalah kewajiban. Ini pun adalah “jalan mendaki yang sukar”, karena anak yatim itu adalah beban baru yang tadinya tidak disangka-sangka.</p>
<p>Taruklah anak perempuan kita sendiri yang telah bersuami dan telah beranak-anak. Tiba-tiba suami anak kita itu, tegasnya menantu kita itu mati. Syukur kalau menantu kita itu meninggalkan harta yang banyak, sehingga kita hanya tinggal mengasuh dan mengawasi. Bagaimana kalau miskin? Ke mana anak isterinya itu akan pulang? Siapa orang lain yang akan memikul beban itu kalau bukan kita sebagai neneknya? Demikian juga kematian saudara kandung kita. Anaknya mau tidak mau adalah tanggungan kita. Beban tersandang ke bahu. Tidak ada jalan buat nafsi-nafsi, kalau hendak beragama.</p>
<p>“Atau orang miskin yang telah tertanah.” (ayat 16).</p>
<p><em>Matrabah</em> saya artikan<em> tertanah</em>; telah melarat, sehingga kadang-kadang rumah pun telah berlantai tanah. Di Minangkabau orang yang sudah sangat melarat itu memang disebutkan juga telah “tertanah” tak dapat bangkit lagi. Maka datanglah hari paceklik, semua orang kelaparan, harga makanan sangat naik, pertanian tak menjadi, banyak orang melarat. Maka tibalah seorang hartawan-dermawan membeli beras itu banyak-banyak lalu membagikannya dengan segala kerendahan hati, tidak memperdulikan “jalan mendaki yang sukar” karena uang kekayaannya akan berkurang lantaran itu. Sebab dia telah memupuk Imannya sendiri. Sebab kalau tidak <em>‘aqabah</em> yang baik itu yang ditempuhnya, tentu jalan kepada kecelakaan jiwa karena bakhil. Dalam keadaan bakhil itu dia pun mati. Maka harta yang disembunyikannya itu habis porak-poranda dibagi orang yang tinggal atau dipertipukan orang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-11-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Balad 5 &#8211; 10</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-5-10/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-5-10/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 06:29:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Balad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai telah dikatakan di atas tadi, manusia pun berpayah-payah menghabiskan usianya pada perkara yang tidak berfaedah. Bahkan orang musyrikin Quraisy pun berpayah-payah menghabiskan tenaga dan harta menghambat dan menghalangi segala seruan Nabi Muhammad SAW. Maka datanglah ayat selanjutnya; “Apakah dia menyangka bahwa tidak seorang pun yang berkuasa atas dirinya?” (ayat 5). Apakah disangkanya bahwa Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/balad5-10.gif"></img></p>
<p>Sebagai telah dikatakan di atas tadi, manusia pun berpayah-payah menghabiskan usianya pada perkara yang tidak berfaedah. Bahkan orang musyrikin Quraisy pun berpayah-payah menghabiskan tenaga dan harta menghambat dan menghalangi segala seruan Nabi Muhammad SAW. Maka datanglah ayat selanjutnya; “Apakah dia menyangka bahwa tidak seorang pun yang berkuasa atas dirinya?” (ayat 5). Apakah disangkanya bahwa Tuhan tidak melihat dan memperhatikannya? Apakah dia menyangka bahwa Tuhan akan membiarkan saja dia berleluasa berbuat sesuka hati?</p>
<p>“Dia mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang bertumpuk.” (ayat 6). Ayat ini menyatakan bagaimana orang yang telah bersusah-payah menghabiskan tenaga dan hartabendanya untuk perkara yang tidak berfaedah, membanggakan kepada orang sudah berapa hartanya habis. Sebagaimana membangganya si tukang judi sekian ribu dia menang atau sekian ribu dia kalah. Sebagaimana membangganya orang-orang yang mubazzir membuang harta karena menunjukkan dia orang kaya, bahwa sekian juta telah habis untuk berfoya-foya. Ataupun orang yang pada lahirnya berbuat baik, seka berderma dan membantu orang lain, padahal cuma semata-mata untuk mereklamekan dirinya. Sebagaimana tersebut di dalam sebuah Hadis yang dirawikan daripada Abu Hurairah, bahwa di hari kiamat kelak semua orang akan ditanyai: “Apa yang engkau perbuat dengan hartamu yang banyak itu?” Orang itu menjawab: “Aku belanjakan untuk kebajikan dan aku zakatkan!” Lalu datanglah sambutan: “Engkau bohong! Padahal engkau mengeluarkan harta itu hanya semata-mata supaya engkau dipuji orang lain dan dikatakan bahwa engkau seorang yang dermawan.” Lalu dilemparkanlah orang itu ke dalam neraka.”</p>
<p>“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang yang melihatnya?” (ayat 7).</p>
<p>Apakah mereka menyangka bahwa perbuatannya, membuang-buang harta pada yang tidak berfaedah, atau mengeluarkan harta menolong orang lain, hanya semata-mata ingin disanjung dipuji, bahwa semuanya itu tidak ada orang yang tahu? Apakah dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu tidak lepas dari tilikan Allah Ta’ala?</p>
<p>Di samping itu: “Bukanlah telah Kami jadikan baginya dua mata?” (ayat 8). “Dan lidah dan dua bibir?” (ayat 9).</p>
<p>Diberi Tuhan dua mata buat melihat jauh; jangan hanya merumbu-rubu dalam semak dan rimba kehidupan ini, dengan tidak tentu arah. Diberi lidah dan dua buah bibir, bibir sebelah atas dan sebelah bawah. Gunanya ialah untuk bercakap yang baik, untuk bertanya kepada yang pandai, karena kalau malu bertanya sesat di jalan.</p>
<p>Berkata Sayid Al-Murtadha: “Dengan ayat-ayat ini Allah memperingatkan betapa besar nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya. Dengan dua mata untuk melihat, satu lidah untuk bercakap dan membolak-balikkan makanan dalam mulut. Dua bibir adalah bertalian dengan lidah. Bibir menghambat lidah itu sendiri ketika akan bercakap yang tidak berketentuan. Apabila agak lain rasanya, kedua bibir dapat dikatupkan saja. Dan makanan yang sedang dikunyah-kunyah dengan gigi, dihambat keluar oleh kedua bibir sehingga tidak berhamburan keluar.</p>
<p>“Dan telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan.” (ayat 10). <em>An-Najdain</em> artinya ilah dua jalan yang mendaki. Dua mata menghadap kemuka. Di muka terentang dua jalan yang mendaki; menandakan bahwa dua jalan yang terentang itu mesti ditempuh dengan perjuangan dan mengeluarkan tenaga juga. Kesatu ialah jalan kebajikan. Kedua ialah jalan yang buruk. Pilihlah dengan akal budi yang telah dianugerahkan Tuhan dan bimbingan Taufiq hidayat Ilahi jalan yang baik dan jauhi jalan yang membawa celaka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-5-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Balad 1 &#8211; 4</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-1-4/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-1-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 06:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Balad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Ketika menafsirkan Surat 75 Al-Insan atau Ad-Dahr di Juzu’ 29 telah kita uraikan juga agak panjang tentang arti sumpah peringatan Allah yang dimulai dengan Laa Uqsimu, yang arti lurusnya saja: tidak aku akan bersumpah! Meskipun arti lurus saja tidak bersumpah, namun maksudnya ialah bersumpah, sehingga perkataan Laa pada satu waktu berarti menafikan dan di waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tafsir.cahcepu.com/biss.gif"></img><br />
<img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/balad1-4.gif"></img></p>
<p>Ketika menafsirkan Surat 75 Al-Insan atau Ad-Dahr di Juzu’ 29 telah kita uraikan juga agak panjang tentang arti sumpah peringatan Allah yang dimulai dengan <em>Laa Uqsimu</em>, yang arti lurusnya saja: <em>tidak aku akan bersumpah!</em> Meskipun arti lurus saja tidak bersumpah, namun maksudnya ialah bersumpah, sehingga perkataan <em>Laa</em> pada satu waktu berarti <em>menafikan</em> dan di waktu yang lain berarti <em>nahyi</em>, yaitu melarang, di <em>Laa Uqsimu</em> ini mesti diartikan bahwa Tuhan Bersumpah. Sehingga Syaukani di dalam tafsirnya <em>Al-Fat-hul Qadiir</em> mengambil kesimpulan bahwa <em>Laa</em> yang berarti tidak atau jangan ialah huruf <em>zaidah</em> huruf <em>tambahan</em> yang tidak ada arti dalam susunan ini. Tafsiran Asy-Syaukani ini menguatkan tafsiran <em>Al-Akhfasy</em>.</p>
<p>Seluruh ahli tafsir, sejak dari Ibnu Jarir Ath-Thabari, sampai kepada Ibnu Katsir dan lain-lain (jumhurul-mufassirin) telah mengartikan <em>Laa</em> <em>Uqsimu</em> dengan <em>aku</em> <em>bersumpah</em>, bukan dengan <em>Tidak aku bersumpah</em>.</p>
<p>Satu tafsiran dari Al-Qusyairi: Huruf <em>Laa</em> yang berarti <em>tidak</em>, di sini bukanlah huruf tambahan yang tidak berarti. Kata beliau Tuhan berfirman: TIDAK! Adalah bantahan terhadap manusia yang kelak akan dibicarakan dalam Surat ini, yaitu manusia yang terpedaya oleh dunia; <em>tidaklah</em> keadaan sebagai yang mereka sangka, yaitu bahwa mereka menyangka tidak seorang pun yang dapat menguasai mereka; yang akan tersebut di ayat 5 kelak.</p>
<p>Jadi menurut tafsiran Al-Qusyairi ini ialah begini: “Tidak! Persangkaan kalian itu adalah salah!” <em>Aku bersumpah, demi negeri ini!</em>”</p>
<p>Dan ada satu lagi penafsiran dibawakan orang. Dia mengatakan bahwa <em>Laa</em> <em>Uqsimu</em> artinya betul-betul menurut aslinya. Yaitu: “Aku tidak bersumpah demi negeri ini lagi, karena engkau tidak ada lagi di dalamnya, sesudah engkau keluar meninggalkannya (hijrah).” Tafsiran ini diriwayatkan oleh Al-Makkiy.</p>
<p>Maka kita ambil sajalah tarjamah dan arti yang dipakai oleh golongan yang terbesar (jumhurul-mufassirin), sebagai telah kita suntingkan di atas; “Aku bersumpah, demi negeri ini.” (ayat 1).</p>
<p>Tuhan bersumpah demi negeri ini, yaitu negeri Makkah Al-Mukarramah. Dan apabila Tuhan telah mengambilnya menjadi sumpah, artinya ialah bahwa Tuhan memberi ingat kita betapa pentingnya negeri itu. Di Surat 95 kelak, (Surat At-Tiin) kita bertemu lagi ayat 3 sumpah Tuhan memperingati negeri ini:</p>
<blockquote><p>“Demi ini negeri yang aman.”</p></blockquote>
<p>Dapatlah kita maklumi betapa mulia dan betapa penting kedudukan negeri Makkah itu, yang sejak zaman Ibrahim telah jadi pusat peribadatan kepada Allah bagi menegakkan kalimat tauhid. Dia bernama Makkah dan dia bernama Bakkah. Antara huruf <em>Mim</em> dengan huruf <em>Baa</em> adalah satu makhrajnya, yaitu sama-sama bibir. Di sanalah pertama sekali sebuah rumah ibadat buat memuja Allah Yang Esa berdiri, jadi petunjuk untuk seluruh alam, (Surat 3, Ali Imran; 96). Di sana terdapat Maqam Ibrahim (Ali Imran; 97). Di situ berdiri Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim dibantu oleh anaknya Ismail sebagai pusat tempat beribadat bagi manusia (Surat 5; Al-Maidah; 97). Dan beberapa Surat yang lain. Dan di sinilah lahir Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>“Dan engkau menjadi halal di negeri ini.” (ayat 2).</p>
<p>Ayat ini pun mendapat dua macam penafsiran yang berbeda, karena berbedanya pengertian tentang kalimat hillun.</p>
<p>Al-Wahidi berkata: <em>Al-hillu</em>, <em>al-halal </em>dan <em>al-mahill </em>sama saja artinya, yaitu lawan dari <em>haram</em>.</p>
<p>Ada penafsir mengatakan bahwa yang halal itu ialah perbuatan Nabi Muhammad, jika dia hendak bertindak bagaimanapun, walaupun membunuh orang, kalau negeri itu ditaklukkannya kelak. Dan telah beliau taklukkan kemudian, setelah beliau datang dengan tentaranya dari Madinah di tahun ke 8.</p>
<p>Ibnu Abbas menjelaskan; “Engkau halal membunuh siapa sja yang engkau rasa patut dibunuh, jika engkau masuk ke sana kelak.” Dijelaskan lagi oleh As-Suddi: “Engkau halal memerangi orang-orang yang pernah memerangimu di negeri itu.”</p>
<p>Ini pun dikuatkan oleh sebuah Hadis shahih;</p>
<blockquote><p>“Allah telah menjadikan Makkah tanah haram sejak sehari Dia menciptakan segala langit dan bumi. Maka tetaplah dia tanah haram sampai kelak berdiri kiamat. Maka tidaklah pernah dia dihalalkan bagi seorang pun yang sebelumku, dan tidak pula dihalalkan bagi seorang pun sesudahku. Dan tidaklah dia dihalalkan untukku hanyalah satu saat saja pada suatu hari.”</p>
<h6>(Muttafaq ‘alaihi; Bukhari dan Muslim).</h6>
</blockquote>
<p>Tetapi ada pula penafsir lain berpendapat bahwa yang halal di negeri itu ialah Nabi sendiri. Al-Qasimi menyalinkan riwayat itu demikian;</p>
<p>“Dan ada pula yang mengatakan bahwa artinya ialah kehormatan diri engkau, ya Muhammad, telah diperhalal orang saja di negeri ini. Mereka berleluasa saja menyakiti engkau.” Dalam arti seperti ini terkandunglah dalam ayat ini rasa heran ta’jub mengapa sampai demikian mereka memusuhi Nabi. Dan sebagai suatu uraian tentang mereka berkumpul dan mereka berpisah dari masa ke masa, tidak seorang jua pun yang berlain pendapat bahwa seekor burung merpati pun mesti mendapat perlindungan di Tanah Haram Makkah itu, mengapa darah dan nyawa orang yang ditunjuk Allah untuk menjadi pembawa selamat bagi seluruh alam ini mereka pandang halal saja.</p>
<p>Penafsir-penafsir kita sendiri di Indonesia pun memakai kedua macam tafsir ini juga.</p>
<p>H. Zainuddin Hamidi dan Fakhruddin H.S. menafsirkan; <em>“Dan engkau bertempat tinggal di negeri ini.”</em></p>
<p>Pada keterangan beliau-beliau di bawahnya no. 2051 (Hal. 913), mereka tulis; “Nabi Muhammad di waktu masih bertempat tinggal di Makkah.”</p>
<p>Arti yang dipakai oleh Panitia Penyusun <em>“Al-Qur’an Dan Terjemahannya” </em>dari Kementrian Agama mengartikan; “Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini.” (Hal. 1061).</p>
<p>Tuan A. Hassan dalam tafsirnya <em>“Al-Furqan”</em> mengambil tafsir yang disalinkan oleh Al-Qasimi itu. Demikian bunyinya; “Padahal engkau menjadi barang halal di negeri ini.” Lalu beliau terangkan tafsirnya pada catatan di bawah (Al-furqan, hal. 1208); “Engkau diganggu dan diapa-apakan di negeri ini sebagai suatu barang halal buat umum.”</p>
<p>Saya, penafsir Al-Azhar ini lebih dekat kepada arti yang dipakai oleh A. Hassan. Sebab kalau dipakai arti Zainuddin Hamidi dan Kementrian Agama, kita tentu meletakkan mashdar dari <em>halla, yahillu, hallan</em>; yang berarti tempat tinggal. Sedang di ayat ini bacaannya (Qiraat) dan baris di dalam mushaf ialah <em>hillun</em>, yang menurut yang dijelaskan oleh Al-Wahidi di atas tadi, <em>al-hillu, al-halal</em> dan <em>al-mahill</em> artinya satu saja, yaitu lawan dari haram.</p>
<p>Dan A. Hassan menjadikan huruf <em>waw</em> di permulaan ayat menjadi <em>waw hal</em>. Lalu beliau artikan; “Aku menarik perhatian sungguh-sungguh ke negeri ini.” Padahal engkau jadi barang halal di negeri ini.”</p>
<p>Maka dapatlah kita fahamkan penafsiran A. Hassan; “Negeri ini menjadi perhatian-Ku sungguh-sungguh, sampai dia Aku jadikan sumpah kemuliaan. Tetapi engkau sendiri dipandang oleh penduduknya sebagai seorang yang halalud-dam, halal darahnya saja, boleh dibunuh sesuka hati.”</p>
<p>Dan ayat ini turun di Makkah. Kemudiannya baru beliau diperintah pindah, hijrah ke Madinah, pada malam orang sudah bermufakat hendak membunuhnya dengan mengepungnya di rumahnya sendiri.</p>
<p>“Demi yang beranak, demi yang diperanakkannya.” (ayat 3).</p>
<p>Siapakah yang dituju Tuhan dengan mengambil sumpah dengan waalid; yang berarti ayah, dan wamaa walad; apa yang dia anakkan. Menurut tafsir Mujahid dan Qatadah dan lain-lain: Yang beranak, atau ayah itu, yang dimaksud Tuhan ialah Nabi Adam; ayah dari seluruh manusia. Yang diperanakkan ialah kita seluruh keturunan Adam ini.</p>
<p>Dapat saja kita memperpanjang tafsir ini dengan penghargaan Allah terhadap Insan yang amat dimuliakan Tuhan di antara segala makhluk-Nya. Di Surat 17, Al-Isra’: 70, dengan bangga Allah menyatakan bahwa; “Sesungguhnya telah Kami muliakan keturunan Adam; dan Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri rezeki mereka dengan yang baik-baik, dan Kami lebihkan dia dari sebahagian besar dari yang Kami ciptakan, benar-benar lebih.” Banyak lagi ayat lain menyatakan kelebihan Adam dan keturunannya itu.</p>
<p>Abu Imran Al-Juani menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan yang jadi ayah itu ialah Nabi Ibrahim, dan yang diperanakkan ialah turunannya, termasuk Nabi Ishak yang menurunkan Nabi-nabi Bani Israil dan Ismail yang menurunkan Muhammad SAW.</p>
<p>Tetapi Ibnu Jarir At-Thabari menyatakan dengan tegas, bahwa yang dimaksud dalam ayat ini nyata sekali, yaitu segala orang yang jadi ayah, dan segala anak yang diperanakkan oleh si ayah itu. Manusia kembang di dunia ini. Kehidupan seorang ayah di dalam mendidik anaknya berbagai ragam, berbagai rupa, berbagai perangai, itu pun satu hal yang memang patut mendapat perhatian. Itu sebab maka “Ayah dan keturunannya” menjadi salah satu sumpah penting pula oleh Allah. Hartabenda dan anak keturunan adalah perhiasan hidup di dunia, namun yang kekal hanyalah amal yang shalih jua. Seorang ayah dapat membangga dengan banyak anak-anaknya waktu mereka masih kecil. Tetapi setelah anak itu menjadi dewasa, belum tentu anak itu akan dapat dibanggakan.</p>
<p>Teringatlah saya bahwa pada tahun 1951, ketika Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, di tengah hebatnya percaturan politik, Natsir mendapat percobaan. Puteranya laki-laki terbenam hanyut sedang berenang di salah satu permandian di Jakarta, sehingga meninggal dunia. Di antara yang datang takziyah Almarhum Haji Agus Salim Failasuf tua itu dalam bersalam menyatakan turut berdukacita telah berkata kepada Natsir: “Tak usah saya terangkan lagi. Bersyukurlah kepada Tuhan, karena anak ini meninggal di saat engkau masih merasa bangga dengan dia.”</p>
<p>Saya tafakur mendengarkan ucapan orang tua itu. Dan telah berlalu lebih 20 tahun sampai sekarang, kian saya renungkan maksud perkataan Failasuf besar itu. Memang anak sebelum dia dewasa masih pasti dapat kita banggakan. Nanti kalau dia telah dewasa dan telah bertindak sendiri dalam hidupnya, tidaklah kurang orang tua yang “makan hati berulam jantung” melihat perangai anak. Lain yang dicitakan, lain yang tumbuh dalam hidup anak ini. Kadang-kadang bertolak belakang.</p>
<p>Di dalam ayat ini disebut <em>waa waalidin</em>, yang berarti demi seorang ayah. Kita cenderung menumpangkan diri dalam tafsiran Ibnu Jarir, bahwa sumpah peringatan Allah itu bukan terkhusus kepada Nabi Adam atau Nabi Ibrahim. Sebab kalimat <em>waalidin</em> adalah <em>nakirah</em>, yang berarti tidak ditentukan kepada orang tertentu, bahkan mencakup barang mana ayah saja pun. Sambungannya <em>wamaa walada</em>; Yang berarti: <em>dan apa yang dia peranakan</em>. Kalau diingat bahwa yang diperanakkan itu tentu saja manusia, tentu hendaknya bukan memakai <em>maa</em> yang berarti <em>apa yang</em> melainkan memakai <em>man</em> yang berarti <em>demi orang yang dia peranakan</em>. Tetapi karena yang dimaksud bukan menyebut orangnya, melainkan menyebut macam ragam perangai, pembawaan, kelakuan, kepintaran, kebodohan, kekayaan dan kemiskinan, maka yang tepat memang <em>Maa</em>, bukanlah <em>Man</em>.</p>
<p>“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu berada dalam susah payah.” (ayat 4).</p>
<p>Setelah berturut mengemukakan tiga macam sumpah peringatan, (1) Makkah sebagai kota terpenting tempat Ka’bah berdiri, (2) Muhammad yang begitu berat dan mulia tugasnya berdiam di Makkah itu, namun darahnya dipandang halal saja oleh kaumnya, (3) bersumpah lagi demi pentingnya, kedudukan ayah dan pentingnya pula anak-anak yang diturunkannya, masuklah Tuhan kepada yang dimaksudnya, memperingatkan bahwa Dia telah menciptakan manusia tidak terlepas daripada susah-payah. Susah-payah itulah bahagian yang tidak terpisah dari hidup itu. Tidak bernama hidup kalau tidak ada kesusahan dan kepayahan.</p>
<p>Berkata Al-Yaman: “Tak ada Allah menciptakan makhluk yang lebih banyak susah-payah dalam hidup ini, melebihi Anak Adam, padahal dia adalah makhluk yang paling lemah pula.”</p>
<p>Fikirkanlah; sejak dari dalam rahim ibu kepayahan itu sudah dimulai. Membalik-balikkan badan mencari jalan keluar sampai kepada tersumbur dari pintu. Setelah lahir dengan kepayahan, yang mula terdengar adalah tangis karena tak tahan dingin mula bertemu dengan udara luas, setelah berbulan lamanya merasa panas badan dalam rahim ibu. Setelah itu mulailah pusat dikerat, lalu menangis kesakitan. Mulailah menggerak-gerakkan tangan dan kaki; mulai menangis minta menyusu, menangis kedinginan karena telah basah oleh kencing, menangis karena telah berak, menangis minta digendong minta dibawa. Beransur badan besar, beransur besar kepayahan. Setelah itu bapa memandang telah kuat, mulailah merasa sakit dikhitan. Setelah selesai dikhitan, mulailah dimasukkan ke sekolah. Sejak dari kelas satu sekolah rendah sampai sekolah tinggi bertemu kesusahan mengahapal, kepayahan mengulang pelajaran, ketakutan mendapat angka “merah”. Dan kalau maju sekolah, orang tua susah dan melarat, susah payah mencari akal bagaimana melanjutkan sekolah. Dan setelah tammat sekolah yang tinggi, menggondol titel dan gelar Sarjana Hukum, Insinyur, dan Doktorandus, timbul lagi kesusah-payahan mencari pekerjaan. Dan setelah sampai berumahtangga, timbul lagi kesusahan <em>menafkahi</em> isteri, kemudian mengemudikan anak, timbul lagi kesusah-payahan lantaran umur yang lanjut.</p>
<p>Setelah isteri dan anak berdiri berkeliling, timbul lagi kesusahan menyediakan rumah yang layak tempat diam, kendaraan yang layak untuk perhubungan. Setelah rumah tempat tinggal siap dan kendaraan telah sedia, timbul lagi kesusah-payahan memperjodohkan anak-anak. Yang perempuan supaya bersuami, yang laki-laki supaya beristeri. Setelah semuanya itu selesai; rumah sudah ada, anak-anak sudah kawin, yang laki-laki telah keluar bersama isterinya, yang perempuan telah keluar dibawa suaminya, tinggallah awak telah tua dalam kesepian ditinggalkan anak cucu. Setelah datang usia tua, segala penat, payah, mulailah terasa. Kaki mulai penat, tangan mulai pegal, mata mulai kabur, gigi mulai goyah dan gugur, uban mulai bertabur, telinga mulai pekak, kepala sakit-sakit dan pening; akhirnya ditutup semuanya dengan mati.</p>
<p>Oleh sebab itu maka kepayahan dan kesusahan adalah bahagian dari hidup, dalam itulah Tuhan menciptakan kita. Sehingga walau pekerjaan baik atau pekerjaan buruk, semuanya meminta kepayahan. Sehingga memberikan nafkah batin kepada isteri pun meminta tenaga dan kepayahan!</p>
<p>Oleh sebab itu sia-sialah, semata-mata orang yang menghabiskan usia, yang segala sesuatu, baik dan buruk, pasti payah, kalau kepayahan itu karena yang buruk.</p>
<p>Termidzi menyimpulkan usia habis dalam kepayahan itu dalam sepatah dan dua patah kata: “Sudah payah, tidak memperhatikan apa yang perlu, menghabiskan masa pada yang tidak perlu.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/albalad/al-balad-1-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Fajr 27 &#8211; 30</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-27-30/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-27-30/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 14:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Fajr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah yang disebut Nafsul-Muthmainnah? Al-Qur’an sendiri menyebutkan tingkatan yang ditempuh oleh nafsu atau diri manusia. Pertama Nafsul Ammarah, yang selalu mendorong akan berbuat sesuatu di luar pertimbangan akal yang tenang. Maka keraplah manusia terjerumus ke dalam lembah kesesatan karena nafsul-ammarah ini. (Lihat Surat 12, Yusuf; ayat 53). Bilamana langkah telah terdorong, tibalah penyesalan diri atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/fajr27-30.gif"></img></p>
<p>Siapakah yang disebut Nafsul-Muthmainnah?</p>
<p>Al-Qur’an sendiri menyebutkan tingkatan yang ditempuh oleh <em>nafsu</em> atau <em>diri</em> manusia. Pertama Nafsul Ammarah, yang selalu mendorong akan berbuat sesuatu di luar pertimbangan akal yang tenang. Maka keraplah manusia terjerumus ke dalam lembah kesesatan karena nafsul-ammarah ini. (Lihat Surat 12, Yusuf; ayat 53).</p>
<p>Bilamana langkah telah terdorong, tibalah penyesalan diri atas diri. Itulah yang dinamai <em>Nafsul-Lawwamah</em>. Itulah yang dalam bahasa kita sehari-hari dinamai “tekanan batin”, atau merasa berdosa. <em>Nafsul-Lawwamah</em> ini dijadikan sumpah kedua oleh Allah, sesudah sumpah pertama tentang ihwal hari kiamat. (Surat 75, Al-Qiyamah ayat 2).</p>
<p>Demikian pentingnya, sampai dijadikan sumpah. Karena bila kita telah sampai kepada <em>Nafsul-Lawwamah</em>, artinya kita telah tiba dipersimpangan jalan; atau akan menjadi orang yang baik, pengalaman mengajar diri, atau menjadi orang celaka, karena sesal yang tumbuh tidak dijadikan pengajaran, lalu timbul sikap yang dinamai “keterlanjuran”.</p>
<p>Karena pengalaman dari dua tingkat nafsu itu, kita dapat naik mencapai “<em>An-Nafsul-Muthmainnah</em>”, yakni jiwa yang telah mencapai tenang dan tenteram. Jiwa yang telah digembleng oleh pengalaman dan penderitaan. Jiwa yang telah melalui berbagai jalan berliku, sehingga tidak mengeluh lagi ketika mendaki, karena di balik pendakian pasti ada penurunan. Dan tidak gembira melonjak lagi ketika menurun, karena sudah tahu pasti bahwa dibalik penurunan akan bertemu lagi pendakian. Itulah jiwa yang telah mencapai Iman! Karena telah matang oleh berbagai percobaan.</p>
<p>Jiwa inilah yang mempunyai dua sayap. Sayap pertama adalah <em>syukur</em> ketika mendapat kekayaan, bukan mendabik dada. Dan sabar ketika rezeki hanya sekedar lepas makan, bukan mengeluh. Yang keduanya telah tersebut dalam ayat 15 dan 16 tadi.</p>
<p>Jiwa inilah yang tenang menerima segala khabar gembira (basyiran) ataupun khabar yang menakutkan (nadziran).</p>
<p>Jiwa inilah yang diseru oleh ayat ini:</p>
<p>“Wahai jiwa yang telah mencapai ketentraman.” (ayat 27). Yang telah menyerah penuh dan tawakkal kepada Tuhannya: Telah tenang, karena telah mencapai yakin: terhadap Tuhan.</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Atha’: “Yaitu jiwa yang telah mencapai ma’rifat sehingga tak sabar lagi bercerai dari Tuhannya walau sekejap mata.” Tuhan itu senantiasa ada dalam ingatannya, sebagai tersebut dalam ayat 38 dari Suray 13, Ar-Ra’ad.</p>
<p>Berkata Hasan Al-Bishri tentang muthmainnah ini: “Apabila Tuhan Allah berkehendak mengambil nyawa hamba-Nya yang beriman, tenteramlah jiwanya terhadap Allah, dan tenteram pula Allah terhadapnya.”</p>
<p>Berkata sahabat Rasulullah SAW ‘Amr bin Al-‘Ash (Hadis mauquf): “Apabila seorang hamba yang beriman akan meninggal, diutus Tuhan kepadanya dua orang malaikat, dan dikirim beserta keduanya suatu bingkisan dari dalam syurga. Lalu kedua malaikat itu menyampaikan katanya: “Keluarlah, wahai jiwa yang telah mencapai keternteramannya, dengan ridha dan diridhai Allah. Keluarlah kepada Roh dan Raihan. Tuhan senang kepadamu, Tuhan tidak marah kepadamu.” Maka keluarlah Roh itu, lebih harum dari kasturi.”</p>
<p>“Kembalilah kepada Tuhanmu, dalam keadaan ridha dan diridhai.” (ayat 28). Artinya: setelah payah engkau dalam perjuangan hidup di dunia yang fana, sekarang pulanglah engkau kembali kepada Tuhanmu, dalam perasaan sangat lega karena ridha; dan Tuhan pun ridha, karena telah menyaksikan sendiri kepatuhanmu kepada_nya dan tak pernah mengeluh.</p>
<p>“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.” (ayat 29). Di sana telah menunggu hamba-hamba-Ku yang lain, yang sama taraf perjuangan hidup mereka dengan kamu; bersama-sama di tempat yang tinggi dan mulia. Bersama para Nabi, para Rasul, para shadiqqin dan syuhadaa. “<em>Wa hasuna ulaa-ika rafiiqa</em>”; Itulah semuanya yang sebaik-baik teman.</p>
<p>“Dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (ayat 30). Di situlah kamu berlepas menerima cucuran nikmat yang tiadakan putus-putus daripada Tuhan; Nikmat yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan lebih daripada apa yang dapat dikhayalkan oleh hati manusia.</p>
<p>Dan ada pula satu penafsiran yang lain dari yang lain; yaitu <em>annafs</em> diartikan dengan roh manusia, dan <em>rabbiki</em> diartikan tubuh tempat roh itu dahulunya bersarang. Maka diartikannya ayat ini: “Wahai Roh yang telah mencapai tenteram, kembalilah kamu kepada tubuhmu yang dahulu telah kamu tinggalkan ketika maut memanggil,” sebagai pemberitahu bahwa di hari kiamat nyawa dikembalikan ke tubuhnya yang asli. Penafsiran ini didasarkan kepada <em>qiraat</em> (bacaan) Ibnu Abbas, <em>Fii ‘Abdii</em> dan qiraat umum <em>Fii “Ibaadil</em>.</p>
<p><em>Wallahu A’lam Bishshawaabi.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-27-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Fajr 21 &#8211; 26</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-21-26/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-21-26/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 14:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Fajr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[INSAFILAH “Tidak sekali-kali!” (pangkal ayat 21). Samasekali sombong congkakmu di dunia itu, sikap penghinaanmu terhadap anak yatim, engganmu bersama-sama membantu makanan fakir-miski, kecurangan dan lahap seleramu memulut segala harta warisan sehingga yang berhak tak mendapat apa-apa lagi, sampai kepada loba tamakmu akan harta, sehingga dengan jalan yang keji dan nista kamu pun suka, asal harta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/fajr21-26.gif"></img></p>
<h3>INSAFILAH</h3>
<p>“Tidak sekali-kali!” (pangkal ayat 21). Samasekali sombong congkakmu di dunia itu, sikap penghinaanmu terhadap anak yatim, engganmu bersama-sama membantu makanan fakir-miski, kecurangan dan lahap seleramu memulut segala harta warisan sehingga yang berhak tak mendapat apa-apa lagi, sampai kepada loba tamakmu akan harta, sehingga dengan jalan yang keji dan nista kamu pun suka, asal harta itu kamu dapat, semuanya itu <em>tidaklah</em> akan menyelamatkan dirimu. Itu hanya laba sebentar dalam dunia. Tidak, sekali-kali tidak! Janganlah kamu harapkan itu semua akan menolongmu. Bahkan akan datang masanya; “Apabila kelak bumi ini dihancurkan, sehancur-hancurnya.” (ujung ayat 21). Sehingga bumi itu akan jadi datar pun runtuh menjadi debu atau laksana <em>saraab</em> (fatamorgana), (lihat kembali ayat 20, Surat 78, An-Naba’). Dan segala sesuatu pada berobah kepada kehancuran. Sebab kiamat sudah datang.</p>
<p>“Dan datang Tuhan engkau.” (pangkal ayat 22). Yaitu datang ketentuan dari Tuhan, bahwasanya segala perkara akan dibuka, segala manusia akan dihisab, buruk dan baik akan ditimbang. “Sedang malaikat mulai hadir berbaris-baris.” (ujung ayat 22).</p>
<p>Ditunjukkanlah di dalam ayat ini bagaimana hebatnya hari itu.</p>
<p>“Tuhan datang” – Dan hari itu bukanlah hari dunia ini lagi. Setengah Ulama tafsir memberikan arti bahwa yang datang itu ialah perintah Tuhan, bukan Tuhan sendiri.</p>
<p>Menulis Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang arti: “Dan datang Tuhan engkau.” – Kata beliau: “Yakni kedatangan-Nya karena akan memutuskan perkara-perkara di antara hamba-hamba-Nya. Yang demikian itu ialah setelah semuanya memohonkan syafa’at daripada Tuhannya seluruh Anak Adam, yaitu Nabi Muhammad SAW, yaitu sesudah mereka itu semua pada mulanya memohonkan pertolongan syafa’at daripada sekalian <em>Rasul-rasul yang terutama</em>, seorang sesudah seorang; semuanya menjawab mengatakan aku ini tidaklah layak untuk itu, sehingga sampailah giliran kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau berkata: “Akulah yang akan membela! Akulah yang akan membela!” Maka pergilah Muhammad menghadap Tuhan, memohonkan Tuhan memutuskan perkara-perkara itu, lalu Tuhan memberikan syafa’at yang dimohonkannya itu. Itulah permulaan syafa’at dan itulah “maqaaman-mahmuudan” sebagai yang tersebut di dalam Surat Al-Isra’ (tengok Juzu’ 15). Maka datanglah Tuhan untuk mengambil keputusan perkara-perkara itu, sedang malaikat-malaikat pun hadirlah berbaris-baris dengan segala hormatnya di hadapan Tuhan.</p>
<p>Di dalam ayat 38, daripada Surat 78, An-Naba’ pun disebutkan bagaimana sikap hormat para malaikat itu di hadapan Tuhan, tak seorang jua pun yang berani berkata mengangkat lidah sebelum mendapat izin dari Tuhan.</p>
<p>Berkata Az-Zamakhsyari: “Diumpamakan keadaannya dengan kehadiran raja sendiri kepada suatu majlis; maka timbulah suatu kehebatan dan ketinggian siasat, yang tidak akan didapat kalau yang hadir itu cuma pimpinan tentara atau menteri-menteri saja.”</p>
<p>Tidaklah perlu kita perbincangkan terlalu panjang hal yang disebutkan tentang kehadiran Tuhan di dalam Al-Qur’an. Melainkan wajiblah kita mempercayainya dengan tidak memberikan lagi keterangan lebih terperinci, di dalam alam dunia yang kita hidup sekarang ini.</p>
<p>“Dan akan didatangkan pada hari itu neraka jahannam.” (pangkal ayat 23). Oleh karena neraka jahannam itu adalah satu di antara berbagai-bagai makhluk Tuhan Yang Maha Besar Maha Agung, niscaya berkuasalah Tuhan mendatangkan neraka jahannam itu, dengan alat-alat kekuasaan yang ada pada-Nya. Sehingga segala makhluk dapat melihatnya dengan jelas, dan orang kafir mengerti sendiri bahwa ke sanalah mereka akan dihalau. Di dalam Surat 79, An-Nazi’at yang telah lalu, ayat 36 disebutkan bahwa neraka <em>Jahim</em> akan ditonjolkan! “Pada hari itu teringatlah manusia, padahal apa gunanya peringatan lagi?” (ujung ayat 23). Pada hari itu baru timbul sesal; padahal apalah gunanya penyesalan lagi; roda hidup tak dapat lagi diputar ke belakang. Yang dihadapi sekarang adalah hasil kelalaian di zaman lampau.</p>
<p>“Dia akan berkata: “Wahai, alangkah baiknya jika aku dari semula telah bersedia untuk penghidupanku ini.” (ayat 24).</p>
<p>Itulah satu keluhan penyesalan atas sesuatu yang tidak akan dapat dicapai lagi. <em>Huruf Laita</em> dalam bahasa Arab disebut <em>Huruf Tamanni</em>, yaitu mengeluh mengharap sesuatu yang tidak akan dapat dicapai lagi. Karena waktunya telah berlalu. “Kalau aku tahu akan begini nasibku, mengapa tidak sejak dahulu, waktu di dunia, aku berusaha agar mencapai hidup bahagia di hari ini. Padahal kalau aku mau mengatur hidup demikian di dunia dahulu, aku akan bisa saja.”</p>
<p>Itulah sesalan yang percuma di hari nanti. Dan itu pula sebabnya maka Nabi-nabi disuruh memperingatkan dari sekarang. Karena perintah-perintah Al-Qur’an adalah untuk dilaksanakan di sini, dan terima pahalanya di akhirat; bukan sebaliknya.</p>
<p>“Maka pada hari itu, tidak ada siapacpun akan dapat mengazab seperti azab-Nya.” (ayat 25). “Dan tidak siapa pun akan dapat mengikat seperti ikatan-Nya.” (ayat 26).</p>
<p>Ini adala Azab Tuhan, buka Azab seorang makhluk bagaimanapun kuat kuasanya. Ikatan belenggu Tuhan, yang tidak ada satu belenggu pun dalam dunia ini yang akan dapat menandingi belenggu Tuhan itu.</p>
<p>Maka ngeri dan tafakkurlah kita memikirkan hari itu; hari yang benar dan termasuk dalam bahagian terpenting dari Iman kita, sesudah percaya kepada Allah. Dan terasalah pada kita bahwa tidak ada tempat berlindung daripada murka Allah, melainkan kepada Allah jua kita berbuat.</p>
<p>Dalam suasana yang demikian itu kita bacalah ayat yang seterusnya. Ayat penutup Surat dan ayat memberikan pengharapan kepada jiwa yang telah mencapai ketenteramannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-21-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Fajr 17 &#8211; 20</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-17-20/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-17-20/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 14:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Fajr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam ayat-ayat ini diuraikan “penyakit” jiwa manusia bilamana tidak ada Iman. Yang mereka pentingkan hanya diri sendiri. Dia tidak mempunyai rasa belas-kasihan; “Tidak sekali-kali! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.” (ayat 17). “Tidak sekali-kali maksudnya ialah bantahan pembelaan diri setengah orang, bahwa mereka kalau kaya akan banyak berbuat baik. Kalau miskin akan sabar menderita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/fajr17-20.gif"></img></p>
<p>Di dalam ayat-ayat ini diuraikan “penyakit” jiwa manusia bilamana tidak ada Iman. Yang mereka pentingkan hanya diri sendiri. Dia tidak mempunyai rasa belas-kasihan; “Tidak sekali-kali! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.” (ayat 17).</p>
<p>“Tidak sekali-kali maksudnya ialah bantahan pembelaan diri setengah orang, bahwa mereka kalau kaya akan banyak berbuat baik. Kalau miskin akan sabar menderita. Samasekali itu adalah “omong kosong”. Sebab sifat-sifat yang baik, kelakuan yang terpuji tidaklah akan subur dalam jiwa kalau Iman tidak ada. Kalau dia telah kaya, dia tidak lagi akan merasa belas-kasihan kepada anak yatim. Sebab dia hanya memikirkan dirinya, tidak memikirkan orang lain. Sebab dia tidak pernah memikirkan bagaimana kalau dia sendiri mati, dan anaknya tinggal kecil-kecil. “Dan kamu tidak ajak-mengajak atas memberi makan orang miskin.” (ayat 18).</p>
<p>Di dalam dua ayat ini bertemu dua kalimat penting, yang timbul dari hasil Iman. Pertama ialah memuliakan anak yatim. Memuliakan adalah lawan dari <em>menghinakan</em>, yaitu menganggapnya rendah, hanya separuh manusia, sebab tidak ada lagi orang yang mengasuhnya. Atau diasuh juga anak yatim itu tetapi direndahkannya, dipandang sebagai budak belian saja. Ini bukanlah perangai orang Mu’min.</p>
<p>Kedua ialah kalimat <em>ajak-mengajak</em>. Dalam kalimat ini terdapat pikulan bersama, bukan pikulan sendiri. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”</p>
<p>Seorang Ulama Besar, Ibnu Hazm Al-Andalusi pernah menyatakan bahwa jika terdapat seseorang mati tidak makan pada satu qaryah (kampung), maka yang bertanggung jawab ialah orang sekampung itu. Dalam hukum Islam seluruh isi kampung diwajibkan membayar diyat atas kematian si miskin itu. Karena memberi makan <em>fakir-miskin</em> adalah kewajiban mereka bersama. Si miskin berhak menerima bahagian dari zakat.</p>
<p>“Dan kamu makan harta warisan orang; makan sampai licin.” (ayat 19). Ini pun rentetan dari dada yang kosong dari iman dan petunjuk itu. Dada yang penuh dengan kufur. Mereka terima harta warisan dari saudaranya yang telah wafat, lalu dimakannya sendiri dengan lahapnya, sampai licin tandas; sedang waris yang berhak, baik isterinya atau anak-anaknya yang masih kecil, tidak mendapat. Inilah yang banyak kejadian pada bangsa Arab di zaman Jahiliyah. Kadang-kadang janda dari si mati, atau yatim anak perempuan yang masih gadis, dijadikan sebagai “waris” pula, diambil alih kekuasaan oleh laki-laki yang dewasa, yang mengakui dirinya kepala waris. Bersama-sama dengan harta si mati orang-orang yang dalam kesedihan itu diboyong semua ke rumah yang menyambut waris. Untuk dikuasai hartanya dan dikuasai dirinya. Kadang-kadang ditahan-tahannya akan kawin lagi, karena merugikan bagi si pemboyong waris itu.</p>
<p>Setelah hijrah ke Madinah, Agama Islam mengatur pembahagian warisan (faraidh) dan perempuan mendapat hak pula sebagai laki-laki.</p>
<p>“Dan kamu suka sekali-kali akan harta, kesukaan sampai keji.” (ayat 20). Di mana saja pintunya, akan kamu hantam pintu itu sampai terbuka, kalau di dalamnya ada harta. Halal dan haram tak perduli. Menipu dan mengecoh tak dihitung. Menjual negeri dan bangsa pun kamu mau, asal dapat duit. Menjual rahasia negara pun kamu tidak keberatan, asal uang masuk. Malah membuka perusahaan yang penuh dengan dosa; sebagai perusahaan pelacuran perempuan, membuka rumah perjudian, menjual barang-barang yang merusak budi pekerti manusia, bahkan apa saja, kamu tidak keberatan asal hartamu bertambah.</p>
<p>Inilah celakanya kalau hidup tidak ada tuntunan Iman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-17-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Fajr 15 -16</title>
		<link>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-15-16/</link>
		<comments>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-15-16/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 14:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>omipit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Fajr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tafsir.cahcepu.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[KALAU IMAN TIDAK ADA Pada kedua ayat ini digambarkan jiwa manusia bila Iman tidak ada; “Maka adapun manusia itu, apabila diberi percobaan akan dia oleh Tuhannya, yaitu diberi-Nya dia kemuliaan dan diberi-Nya dia nikmat.” (pangkal ayat 15). Diberi dia kekayaan atau pangkat tinggi, disegani orang dan mendapat kedudukan yang tertonjol dalam masyarakat; yang di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omipit.files.wordpress.com/2010/10/fajr15-16.gif"></img></p>
<h3>KALAU IMAN TIDAK ADA</h3>
<p>Pada kedua ayat ini digambarkan jiwa manusia bila Iman tidak ada; “Maka adapun manusia itu, apabila diberi percobaan akan dia oleh Tuhannya, yaitu diberi-Nya dia kemuliaan dan diberi-Nya dia nikmat.” (pangkal ayat 15). Diberi dia kekayaan atau pangkat tinggi, disegani orang dan mendapat kedudukan yang tertonjol dalam masyarakat; yang di dalam ayat itu disebutkan bahwa semuanya itu adalah <em>cobaan</em>; “Maka berkatalah dia: “Tuhanku telah memuliakan daku.” (ujung ayat 15). Mulailah dia mendabik dada, membanggakan diri, bahwa Tuhan telah memuliakan dia. Dia masih menyebut nama Tuhan, tetapi bukan dari rasa Iman. Sehingga kalau kiranya datang orang minta tolong kepadanya, orang itu akan diusirnya, karena merasa bahwa dirinya telah diistimewakan Tuhan.</p>
<p>“Dan adapun apabila Tuhannya memberikan percobaan kepadanya, yaitu dijangkakan-Nya rezekinya.” (pangkal ayat 16). Dijangkakan, atau diagakkan, atau dibatasi; dapat hanya sekedar penahan jangan mati saja. Kehidupan miskin, dapat sekedar akan dimakan, dan itu pun payah; “Maka dia berkata: “Tuhanku telah menghinakan daku.” (ujung ayat 16).</p>
<p>Di dalam ayat ini bertemu sekali lagi bahwa kemiskinan itu pun <em>cobaan</em> Tuhan juga. Kaya percobaan, miskin pun percobaan.</p>
<p>Dalam Surat 21, Al-Anbiya’ ayat 35 ada tersebut:</p>
<blockquote><p>“Tiap-tiap diri akan merasakan mati, dan Kami timpakan kepada kamu kejahatan dan kebaikan sebagai ujian; dan kepada Kamilah kamu semua akan kembali.”</p></blockquote>
<p>Buruk dan baik semuanya adalah ujian. Kaya atau miskin pun ujian. Kalau Allah memberikan anugerah kekayaan berlimpah-ruah, tetapi alat penyambut kekayaan itu tidak ada, yaitu <em>Iman</em>; maka kekayaan yang melimpah-ruah itu akan membawa diri si kaya ke dalam kesengsaraan rohani. Harta yang banyak itu akan jadi alat baginya menimbun-nimbun dosa.</p>
<p>Sebaliknya orang miskin, hidup hanya sekedar akan dimakan. Kalau alat penyambut kemiskinan itu tidak ada, yaitu Iman; maka kemiskinan itu pun akan membawanya menjadi kafir! Asal perutnya berisi, tidak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram.</p>
<p>Oleh sebab itu dapatlah kita lihat di kota-kota besar sebagai Jakarta dan kota-kota lain; ada orang yang mengendarai mobilnya dengan sombong, dengan kaki tidak berjejak di tanah, tidak tahu dia ke mana rezeki yang banyak itu hendak dibelanjakannya. Lalu dia pun lewat di atas jembatan. Di bawah jembatan tadi kelihatan orang-orag yang tidak ada rumah tempat tinggalnya lagi, tidur dengan enaknya siang hari. Karena jika hari telah malam, yang laki-laki pergi menggarong dan yang perempuan pergi menjual diri. Namun nilai di sisi Tuhan di antara yang berbangga berpongah di atas mobil mengkilap itu sama saja dengan yang tidur di bawah jembatan. Keduanya tidak ada alas Iman dalam hatinya untuk menerima <em>percobaan</em> rezeki melimpah atau rezeki terbatas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tafsir.cahcepu.com/alfajr/al-fajr-15-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

